Now Loading

BAB XII. LUBANG HITAM (BAGIAN 1)

“Dia gila,” kata Petrus beberapa menit kemudian.

Devi tidak menanggapi perkataannya. Dia menanti suara tembakan. Petrus berlutut dan menarik lengan baju Devi agar mengikutinya. "Kita harus saling memunggungi," katanya. "Dengan cara itu kita memiliki mata di mana-mana."

Devi menurut. Dia heran, tidak ada lagi Pengawas yang berpatroli. Mungkin sudah lama tak ada pelanggaran, pikirnya.

Dia mendengar Petrus mengokang senjatanya dan melakukan hal yang sama.

“Apakah mesin itu benar-benar ada di sana?” tanyanya.

Devi merasakan kepala Petrus mengangguk di belakangnya. “Betul, sayang. Dan dijaga dua puluh empat jam sehari tujuh hari seminggu. Yang pertama kali diajarkan dalam pelatihan. Shift bergantian setiap delapan jam, kami harus melindungi KHAN22 atau dieksekusi.”

Devi berpikir sejenak. “Tapi aku tidak mengerti. Mengapa mesin itu tidak dimatikan saja? Maksudku, dihancurkan dengan cara apapun. Kemudian, kita semua hidup seperti nenekku, bahagia.”

Devi merasa Petrus memiringkan kepalanya.

“Begini, sayang. Tidak mungkin ada Pengawas yang akan membiarkan mesin itu dihancurkan. Mematuhi KHAN22 adalah satu-satunya tugas yang mereka tahu. Dari dulu sampai sekarang merupakan satu-satunya tujuan hidup Pengawas. Oh, tentu ada beberapa yang masih mempunyai sifat manusia. Tapi itu sedikit dan sangat jarang, percayalah. Para Pengawas tahu bahwa mesin bodoh itulah yang melindungi mereka, membuat mereka tetap berkuasa. Pengawas-lah mesin itu sendiri. Mereka beroperasi seperti komputer, dan kebanyakan dari mereka tidak punya akal dan perasaan. KHAN22 memberitahu mereka apa yang harus dilakukan.”

“Dan apa yang akan terjadi setelah komputer dihancurkan?” tanya Devi.

“Begini. Aku dan kawan-kawan selalu berpikir bahwa jika tidak ada lagi yang mengeluarkan perintah dan undang-undang baru, para Pengawas akan menjadi gila. Mereka tidak akan memiliki kekuatan lagi untuk memberitahu siapa pun tentang apa pun. Listrik akan padam total. Tidak ada informasi, tidak ada peringatan, dan tidak ada rekrutan baru Pengawas. Kami hanya berpikir bahwa jika mesin itu disingkirkan, Pengawas menyusul. Mereka bergantung pada KHAN22 untuk memberitahu kapan harus be—ehm—kapan harus ke kamar mandi, jika kamu tahu apa yang kumaksud.”

Devi merenungkan apa yang dikatakan Petrus. Mau tak mau dia teringat Pengawas yang tewas saat pertarungan kemarin. Anak-anak.

“Jadi seumur hidup mereka hanya mengikuti perintah?” dia bertanya.

“Ya, itulah kelebihan mereka, orang gila mabuk," jawab Petrus. “Mereka bukan manusia. Sialan, aku berharap Arsanto tidak masuk ke sana sendirian.”

Terdengar suara gemerisik tak jauh dari mereka. Devi bisa mendengar ranting-ranting patah dan tahu ada yang mendekat. Jantungnya terasa bagai panas berdegup kencang di dadanya. Tanpa berpikir, dia menembakkan senjatanya ke arah suara.

DOR!

Hentakan balik senjatanya melontarkannya ke belakang dan dia jatuh menimpa Petrus, yang melompat dan meraih Devi, menempatkannya di balik punggungnya.

Suara langkah telah berhenti disusul suara benda jatuh di rumput.

Petrus berjalan perlahan ke arah tembakan Devi. Dia berhenti di depan sesosok tubuh. Seorang Pengawas.

Dia menendang untuk memastikan bahwa sosok itu sudah tak bernyawa, lalu melepaskan tudungnya. Tembakan Devi telah menghancurkan setengah tengkorak kepalanya, dan ketika Petrus melepas tudung, serpihan kulit dan otak ikut terbawa.

Petrus mengamati wajah pria itu sejenak dan menghela nafas lega. "Bukan Arsanto. Tembakan yang luar biasa, tepat sasaran."

Petrus melihat sekeliling dan memiringkan kepalanya, mendengarkan. “Yang ini bepergian sendirian. Sebaiknya kita segera bergerak, siapa yang tahu kapan yang lain akan datang."

Devi menatap wajah orang mati di depannya. Mata si mayat terbuka, dan Devi menyadari bahwa dia akrab dengan tatapan si mati yang berwarna kelabu gelap dan menakutkan. Dia tahu bahwa ini adalah Pengawas yang datang ke rumahnya beberapa hari yang lalu untuk menguji tingkat gizinya.

“Dia dari Barak F,” katanya sambil mengamati mayat Pengawas.