Now Loading

BAB XI. KAMP 13 (BAGIAN 2)

“Tambah lagi, Nyonya?”

Petrus menyodorkan potongan daging kelinci kepada Devi, yang mengangkat tangannya sebagai isyarat menolak. Ketiganya berhenti satu kilometer dari tujuan mereka untuk makan siang.

“Aku tidak percaya kita makan ini." Arsanto meletakkan bagiannya.

“Bertahun-tahun makan racun pemberian pemerintah yang menyebabkan otakmu rusak, dan sekarang daging segar malah menghilangkan nafsu makanmu?”

"Jujur, ya. Aku tak suka makananku melihat balik saat aku memakannya."

“Aku yang membunuhnya dan aku yang menyembelihnya, memotong-motong jadi beberapa bagian. Kamu bilang tidak peduli bagian mana yang kamu dapatkan,” kata Petrus sambil menyeka darah kelinci dari bibirnya.

"Sorry, tapi kenyataan yang kau makan itu daging mentah yang menggangguku." Arsanto melihat dengan jijik.

“Sorry, Dok, tapi kita harus makan.”

Devi hanya bisa makan setengah dari porsinya. Sarafnya menghalangi rasa lapar yang mungkin seharusnya dia rasakan.

Petrus menghabiskan jatahnya lalu bersendawa keras.

“Oke, pesta sudah berakhir, saatnya memakai jubah. Kita sudah sangat dekat. Aku bisa mencium bau busuk monster-monster sialan itu."

***

Perjalanan satu kilometer berikutnya merupakan siksaan bagi Devi. Kepalanya sakit dan perutnya meloyo karena tekstur daging yang tidak dikenali oleh sistem pencernaannya. Jubahnya kebesaran, dan meskipun sudah dipendekkan pada bagian bawah, benda itu masih menyeretnya ke belakang dan membebani dia.

Petrus berada satu langkah di depan Devi dan Arsanto. Tidak ada yang bicara. Sejujurnya, mereka semua ketakutan. Devi bisa merasakannya. Napas Petrus terdengar berat dari balik tudungnya, dan Arsanto menundukkan kepalanya seolah-olah sedang berdoa dalam hati.

Akhirnya, Petrus berhenti dan mengangkat tangannya sebagai isyarat agar teman-temannya mengikutinya.

“Kita sudah sampai,” bisiknya.

Mereka berada di jalan terlihat telah ditinggalkan lama. Tidak ada jejak kaki atau tanda kehidupan di mana pun. Di depan mereka berdiri sebuah bangunan putih besar dan megah dengan pilar-pilar besar di teras depan. Devi mengagumi ukuran bangunan itu melalui kerudungnya, yang belum pernah dilihatnya sebelumnya. Setidaknya dua puluh kali ukuran bangunan di Barak F.

“Bagaimana caranya kita masuk?” tanyanya.

Petrus melepas tudung kepalanya dan memandang Devi dengan tatapan cemas. Dia menarik napas dan melihat dari dia ke gedung dan kembali menatap Devi.

"Devi ... kurasa hanya Arsanto dan aku yang pergi ke sana."

Devi melepaskan tudungnya sendiri dengan marah. "Kamu serius? Kalian tidak bisa meninggalkanku di sini!"

Petrus meletakkan tangannya di pundak gadis itu. “Sayang, ini untuk keamananmu sendiri. Jika kamu tetap di sini, ada ... ada peluang lebih baik kamu akan tetap hidup.”

Devi menyilangkan lengannya dan menatap Petrus dengan tatapan dingin. "Tidak."

"Devi, ini bukan waktunya untuk bertingkah seperti anak kecil. Jika kita bertiga masuk ke sana, seseorang akan melihat bahwa salah satu dari kita terlalu berbeda. Kamu akan menjadi Pengawas terpendek dan mereka—”

Kata-kata Petrus tersangkut di tenggorokannya, tetapi dia melanjutkan. “Mereka akan membunuhmu seketika. Dan aku takkan mampu menyaksikannya. Yang kutahu kamu akan lebih aman di sini. Tidak ada Pengawas yang berpatroli sejauh ini dari Kamp 13. Hari sudah gelap dan kamu bisa bersembunyi, setidaknya sampai matahari terbit.”

Arsanto yang diam tak bersuara dari tadi, mendongakkan kepala.

“Kalian berdua tinggal.”

Petrus dan Devi serempak memandang Arsanto. “Apa katamu?” tanya Petrus.

“Kalian berdua harus tinggal. Dengar ...kita tidak tahu apa yang ada di sana. Sepanjang yang kita tahu, segera setelah mencapai satu meter dari tempat itu, kita semua bisa dibunuh. Sebaiknya biar aku yang pergi duluan. Setidaknya lihat saja apakah aku bisa masuk. Jujur saja, Petrus ...dari kita berdua, kurasa aku punya alasan paling sedikit untuk tinggal.” Arsanto menganggukkan kepalanya ke arah Devi.

Petrus membuka mulutnya untuk menjawab, tetapi Arsanto mengangkat tangannya.

“Jangan berdebat denganku, kawan. Aku akan masuk, kamu dan Devi akan tetap di sini. Berjanjilah padaku kau akan tinggal, setidaknya untuk sementara. Biarkan aku melihat apakah di sana aman.”

Arsanto menunggu jawaban mereka dengan sabar.

“Baiklah,” jawab Petrus. “Kami akan tinggal. Tapi jika kami mendengar sesuatu yang menandakan kamu sedang dalam masalah… ”

Arsanto mengangkat tangannya lagi. "Stop. Dengar ... jika ini—jika ini terakhir kali kita bertemu ... merupakan kehormatan untukku berjuang bersama kalian."

Dengan itu, Arsanto menegakkan punggungnya, dan mengayunkan senjatanya ke depan, memegangnya seperti seorang Pengawas. Tanpa menoleh ke belakang, dia melangkah menuju halaman gedung putih. Jika dia gugup maka dia tidak menunjukkannya.

Devi ketakutan melihat temannya itu tampak seperti para Pengawas yang dia temui di masa lalu.

Gadis itu hampir menjerit ketika pintu gedung terbuka dan dua Pengawas melangkah keluar. Dia menyaksikan mereka melewati Arsanto tanpa insiden sama sekali. Devi dan Petrus menarik napas lega saat melihat Arsanto membuka pintu dan masuk.