Now Loading

Renata Ikut Menghilang

"Miss Liz. Saya menyusul Bryan!" laki-laki berkumis tebal itu berkata dengan suara tegas meski terdengar agak gugup. Aku tahu apa yang tengah dipikirkannya. Jelas sekali Tuan Barry merasa sungkan karena bertamu malam-malam di kediaman seorang gadis. Meski gadis itu adalah guru anaknya sendiri.

"Maafkan saya, Miss Liz. Saya terpaksa datang kemari karena tidak tega mendengar istri saya terus menerus mengkhawatirkan keselamatan Bryan."

"Oh, tidak apa-apa, Tuan Barry. Saya sangat maklum."

"Jadi --- di mana sekarang anak bandel itu?"

Baru saja aku hendak mencari suatu alasan, tiba-tiba kudengar suara Renata berseru lantang dari dalam kamar.

"Bryan! Buruan! Pukul dua belas semua harus sudah rampung!"

Seruan itu membuat Tuan Barry melirik sekilas ke arah arloji di pergelangan tangannya.

"Oh, mereka masih mengerjakan tugas? Sekarang baru pukul sepuluh. Sebaiknya saya pamit pulang. Nanti saya akan kembali sekitar pukul dua belas," Tuan Barry mengangguk hormat ke arahku.

"Sebaiknya memang begitu, Tuan Barry. Anak Anda sangat rajin. Ia banyak membantu saya mempersiapkan kebutuhan lomba kelas. Saya berjanji akan menelpon Anda jika semua sudah selesai," aku membalas anggukan lelaki setengah umur itu.

Tuan Barry pamit pergi. Dan, kepergiannya tentu saja membuatku bernapas lega.

Aku menutup pintu ruang tamu, kembali masuk ke dalam kamar untuk menemui Renata. Aku ingin mengucap terima kasih. Gadis pintar itu telah berhasil mengalihkan perhatian Tuan Barry meski hanya untuk sementara waktu.

Tapi aku sangat terkejut. Kamarku terlihat kosong.

Renata?

Ia sudah tidak terlihat lagi di sana!

***
Aku belum bergeming dari tempatku berdiri. Masih termangu menatap kursi yang beberapa waktu lalu sempat diduduki oleh murid kesayanganku itu.

Kemana perginya Renata?

Sesaat rasa was-was menyelinap. Jangan-jangan Renata ikut terperangkap di dunia kegelapan yang dikuasai oleh Lady Bathory. Atau...

Oh, tidak! Aku harus  menepis segala prasangka buruk. Aku berharap tidak terjadi apa-apa pada kedua muridku itu.

Aku berjalan ke arah sudut kamar. Menyentuh lukisan Kakek yang terpampang pada dinding di dekat jendela.

"Kakek, pensil itu ternyata menimbulkan banyak kesulitan. Mengapa Kakek mewariskannya padaku?" setengah mengeluh aku menatap wajah tua berkacamata minus dalam lukisan itu.

Entah hanya halusianasi atau apa, tiba-tiba saja wajah Kakek bergerak-gerak. Aku juga melihat tangan Kakek terulur lalu mengelus lembut pipiku yang dingin.

"Liz, jangan bersedih. Semua akan baik-baik saja," suara Kakek berusaha menenangkanku.

"Bagaimana aku bisa merasa baik-baik? Sementara dua muridku tidak kuketahui keberadaannya!"

"Kau cobalah mengingat sesuatu, Liz!" suara Kakek terdengar lagi.

"Mengingat apa, Kek?"

"Kidung yang sering kulantunkan ketika kamu masih kecil."

Seketika keningku berkerut.

"Kidung yang mana?" aku bertanya lirih.

"Durma, Liz.  Lingsir Wengi...."