Now Loading

BAB XI. KAMP 13 (BAGIAN 1)

Tiga anak manusia duduk diam selama berjam-jam.

Air mata Devi menetes ke tangan Hasmi yang masih digenggamnya.

"Kita harus melakukan sesuatu untuknya," kata Devi.

"Apa yang bisa kita lakukan?" tanya Petrus dengan putus asa.

“Sebaiknya kita memberinya penguburan yang layak. Dia pantas mendapatkannya."

Arsanto menatap Devi. "Aku suka ide itu. Ayo kita bawa dia ke batas bukit bertemu dengan hutan."

Petrus mengangguk, sambil memegang pelipisnya. "Aku tidak percaya dia sudah tiada."

***

Devi berdiri bersama Petrus dan Arsanto di atas lubang yang mereka gali dengan tangan mereka sendiri. Di dalamnya terbaring sahabat mereka yang telah gugur, terbungkus seprai yang mereka temukan di tempat tidur dalam bangunan rumah. Kepala mereka semua tertunduk, dan tangan mereka disilangkan.

“Sepatah dua patah kata?” Arsanto tidak bertanya secara khusus ke Petrus atau Devi.

“Ini salahku,” kata Petrus. “Jika aku mengetahui ada Pengawas di sana, kita tidak akan masuk …”

“Diam. Itu bukan salah siapa-siapa kecuali salah mereka. Kau tidak membunuhnya, mereka yang membunuhnya. Jangan khawatir kawan,” Arsanto berbicara kepada jenazah. “Kami akan membalaskannya untukmu.”

Devi melihat ke dalam kuburan, dia telah berdoa dalam diam sepanjang waktu. Gadis itu merogoh sakunya dan mengambil keping uang logam. Sambil membungkuk, dia meletakkannya di dada Hasmi.

***

Setelah pemakaman, ketiganya berjalan kembali melintasi Barak Pelatihan. Berjalan dalam diam, semua tenggelam dalam pikiran mereka masing-masing. Petrus membawa dua senapan yang disampirkan di bahukiri dan kanan. Arsanto memegang senapan dan pistol yang dijinjing kedua, dan Devi masih mencoba mencari tahu tentang miliknya.

Petrus bangkit sejenak ketika mereka mencapai ujung terjauh Barak.

"Sayang, aku akan mengajarimu cara menggunakan benda itu."

Dia melangkah ke arahnya dan meletakkan tangannya melingkar memeluk Devi dengan pistol dipegang bersama.

“Kamu melihat pohon itu?”

"Iya."

"Baik.Sekarang jempol kamu seperti ini ...," dia meletakkan ibu jarinya di atas jempol Devi dan menarik kembali tuas kecil di bagian atas pistol. "Dan taruh jarimu seperti ini ...," dia meletakkan jari telunjuknya di pelatuk. "Tekan!"


Devi menggerakkan telunjuknya, dan terdengar letusan bersamaan dengan peluru yang meluncur menghantam batang pohon. Tubuhnya terdorong ke belakang, tapi dia merasa sensasi yang menyenangkan. Lengannya bergetar.

"Nah, gampang, kan?"

Petrus memeluk Devi untuk menenangkannya, dan kemudian melepaskannya setelah gemetar gadis itu mereda.

“Bagus. Jadi Sekarang kita semua adalah mesin pembunuh," kata Arsanto.

“Belum ada apa-apanya dibandingkan dengan apa yang akan kita hadapi. Kamp 13 sarang lebah para Pengawas.”

“Ya, aku tahu, makanya aku membawa ini.”

Arsanto menarik empat bungkusan dari balik jubahnya dan melemparkannya ke tanah.

“Oh, aku lupa bahwa kita hanya butuh tiga.”

"Apa ini?" Petrus membungkuk dan mengambil salah satunya.

“Aku mengambilnya dari barak pelatihan sebelum kita pergi. Ada satu lemari penuh."

Petrus merobek salah satu bungkusan itu, dan menemukan sehelai jubah hitam panjang. Jubah Pengawas.

"Aku tidak mengira akan memakai ini lagi."

“Yeah… aku juga.” Arsanto menampakkan ekspresi jijik.

"Aku tahu kita tidak jauh dari Kamp 13 ... tapi apa kita harus memakai ini?"

"Lebih cepat lebih baik. Devi, agak kebesaran, aku yakin kita bisa melakukan sesuatu untuk membuat milikmu lebih pas. Kamu masih punya pisau?”

Devi sedang menatap jubah di tangan Petrus. Perutnya melilit dan dia merasakan emosinya bergejolak. Tidak mungkin dia akan mengenakan pakaian yang dikenakan oleh monster yang merenggut nyawa dua orang yang disayanginya.

“Aku tidak mau memakai itu.”

“Oh sayang, aku tahu. Jubah itu lebih cocok di badan Pengawas yang sudah mati, tapi kita perlu memakainya. Memberi waktu yang kita butuhkan, dan bahkan mungkin membantu kita masuk ke Kamp 13.”

Devi bersikeras. Dia menyilangkan lengannya dan menggelengkan kepalanya.

"Devi, tolong dipikirkan lagi. Kita perlu akses untuk melakukan apa yang perlu dilakukan, Nak," bujuk Arsanto.

“Dan apa sebenarnya yang perlu dilakukan, Dokter? Aku ingin tahu, singkat saja. Apa yang akan kita lakukan saat kita sampai di sana?"

Gadis itu menatap Arsanto dengan alisnya berkerut dengan ekspresi teguh menanti jawaban di wajahnya.

Kedua pria itu menatapnya dengan mulut terbuka. Petrus bersuara lebih dulu.

“Sejujurnya, sayang ... aku tak tahu. Aku tahu bahwa kita ingin mendapatkan mesin itu—KHAN22. Kita ingin menghancurkannya. Mesin itu yang memberi perintah, membuat undang-undang, mengatur hidup mati manusia. Jika kita menyingkirkannya, mungkin masih ada harapan untuk apa yang tersisa di bumi ini. Kalaupun gagal menemukannya—aku tak tahu—aku akan membuat Kamp 13 rata dengan tanah."

Petrus menunduk. "Tapi aku sungguh-sungguh tidak tahu apa yang akan kita hadapi, sayang."

Kemudian dia menatap mata Devi, memohon, “Tolong pakai jubah itu, sayang. Itu satu-satunya cara agar aku merasa aman. Aku tidak akan membiarkan orang lain terbunuh.”

Devi menatap bungkusan yang tergeletak di tanah. "Baik."

Arsanto mengambil paketnya dan menyobek plastik pembungkus. “Kita mungkin bisa berjalan sedikit lebih jauh sebelum harus memakainya. Masih berapa jauh lagi menurutmu, Pet?"

Petrus menyipitkan matanya dan meletakkan tangan horisontal di atas alis, melihat ke timur.

“Tiga kilometer lagi.”