Now Loading

Puncak Pertarungan

Prabangkara benar - benar seperti telik sandi yang jago menyamar, ia hampir tidak dikenal oleh para preman dan gerombolan itu. Dengan baju yang dikenakan Gaprul dan kebetulan keadaan hanya remang- remang maka ia benar benar tidak dikira Gaprul. Dengan cukup leluasa Prabangkara bisa melihat betapa luar biasa biadapnya ritual yang dilakukan orang – orang yang sudah lupa akan rasa kemanusiaannya.

Ingin rasanya segera menghajar orang - orang, namun ia mesti bersabar. Ia punya strategi, punya pasukan telik sandi, punya prajurit bawah tanah yang sebentar lagi akan bergerak. Ia akan melihat tempat - tempat yang lemah dalam pengawasan dan memastikan untuk melumpuhkan benteng yang tidak terlihat yang membuat orang biasa susah menembus tempat ini. Pasukan dari pusat pemerintahan secara sesideman telah bergerak. Iya meyakinkan dengan memberi kode khusus dengan suara serangga, atau suara burung untuk memberi instruksi bergerak maju.

Bersaut - sautan suara burung. Dan sesekali sendaren yang mendengung, tapi tentunya sendaren hanya terdengar sesekali untuk memberi kode pasukan yang cukup jauh dari tempat itu.

Prabangkara terus berkeliling. Untuk memastikan aman sementara ia kembali ke tempat Esti Pinilih.

***

Ketika Prabangkara bergabung dengan gerombolan tersebut Esti Pinilih bersembunyi di belakang pohon, Meskipun mempunyai kemampuan bela diri yang cukup, ia tidak akan gegabah untuk sok berani. Terus terang Esti Pinilih tidak begitu kenal dengan tempat persembunyiannya. Ketika beberapa orang mondar – mandir di depan persembunyiannya. Esti Pinilih menahan nafas. Ia tidak ingin ada yang mengenali dia dengan nafas yang tersengal.

Seseorang berhenti dan merasa curiga, karena dari gelagatnya ia merasa ada yang mengamati dari balik pohon.

“Prot, aku merasa ada orang dekat sini. Dari hawa tubuhnya ia perempuan…dan bukan satu orang saja aku kira...”

“Ah, hidungmu tajam banget kalau perempuan Nyamplung.”

“Sepertinya aku kenal dengan bau - bau perempuan ini, hahahaha.”

Sekilas Esti Pinilih mendengar pembicaraan orang - orang di depannya. Ia mengenal suara itu..iya yakin mereka yang telah menculiknya. Esti Pinilih benar - benar tegang, karena sekali ia ketahuan bersembunyi di balik pohon, tamat riwayatnya, mereka akan menggelandang dan membawa ke orang - orang yang sudah dibutakan oleh kuasa iblis.

Tiba - tiba saja ada serangga masuk dalam bajunya. Esti Pinilih kaget dan sempat menjerit lirih. Orang yang bernama Nyamplung itu langsung menoleh ke arah pohon. Ia mendengar jerit itu meskipun hanya lirih. Kupingnya cukup peka oleh suara perempuan. Nyamplung bergerak mendekat ke pohon yang kebetulan menjadi tempat persembunyian Esti. Dengan berjalan pelan Nyamplung meningkatkan kewaspadaan dan meraih sangkur yang ada dipinggangnya.

Jantung Esti serasa hampir copot, Tapi ia mencoba menenangkan diri, ia akan membela diri bila tiba - tiba orang itu menangkapnya. Esti Pinilih bergeser pelahan ke sebelahnya, namun tanpa sadar ia menginjak ranting kereng sehingga terdengar suara cukup keras.

Dengan sigap orang itu langsung berusaha mengejar Esti Pinilih. Tanggung karena sudah ketahuan maka, dengan spontan Esti Pinilih menendang kemaluan orang itu. Spontan saja orang yang bernama Nyamplung itu menjerit.

“Auuuuuuwwww..” Tampaknya cukup keras tendangan Esti Pinilih. Nyamplung jatuh terjerembab dan mengerang kesakitan.

Teman - temannya langsung menyerbu dan mengepung Esti Pinilih. Merasa terpojok Esti Pinilih memilih melawan. Maka Esti melancarkan tendangan satu tendangan mengenai orang di depannya sampai hampir terpental, dan kemudian Esti memanfaatkan situasi itu untuk keluar dari kepungan. Namun salah satu orang bisa meraih baju dan

“Breett”

Lengan baju Esti pinilih sobek dan dan hampir saja sobek sampai dengan dadanya. Ia kaget, namun tidak menyerah begitu saja, ia langsung lari meskipun suasana gelap gulita. Menyelinap dari satu pohon ke pohon, tapi selincah- lincahnya Esti ia jelas hanya bisa mengulur waktu dan ketika ia merasa sudah jauh lari, ternyata ada satu tangan yang bisa meraih tubuhnya.

Esti Pinilih berusaha melawan. Namun ada bala bantuan datang dari lawannya sehingga ia akhirnya tertangkap. Esti Pinilih meronta dan berusaha melawan. Dari balik pohon Mbah Sambung yang melihat tertangkapnya Esti Pinilih merasa harus menolongnya. Tapi secara sekilas ia sudah mendapat keterangan dari Prabangkara bahwa ia sudah membawa pasukan siluman (khusus) untuk mengepung wilayah ini. Ia ingin menolong tapi jika memaksa pasti ia tidak cukup membantu. Maka Mbah Sambung hanya pasrah melihat Esti Pinilih ditangkap. Ia hanya berdoa agar anaknya bisa lepas dari mara bahaya. Kalau ia tertangkap maka semakin beratlah tugas Prabangkara.

Tertangkapnya Esti Pinilih membuat heboh suasana. Prabangkara mendengar kegaduhan di tempat ia menghajar beberapa orang di situ. Matanya cukup tajam menangkap bahwa beberapa orang berhasil menangkap Esti Pinilih. Prabangkara kemudian dengan tenang ikut berkerumun. Ia mengikuti orang - orang yang menangkap Esti Pinilih. Tiba – tiba ada yang nyeletuk.

“Hati- hati ada penyusup di antara kita!”

Prabangkara masih tenang, ia tetap menutup mukanya dengan kain, dengan baju dari Gaprul. Ia sedang menyamun dan menyamar, ketenangan adalah kunci, agar orang - orang tidak curiga dengannya. Prabangkara sudah cukup terlatih, karena menjadi pasukan sandi yang biasa menyelusup ke kandang lawan. Sesekali dengan kode suara serangga. Maka secara tidak disadari ada pasukan khusus yang bergerak secara hening mendekat.

Seseorang yang cukup seram wajahnya mendekat ke Prabangkara. Ia memandang tajam wajah Prabangkara. Ia melihat bajunya memang baju Gaprul, namun rasanya ia cukup kenal bentuk tubuh Gaprul.

“Siapa kamu…. aku teman dekat Gaprul…kenapa tiba - tiba kamu tampak lebih langsing.”

Prabangkara diam saja.

“Buka, penutup mukamu.”

Lelaki yang wajahnya cukup seram itu berusaha membuka paksa tutup muka Prabangkara. Prabangkara sudah siap dengan segala resiko. Maka sebelum lelaki itu bisa membuka penutup mukanya, Prabangkara sudah melayangkan totokan ke bagian tengkuk orang itu. Lelaki itu langsung kaku dan tidak bergerak. Sebelum dicurigai teman- temannya ia bergeser menjauh. Tidak seberapa lama gegerlah orang - orang ketika melihat salah satu temannya tidak bergerak, kaku karena telah di totok.

Mereka celingukan dan saling curiga antara satu dengan yang lain. Sementara Prabangkara menjauh dan memberi kode pasukan khusus untuk cepat bergerak. Dari lorong beberapa orang mulai merangkak masuk dari balik pagar mereka sudah menetralkan pengaruh pagar yang dilingkari oleh kekuatan tidak terlihat.

***

Sementara terlihat dari tempat upacara seseorang yang berbaju perlente tengah duduk dan tertawa - tawa. Di depan mereka beberapa perawan yang diikat, dan dalam keadaan telanjang bulat. Mereka yang duduk tampak melotot menyaksikan pemandangan indah di depannya. Mereka akan menikmati tubuh mereka membawanya ke ruang khusus, Ternyata tumbal darah perawan yang dimaksudkan adalah ritual membobol keperawanan mereka dengan melakukan persetubuhan disaksikan oleh banyak orang, setelah itu perawan perawan itu di masukkan ke sebuah rumah dan digilir oleh orang – orang yang ikut berpesta pora di setiap malam jumat kliwon. Setelah tidak berdaya para gadis yang sudah tidak perawan itu dibuang di sebuah tempat khusus, semacam kuburan massal.

Siapakah lelaki perlente itu yang tiba – tiba bangun, berdiri dan mendekat perawan yang diikat di depannya.

“Aku mau dia… “

Perempuan itu dibuka ikatannya dan di sorongkan ke Lelaki itu. Sementara satu persatu ia mencopot bajunya. Hingga tinggal sarung yang membungkus tubuh Lelaki itu dan ia siap memelorotkan sarungnya.

Namun tiba – tiba kegaduhan muncul. “Sebentar Ki “

“Ada penyusup yang datang mereka hendak merusak upacara ritual kita.”

Mereka menggelandang seorang perempuan yang ternyata Esti Pinilih.

“Ini perempuan yang lolos. Ia bisa melarikan diri saat penculikan sebelumnya.”

“Hahaha…. Sekalian ia harus mendapat hukuman lebih berat dari perempuan yang lain…”

Esti Pinilih, yang dibekap mulutnya, didorong di depan tempat upacara itu.

“Ayo, segera pelucuti bajunya. Ki Slamet yang pertama mengerjainya.”

Ki Slamet mendekat dan berusaha mencium, Esti Pinilih.

“Cuihhhh.”

Muka KI Slamet itu kena sembur ludah Esti Pinilih.

Tampak memerah muka Ki Slamet Gender menahan marah.

Segera dengan nafsu ia memaksa merangkul Esti Pinilih.

Esti yang sudah diikat tidak berdaya dengan rangkulan lelaki bejad di depannya.

“Ternyata kamu dalang dari semuanya.”

“Hahaha… aku senang bisa merangkul dan mencicipi perempuan cantik sepertimu, Yuk tidak usah dipaksa, copot bajumu dan main dengan bahagia”.

“Aku tidak mau menjadi korban iblis!”

“hahaha…. Bukan iblis… tapi malaikat penyelamatmu. Kamu bisa bahagia.Sebab semuanya serba kecukupan.”

“Tidak sudi, mending mati daripada mendapat pasangan sepertimu.”

“Kalau tidak mau ya apa boleh buat, saya paksa di sini. Tidak ada orang yang bisa menolongmu lagi.”

Ki Slamet sudah menarik baju dan tinggal sekali tarik maka lepaslah baju Esti. Namun sebelum bisa menarik baju Esti tiba - tiba Ki Slamet menjerit keras.

Sebuah serangan kilat mengenai tengkuknya, matanya melotot dan tubuhnya kaku. Esti Pinilih yang terangkul oleh Ki Slamet Gender langsung mendorong hingga Ki Slamet terjatuh.

Suasana langsung gaduh. Para pengawal langsung bersiap waspada. Suara sendaren terdengar cukup lama… tiba - tiba beberapa orang melompat dari sebalik pagar. Dari arah belakang tempat ritual itu juga sudah muncul beberapa orang yang bergerak lincah mengepung upacara ritual itu. Beberapa orang langsung bergerak cepat untuk menantang para preman yang menjaga upacara ritual gila tersebut. Seseorang datang dan berdiri gagah di antara kerumunan.

“Kalian telah dikepung. Kami pasukan khusus dari pusat pemerintahan Kasunanan Surakarta. Kita sudah menyelidiki dan mengamati berbulan - bulan ritual aneh kalian. Ini tindakan jahat dan harus dihentikan.”

Para preman dan pengawal mereka tidak berdaya melawan pasukan khusus yang memang lebih jago dalam berkelahi. Maka dalam waktu singkat mereka menyerah dan upacara ritual gilapun gagal dilakukan malam itu.

Esti segera menyerbu dan merangkul Prabangkara orang yang berbicara dengan gagah di depan orang - orang yang akhirnya bisa diringkus dan diikat.

Sementara Ki Slamet Gender dibebaskan dari totokan namun ia sudah diikat tangannya dan kemudian di gelandang untuk dibawa perajurit sandi itu ke pusat Kasunanan. Karena pelanggaran berat diperkirakan Ki Slamet Gender mendapat hukuman mati.

Bersambung