Now Loading

BAB X. DI SARANG MUSUH (BAGIAN 2)

Suara tembakan masih terdengar, dan Pengawas lain datang menggantikan yang tewas di tangan Petrus. Yang ini lebih besar, dan sepertinya tidak akan jatuh begitu saja. Devi menyaksikan dengan ngeri saat dia menembak Arsanto. Peluru menghantam bahu sang dokter, membuatnya senjatanya terlepas.

“Aaah!” Arsanto rubuh ke lantai. Hasmi menembak Pengawas itu hingga tewas.

Petrus akhirnya menemukan pistol lain di jubah Pengawas dan melemparkannya ke Devi. ”Aku akan menunjukkan cara menggunakannya nanti,” katanya sambil memandang Arsanto yang menggeliat kesakitan di lantai.

Petrus bergabung dengan Hasmi di jendela.

“Aku lihat empat lagi di luar sana, bro … mendekat dengan cepat. Siap-siap.”

Hasmi melepaskan empat tembakan beruntun dan Devi mendengar tiga dentuman kilat. Dia merangkak ke Arsanto, yang sedang duduk bersandar di dinding.

“Kamu baik-baik saja?” tanyanya.

“Ya, bukan masalah besar. Pelurunya tembus. Aku hanya kaget.”

Arsanto berdiri dan siap bertempur lagi, tapi di luar sunyi tanpa suara.

“Sudah selesai?”

Hasmi mengintip ke luar.

“Kurasa masih ada satu, bro.”

Sirene telah berhenti meraung. Devi melihat ke sekeliling ruangan dan pada dua mayat yang tergeletak di pintu masuk. Gadis itu menatap pistol yang diberikan Petrus padanya, bertanya-tanya apakah dia akan mampu menembak mati seseorang seperti yang dilakukan rekan-rekannya. Dia berharap takkan pernah menggunakan benda itu.

Ketiga pria itu sekarang berdiri di dekat jendela, melihat keluar. Setelah beberapa menit, mereka mulai tertawa tergelak-gelak.

“Belum pernah menembak seperti itu sejak terakhir bersama mereka, bajingan sialan,” kata Hasmi.

“Bagaimana bahumu?” Petrus mentapa Arsanto.

“Baik-baik saja. Dibandingkan dengan yang kita alami selama pelatihan? Ini upil.”

“Aku tidak percaya kita bertiga bisa mengalahkan sebelas Pengawas dengan mudah. Mereka tidak dilatih seperti kita dulu.”

“Benar, tapi ingat, ini hanyalah arena pelatihan. Mereka masih anak-anak, mungkin belum lama di sini.” Petrus menunduk, tergambar jelas penyesalan di wajahnya.

“Bro, jangan sedih begitu. Mereka dilatih untuk menjadi mesin pembunuh.”

Hasmi menoleh ke arah mayat yang bergelimpangan di pintu. “Aku pernah masuk pesantren.”

Dia berjalan mendekat dan berlutut di samping kedua mayat, menengadahkan kedua tangannya. Bibirnya komat-kamit berbisik cepat dan lembut.

“Apa yang dilakukannya?” Devi berbisik kepada Petrus.

“Aku rasa dia sedang mendoakan mereka. Hmmm … mungkin nanti setelah dia selesai, kita bisa memasukkannya kembali ke dalam botol.” Petrus tertawa.

Hasmi bangkit dari meninggalkan kedua jenazah dan berdiri di depan jendela.

“Aku bukan jin bagdad, sialan. Itu Irak, bukan Suriah, dasar—”

DOR!

Di luar jendela berdiri Pengawas kesebelas. Pistol di tangan mengepulkan asap tipis. Petrus mengangkat senjatanya dan menembak leher si penyerang yang dia jatuh ke rumput tanpa suara.

Hasmi menatap dadanya yang berlubang dengan mulut menganga.

Melihat darah mengucur dari luka tembak, Devi mulai menangis. Air matanya jatuh menetes ke lantai ketika darah mengalir dari bibir pria itu. Hasmi terbatuk dan tergagap, jatuh berlutut.

Arsanto dengan sigap menangkap kepala Hasmi sebelum membentur lantai. Dia meletakkan kepala temannya di pangkuan, sementara Petrus menjatuhkan diri di sisi lain, setengah detik lebih lambat dari Arsanto.

“Si—silau,” Hasmi tergagap. Tubuhnya mengejang, tapi tangannya terangkat tinggi.

“Sshh, tidak apa-apa, kawan.”

Devi bangkit dan duduk di sebelah Arsanto. Tanpa berpikir panjang, dia memegang tangan Hasmi satunya dan meremasnya.

Hasmi gemetar, tapi sinar matanya tak pernah terlihat begitu bahagia.

“Aku melihatnya … cantik sekali. Irene. Aku datang, sayangku.”

Devi memandang Arsanto. Air mata dokter itu jatuh ke muka Hasmi.

Hasmi menatap mereka satu persatu .”Selamat tinggal, bro, suatu kehormatan berjuang … bersama kalian. Saling menjaga … oke? “ Dia meremas tangan Devi. ”Mohon izin pamit ... menemui … istriku.”

Tubuh lelaki itu mengejang sekali, lalu pergi tak kembali lagi untuk selama-lamanya, bersatu dengan Irene-nya.