Now Loading

Kencan Pertama di Clark Quay

Sekitar pukul 10 malam kurang sedikit, taksi kami sudah sampai di Coleman Street. Turun dari taksi, Bang Zai, Eko dan Azwar langsung naik lift menuju kamar sedang saya ingin mencari angin segar jalan-jalan di depan hotel sebentar.

Selagi pikiran saya melayang ke mana-mana. Memikirkan situasi ekonomi dan politik di tanah air yang terus bergolak dan juga Laila, tiba-tiba sebuah taksi berhenti dan tiga orang gadis penumpangnya turun. Lagi-lagi saya ketemu dengan Muthiah and her gang.

“Hi Muthiah, baru pulang nih," kata saya setengah menggoda membuka percakapan. Kedua teman Muthiah minta izin langsung menuju lift ke kamar sementara saya dan Muthiah akhirnya melanjutkan ngobrol di lobi.

“Bang Asep," tiba-tiba Muthiah membuka percakapan. Bukan main senang hati saya dipanggil Abang.

“Perasaan saya sedang teruk nih.” Muthiah mulai sedikit terbuka dan bercerita bahwa dia baru saja ditinggal nikah oleh kekasihnya. Dia sebenarnya ingin jalan-jalan ke Clark Quay, tetapi kedua temannya sudah lelah.

“Bagaimana kalau Abang yang antar Muthiah jalan-jalan,” kata saya menawarkan jasa. Lumayan jalan-jalan berdua saja dengan gadis cantik mirip Laila pada malam pertama di Singapura ini. Suara nakal dalam hati berkata. Walau ada suara lain menasihati bagaimana kalau Laila tahu nanti.

“Baiklah, tapi saya mau ke tandas sebentar,” Muthiah izin sebentar pergi ke toilet yang ada di pojokan lobi hotel.

Tidak sampai 10 menit kemudian, Muthiah sudah muncul kembali. Kali ini tampak jauh lebih cantik karena rupanya dia habis merapikan dandanannya.

“Aduh cantiknya,” Kata saya menggoda yang langsung dijawab dengan cubitan manja ke lengan saya,

Kami kemudian naik taksi menuju Clark Quay, tempat hiburan malam yang hits di Singapura. Jaraknya sebenarnya sangat dekat dan dalam waktu kurang dari 5 menit kami sudah sampai di deretan tempat hiburan malam di tepian Singapore River.

Jam 11 malam sebenarnya masih pagi di Clark Quay. Kami berdua hanya berjalan-jalan melihat-lihat deretan bar, restoran dan gerai-gerai yang kian malam kian ramai. Setelah lelah, kami mampir di sebuah gerai minuman di tepi sungai dan menikmati life music di sana.

Pada kencan pertama ini Muthiah banyak bercerita tentang dirinya. Sementara saya sendiri belum bercerita apa-apa. Yang ditanya oleh Muthiah hanyalah apa saya sudah punya pacar di Jakarta. Jawabannya sudah pasti belum.

Muthiah bercerita bahwa dirinya memang berasal dari Melaka. Kota tua yang sangat bersejarah. Namun dia sendiri sekarang tinggal di Kuala Lumpur dan sedang studi di Universiti Malaya. Seperti yang diceritakan tadi dia baru saja ditinggal menikah oleh pacarnya dan sekarang sedang galau mencari pautan hati.

Namun saya juga tidak tahu, apakah saya hanya lah tempat gadis ini mencari pelarian. Mengapa dia bisa langsung percaya berjalan berdua saja dengan lelaki yang baru dikenal. Namun biarlah, saya juga senang berjalan bersama gadis cantik yang mirip Laila. Setidaknya Muthiah jauh lebih nyata dibandingkan Laila yang sedikit misterius.

Tidak terasa waktu sudah menunjukkan pukul 12,30 malam, ketika Muthiah berkata bahwa lebih baik kita pulang karena besok dia masih banyak acara jalan-jalan dengan temannya. Dia juga tidak mau Fitri dan Rosmah menjadi cemas karena hapenya sendiri sudah low bat dan tidak bisa dihubungi.

Sekitar pukul 12.45 barulah kami berdua tiba kembali di hotel. Ingin rasanya menghabiskan malam bersama Muthiah. Namun dia kembali ke kamarnya di lantai 8 sementara saya terus ke lantai 9.

Ketika masuk ke dalam kamar, sebelum lampu kamar dinyalakan ada kilatan cahaya berkilauan yang berasal dari koper kecil yang saya letakkan di dekat lemari. Saya ingat disitulah saya menyimpan Keris Brunei saya.

Setelah saya menghidupkan lampu kamar, keris itu masih terus mengeluarkan cahaya kemilau dan hanya mau berhenti setelah saya mengambil dan kemudian mendekapnya.

Tidak terasa saya pun tertidur sambil mendekap Keris Brunei pemberian Laila.

Kencan pertama yang mengasyikkan walau ada sedikit gangguan dari Sang Keris Brunei.

Malam itu saya bermimpi naik perahu di Singapore River bersama Muthiah.

Bersambung