Now Loading

Bab 31

Raden Ayu Kedasih mengajak Raja, Citra, dan Sin Liong, masuk ke sebuah ruangan besar yang merupakan ruang khusus bagi istana untuk menerima tamu-tamu penting.

“Putri, hampir 10 tahun aku menunggu-nunggu saat seperti ini. Sejak zaman aku kuliah  sampai sekarang aku sudah menjadi dosen, momen inilah yang selalu aku impikan. Aku telah melakukan riset mendalam mengenai Manuskrip Kuno Gerbang Waktu Bubat. Selain terdapat ramalan namun juga aku coba membuat formula Fisika Quantum yang memungkinkan hal ini terjadi secara ilmiah. Tentu saja aku punya keterbatasan yang besar sehingga masih banyak sekali pertanyaan yang belum terjawab oleh keduanya. Fisika maupun Metafisika.”

Raden Ayu Kedasih bicara panjang lebar dengan nafas sedikit terengah seolah telah menahan ucapan ini sekian lama dan membuat dadanya sesak. Citra memandang Raja. Banyak hal yang tidak dimengertinya dari ucapan Raden Ayu Kedasih. Formula Fisika Quantum? Metafisika? Apa itu?

Raja menghela nafas. Tentu saja dia paham kebingungan Citra. Gadis cantik ini adalah Putri yang manjing kembali dan bukan bereinkarnasi ke badan wadag gadis masa kini. Citra benar-benar dari masa lalu sehingga tentu saja akan kesulitan menerima penjelasan yang menggunakan istilah-istilah ilmiah masa kini.

Rupanya Raden Ayu Kedasih menyadari kesalahannya.

“Maksudku begini Putri cantik. Gerbang Waktu Bubat adalah sebuah ramalan gaib yang juga mengikuti kaidah gaib. Namun di zaman sekarang hal itu pasti coba ditelusuri juga menggunakan ilmu pengetahuan yang ada saat ini agar penjelasannya masuk di akal manusia. Kira-kira begitu.”

Barulah Citra mengangguk-anggukkan kepala. Orang-orang zaman sekarang tentu akan heran jika dia bisa menggeser semua kursi dan meja di ruangan ini tanpa menyentuhnya dengan tangan. Lalu orang-orang itu akan mencoba menghubung-hubungkan bahwa kemampuan seperti itu juga harus punya penjelasan dari sisi ilmu pengetahuan. Citra tersenyum. Teringat pada Naga raksasa yang pernah dikirim Mada melalui awan hitam yang bergumpal-gumpal di langit. Bagaimana menjelaskan hal itu berdasarkan ilmu pengetahuan?

Raja menyela dengan halus.

“Raden Ayu, kami ingin bertanya 1 hal. Benarkah Raden Ayu menyimpan 1 bagian dari Manuskrip Kuno mengenai Gerbang Waktu Bubat?”

Raden Ayu Kedasih tersenyum manis. Dia baru menyadari ada orang lain di ruangan ini. Pemuda ganteng pula. Sedari tadi dia begitu terpesona dengan kedatangan putri yang manjing kembali ini.

“Pertama, kau harus memanggilku Kedasih. Tanpa raden ayu. Kedua, tentu saja aku tahu tentang Manuskrip Kuno itu. Kalau tidak, tidak mungkin aku bisa bercerita panjang lebar mengenai putri yang manjing kembali ini dan menunggu kedatangannya selama bertahun-tahun.”

“Lalu di mana kau menyimpan naskah tua itu Kedasih? Trah Maja sedang mati-matian mencarinya. Mereka sudah mendapatkan 2 bagian yang lain dan memerlukan 1 bagian terakhir agar Manuskrip Kuno itu utuh dan mereka bisa melakukan ritual penutupan Gerbang Waktu.”

Raden Ayu Kedasih nyaris terlompat dari tepat duduknya. Matanya nampak gelisah mendengar berita mengejutkan itu.

“Astaga! Jadi 2 bagian yang lain sudah ditemukan? Setahuku 1 bagian ada di Trah Pakuan dan 1 lagi ada di tangan seorang Tetua di Pulau Bali?”

Citra menghela nafas panjang.

“Entah bagaimana, mereka telah berhasil mendapatkannya. Oleh karena itu kami sengaja menemuimu Kedasih. Aku harap 1 bagian terakhir ini masih aman. Mereka juga pasti sedang mengejar ke sini.”

Gantian Kedasih yang menghela nafas panjang.

“Aku tahu bahwa suatu saat Manuskrip Kuno itu akan jadi bahan rebutan. Karena itu aku menyimpannya di tempat paling aman di keraton ini. Bahkan meski Mada sendiri ke sini dengan mengerahkan segenap kekuatannya, mereka akan kesulitan.”

Raja bernafas lega. Tapi tetap saja pemuda ini penasaran.

“Kalau boleh tahu di mana kau menyimpannya Kedasih?”

Kedasih tersenyum penuh rahasia.

“Tentu aku tidak harus menyebutnya bukan?”

Raja agak malu. Jawaban itu menambah rasa penasaran di hatinya. Namun Citra menyahut lirih.

“Rasanya aku bisa menduga di mana kau menyimpan benda luar biasa penting itu. Di sebuah tempat yang bahkan Raja Mataram sendiri harus melakukan ritual khusus untuk memasukinya.”

Kedasih mengangguk. Mendekatkan dirinya ke arah Citra dan memeluknya dengan hangat.

“Karena itulah aku menyimpannya di situ. Hanya kau putri cantik, yang bisa memasuki tempat itu tanpa harus ritual apa-apa.” 

Raja makin penasaran. Benarkah sesakral dan seaman itu tempat penyimpanan itu? Namun Citra menggamit lengan Raja untuk menghentikan rasa penasarannya.

“Untuk sementara, rencana mereka hendak melakukan ritual penutupan Gerbang Waktu terkendala oleh ketidaklengkapan manuksrip yang mereka punya. Kita punya cukup waktu untuk mencoba merebut manuskrip itu kembali. Karena aku dan Raja tidak akan bisa masuk jika tidak menggunakan manuskrip yang juga lengkap.”

Citra memandang Kedasih untuk meminta pendapat.

“Kau benar Putri. Aku berani menjamin bahwa bagian ketiga dari manuskrip ini tidak akan bisa diusik oleh Trah Maja maupun suruhannya. Untuk urusan mengambil kembali dua bagian manuskrip yang telah direbut mereka, aku pikir Trah Pakuan punya sumberdaya yang cukup untuk itu bukan?”

Kedasih mengakhiri pernyataannya dengan pertanyaan. Citra menoleh kepada Raja.

“Hanya kau yang bisa menahan sisi mistis mereka Raja. Sin Liong bisa membantumu tentu saja. Aku tidak yakin Trah Pakuan bisa membantu. Terdapat kebocoran kecil yang mesti ditambal terlebih dahulu sebelum Trah Pakuan kembali solid.”

Raja tersenyum tegas untuk meyakinkan Citra dan Kedasih.

“Kalian jangan khawatir. Dengan bantuan Sin Liong, aku yakin bisa mendapatkan kembali manuskrip itu. Hanya saja aku minta dengan sangat agar Citra tidak ikut dalam misi berbahaya ini. Dan aku berharap Kedasih bisa ikut Citra ke Bandung. Aku khawatir kalian berdua akan diburu oleh Trah Maja. Kalian bisa membantu kami dengan terus memberi kami informasi bersama Babah Liong. Bagaimana?”

Kali ini Citra dan Kedasih yang saling pandang. Usul yang masuk akal. Trah Maja pasti tidak akan tinggal diam. Mereka pasti akan terus memburu bagian ketiga dari manuskrip dan mengira ada pada Kedasih. Sedangkan Citra tentu saja akan terus diburu agar tokoh utama yang bisa membuka Gerbang Waktu dan berkeinginan merubah sejarah, kembali moksa dan tidak ada lagi secara fisik di dunia.

Mendadak terdengar ribut-ribut di luar istana. Suara langkah kaki orang-orang berlarian. Dan juga teriakan-teriakan.

“Awas ada orang mengamuk! Mereka mencari-cari Ndoro Putri Kedasih!”

“Panggil polisi!”

“Itu…itu mereka yang tadi berkelahi dan menimbulkan keributan di luar. Mereka masuk ke komplek keraton dan menuju kesini!”

Raja dan Citra terperangah. Rupanya kekacauan di luar tadi telah merembet ke dalam.

* * *-*