Now Loading

Bab 27

British Airways
Johannesburg-Doha


Akiko membuntuti dari jarak yang cukup aman. Dia melihat dari jauh Andalas berjalan cepat ke toilet paling belakang di kelas ekonomi. Akiko pura-pura antri di toilet dan duduk di sebuah kursi kosong deretan kelas ekonomi di bagian dekat jendela.

Akiko mengeluarkan gawainya. Pura-pura sedang membuat vlog namun sesungguhnya dia sedang memfungsikan gawai itu sebagai kaca spion agar tetap bisa mengamati gerak-gerik Andalas.

Lelaki itu berjalan perlahan menyusuri lorong kelas ekonomi sembari mengrenyit kesakitan. Matanya yang tajam nampak liar melihat kesana kemari. Seperti mesin pemindai berkecepatan tinggi.

Saat Andalas sudah memasuki kabin kelas bisnis, Akiko mengikuti dari belakang dengan tetap dari jarak yang berjauhan. Banyak penumpang yang berdiri mondar-mandir untuk melepaskan kepenatan akibat penerbangan jarak jauh sehingga apa yang dilakukan Andalas dan Akiko nampak biasa dan normal.

Di kabin ini Andalas melakukan hal yang sama. Fokus melihat kesana kemari dengan kening berkerut dan mulut yang seolah kesakitan.

Kabin kelas bisnis selesai. Andalas melakukan hal yang sama di kabin kelas utama. Setelah itu duduk kembali di kursinya dengan tenang seakan tidak terjadi apa-apa.

Akiko berjalan dengan kalem menuju kursinya yang berada di belakang Andalas. Dokter muda ini semakin waspada karena beberapa kali dia tadi memergokinya sedang mengrenyit kesakitan. Mungkin ini tanda-tandanya. Situasi ini sangat berbahaya. Andalas seorang lelaki yang punya kemampuan di atas pria rata-rata dan mereka sedang berada di ketinggian. Jika sampai dia mengalami puncak symptom di sini, penerbangan ini akan berada dalam bahaya. Akiko menurunkan resleting jaketnya agar mudah meraih Kaikennya.

Cecilia masih terlelap dalam tidurnya. Dia sedang bermimpi kota-kota yang dikarantina telah dibuka kembali. Namun sebuah angka yang terpampang di sebuah billboard raksasa membuatnya ternganga. 1,5 Milyar casualties! Cecilia meneruskan tidurnya dalam amukan kecemasan.

Akiko melihat Andalas sangat gelisah. Tangannya terlihat mencengkeram kuat-kuat pegangan kursi. Tubuhnya nampak menegang. Beberapa kali Akiko mendengar Andalas mengambil nafas panjang meskipun berusaha keras dilembutkannya.

Akiko meraba gagang Kaikennya.

Andalas tiba-tiba berdiri dan hendak kembali pergi ke belakang. Kelas utama ini tidak penuh. Hanya terisi 4 orang dari kapasitas 8 orang sehingga suara berisik yang ditimbulkan saat Akiko menjegal kaki Andalas yang tidak waspada hingga terjatuh tidak mengganggu 1 penumpang pria yang sedang tertidur. Cecilia juga masih lelap dalam mimpinya yang mencemaskan. Pramugara dan pramugari 1st class ini juga kebetulan tidak nampak dalam kabin.

Dengan gesit Akiko menelikung kedua lengan Andalas ke belakang. Mengikatnya dengan tali sepatu yang telah dipersiapkannya sedari tadi. Lalu membalikkan tubuhnya. Dengan tangan kanan mengacungkan Kaiken ke mata Andalas, Akiko meraih patogen detector dari sakunya.

Andalas yang lengah dan sama sekali tidak menduga betapa cepatnya Akiko bergerak, hanya pasrah saja saat Akiko menscan sekujur tubuhnya menggunakan patogen detector. Selain itu tentu saja Andalas khawatir ujung tajam Kaiken itu menusuk matanya jika dia melakukan perlawanan.

Tidak terdengar suara apa-apa dari patogen detector! Tidak muncul indikasi patogen apa-apa di layar monitor!

Kaiko sejenak termangu. Sedikit waktu yang dimanfaatkan oleh Andalas untuk melakukan gerakan menjauh dari Kaiken dan menjepit leher Akiko dengan kedua kakinya.

Kedua orang itu bertarung dalam diam. Jika Akiko mau, dia bisa menusukkan Kaiken itu ke leher Andalas karena ada mekanisme pegas di gagang Kaikennya. Jika Andalas mau, dia bisa mematahkan leher Akiko dengan sekali mengerahkan tenaga.

Keduanya tidak melakukan satupun itu. Sebuah guncangan badan pesawat terjadi. Sekali. Lalu berikutnya beberapa kali. Rupanya pesawat berbadan besar itu sedang mengalami turbulensi. Sementara Andalas dan Akiko masih saling berkutat pada pertahanan masing-masing sekaligus saling menunggu.

"What the f***!! Heii, apa yang sedang kalian lakukan?!

Cecilia meraih pergelangan tangan Akiko sekaligus menarik kaki Andalas. Kedua orang itu mau tak mau saling melepaskan pergulatan dan sama-sama berdiri dengan terengah-engah. Itu tadi pertarungan hidup mati dalam keheningan.

Cecilia menarik tangan kedua orang itu dan mendudukkan Akiko di kursinya sendiri sedangkan Andalas dipaksa duduk di kursi miliknya.

Cecilia berdiri menatap keduanya bergantian dengan mata melotot. Meminta penjelasan.

"Maaf Cec, aku tadi menduga Andalas sedang menunjukkan gejala infeksi BA. Aku melakukan tindakan pencegahan dengan meringkusnya lalu melakukan scanning pada tubuhnya.”Akiko yang pertama memberikan penjelasan. Nafasnya sudah normal kembali. Dia juga sudah menyelipkan kembali Kaiken ke tempatnya.

"And then?”Cecilia masih belum paham sepenuhnya.

"Tidak! Tidak terdeteksi ada patogen berbahaya di tubuhnya. Aku hanya salah duga dan berjaga-jaga karena Andalas pernah terluka oleh Leopard yang terjangkit BA bukan? Kau ingat?”

Cecilia terperangah! Dia sama sekali melewatkan bagian ini! Oh Tuhan!

"Begitulah kejadiannya Cec. Maafkan aku. Aku hanya menjaga kita dari bahaya,”Akiko melirik ke Andalas yang sudah kembali ke ekspresinya semula. Dingin seperti es.

Cecilia mengambil alat dari tas tangannya. Sebuah senter kecil. Dia memeriksa pupil mata Andalas dengan seksama lalu memaksa lelaki itu membuka mulutnya. Tidak ada gejala apa-apa.

Sebuah pikiran mengejutkan melintas di benak Cecilia secara tiba-tiba. Dia menatap Akiko dengan pandangan yang sulit diartikan. Apakah itu antusias atau cemas.

"Perkelahian kalian ternyata bagian penting dari pekerjaan kita Akiko! Ini berarti Andalas imun! Kita harus menelitinya!”Cecilia menggerakkan tubuhnya menari-nari di depan Andalas yang telah bangkit berdiri.

Tarian Cecilia berhenti seketika karena dia melihat Andalas melempar tubuhnya ke penumpang satu-satunya selain mereka di kelas utama yang sedang mengacungkan sepucuk pistol berperedam mengarah kepala Cecilia.

* * *******