Now Loading

BAB X. DI SARANG MUSUH (BAGIAN 1)

Ketakutan terburuk Devi menjadi kenyataan. Dia berhadapan langsung dengan Pengawas berkerudung yang menodongkan ujung pistol ke arah Petrus. Devi menoleh ke belakang.

Hasmi dan Arsanto telah menghilang.

Petrus baru saja membuka mulut untuk berbicara, tetapi saat dia hendak berkata-kata, terdengar bunyi gedebuk dan Pengawas itu limbung lalu terguling ke depan. Hasmi berdiri di belakangnya, memegang sebatang tongkat kayu besar.

“Sorry bro, tapi kami tidak bisa memberitahu kalian tanpa menyebabkan keributan. Aku dan Santo melihat kedatangan Pengawas dan kami pikir peluang kita akan lebih baik jika menyelinap dari belakang.”

Petrus yang bercucuran keringat menghembuskan napas lega.

“Terima kasih. Kurasa kalian layak jadi pelacak penggantiku.”

"Hei, jangan gitu, bro! mereka hampir tak terlihat dengan tudung sialan ini."

Hasmi membungkuk dan menarik kerudung lelaki yang tidak sadarkan diri itu. Meski dia tertelungkup, Devi bisa melihat Pengawas itu masih sangat muda. Rambutnya yang hitam tebal basah berlumuran darah segar. Mungkin satu atau dua tahun lebih tua darinya.

Hasmi menggunakan kakinya untuk menggulingkan musuhnya hingga terlentang. Dia mengambil pistol dari tangan pemuda tersebut, membidik kepala dan telunjuknya menarik pelatuk. Kepala Pengawas muda itu meledak, cipratan darah dan otak mengenai muka Petrus yang tertegun menatap pembantaian di depan matanya.

Tiba-tiba, kepala Arsanto muncul dari atap gedung di atas mereka.

“Oh, terima kasih, Tuhan. Apakah kalian baik-baik saja?”

"Aman, bro," Hasmi menggeram, meludahi mayat Pengawas.

“Sialan Has. Kau menembaknya? Sekarang sepuluh teman-temannya datang ke sini." Arsanto menunjuk ke utara.

“Bagaimana kamu bisa sampai di atas sana?” tanya Petrus.

"Mengikuti saran Devi, memanjat pohon itu saat melihat Pengawas, dan melompat dengan gagah berani ke atas atap." Arsanto tersenyum pada Devi. "Kuharap pistol itu berisi cukup peluru, karena dalam waktu kurang dari semenit kita akan bertemu dengan junior-junior kita."

Dan sembilan detik kemudian, suara sirene mulai meraung-raung.

“Sial,” desis Petrus.

Devi meraba-raba sakunya untuk mengambil pisaunya, dan merasakan sesuatu yang lain. Uang logam dari masa lalu.

Terdengar derap langkah kaki mendekat, dan Pengawas lain terlihat dengan pistol teracung.

Arsanto dengan ekspresi wajahnya yang mengeras melompat dari atap dan mendarat tepat di tubuh Pengawas. Dia memanfaatkan kebingungan lawannya untuk merebut pistol dari tangannya, lalu menembaknya di bahu. Devi tersentak mendengar jeritan kesakitan dari monster berkerudung itu, terlebih saat dia memukul-mukul tanah seperti anak kecil yang tak berdaya.

"Ayo!"

Arsanto berlari menuju bangunan terdekat, dan mereka bertiga mengikutinya. Devi mendengar lebih banyak suara kaki datang, dan kepanikannya membuat dadanya nyeri.

Arsanto membuka pintu dan bergegas masuk.Setelah semua masuk, dia menutup pintu dan menyelipkan kursi kayu di bawah gagangnya.

"Baiklah. Ada sembilan di luar sana. Kita punya dua pistol.”

"Dan pisau," kata Devi.

“Betul. Apalagi yang ada di sini yang bisa kita gunakan?”

Saat mereka menggeledah ruangan, Devi bisa mendengar para Pengawas semakin dekat.

"Sial!" Petrus menarik sebuah laci dan garpu jatih berhamburan.

"Yeah, takkan berhasil."

"Ambil!" teriak Hasmi. "Kamu akan mendapatkan senjata dari bajingan yang mati berikutnya!"

Suara tembakan terdengar dan peluru menghancurkan kaca jendela tepat di sebelah Petrus. Dia menjulurkan tangan ke Devi dan mendorong gadis itu ke lantai. Hasmi merayap ke samping jendela dan mulai menembak.

Seseorang mendobrak pintu, dan tak lama lagi pintu itu akan jebol. Devi berjongkok di sampingnya dengan tangan Petrus di bahunya, menjauhkannya dari jalur peluru yang beterbangan.

Duk! Duk! Duk!

Pintu terbuka.

Devi berada tepat di sebelah kaki Pengawas. Monster itu berdiri mnggenggam senjata. Saat dia hendak menekan pelatuk, Devi menusukkan pisaunya menembus jubah hingga menancap di betis Pengawas. Yang ditusuk tak bersuara, bahkan seperti tidak menyadari bahwa dia ditikam. Kakinya melayang menendang wajah Devi. Petrus memanfaatkan momen itu untuk meninju leher Pengawas hingga terjatuh. Bersamaan dengan kejatuhannya, terjatuh pula senjatanya.

Devi dengan cepat mengambil pistol tersebut dan menyerahkannya kepada Petrus. Petrus menembak menyasar jidat, lalu membungkuk merobek jubah korban.

“Pengawas selalu membawa lebih dari satu senjata. Kami harus memberimu sesuatu yang lebih baik dari pisau.”