Now Loading

Muthiah Si Gadis Melaka

Pesawat Royal  Brunei yang membawa Empat Sekawan mendarat mulus di Bandara Changi di hari minggu siang, 3 Mei 1998.

Dalam hati saya berharap semoga tugas kami di negeri Singa berjalan mulus sampai pertengahan Juni dan sekaligus saya dapat membina hubungan dengan Laila yang kebetulan berada disini juga sampai satu tahun ke depan.

“So you are from Indonesia”, sopir taksi yang membawa kami ke Hotel Peninsula, di pusat kota membuka pembicaraan ketika kendaraan melaju lancar di East Coast Parkway dengan bebungaan Anggrek yang cantik di median jalan.

Tanpa di jawab, sopir itu terus bicara tentang pergolakan yang terjadi di Jakarta. Tentang demo mahasiswa dan berbagai kejadian yang kurang menggembirakan di seluruh tanah air.

Akhirnya taksi pun tiba di Hotel yang terletak di Coleman Street, tidak jauh dari stasiun MRT City Hall. 

“These  are your keys “, kata resepsionis hotel setelah kami cek in. Ternyata kali ini kita mendapat 4 kamar alias masing-masing satu kamar  setelah di Brunei selalu berdua.

“Wah, nanti istri dan anak-anak mungkin bisa menyusul kesini”, kata Bang Zai lagi. 

“Ok, kita istirahat saja dulu, sekitar satu jam lagi kita ketemu di lobi untuk nanti jalan-jalan”, kata bang Zai sambil mencatat nomor kamar kami semua.

Saya juga mencatat nomor kami masing-masing dan untungnya semua di lantai 9.

Sekitar pukul 5 sore saya menelpon ke kamar bang Zai, Eko dan Azwar untuk siap-siap ke lobi. Saya juga tidak lupa membawa tas kecil termasuk bungkusan dari Mbak Titiek untuk Kak Hamidah.

Setelah menelpon. Saya segera turun dan menunggu mereka bertiga si lobi. Sambil cuci mata, fikir saya dalam hati.

Baru saja saya duduk meletakkan pantat, saya melihat seorang gadis keluar lift dan juga duduk di sofa tidak jauh dari saya.

Penampilannya mirip gadis Brunei dengan baju kurung dan jilbab yang sepintas sangat mirip dengan Laila.

“Laila?”, saya segera mendekat dan menegur gadis itu. Rasa penasaran membuat saya tidak bisa menahan diri untuk tidak menegurnya.  

“I am Sorry, I bukan Laila, you mungkin salah orang”, kata gadis itu lagi.

Saya sempat terkejut dan juga minta maaf kalau salah orang. 

Karena kami sama -sama menunggu akhirnya saya mencoba berkenalan dengan gadis itu yang mengaku bernama Muthiah dan berasal dari Melaka.  Dia sedang liburan bersama teman-temannya dan jalan -jalan ke Singapura.

Belum sempat saya bertanya dan bercakap-cakap lebih banyak, Bang Zai, Eko dan Azwar pun sudah tiba di lobi serta mengajak saya pergi. 

Saya segera pamit dengan Muthiah dengan harapan dapat bertemu lagi di lain waktu. Apalagi dia bercerita masih 3 atau 4 hari lagi di Singapura. 

Kami segera berjalan menuju ke stasiun MRT City Hall, Bang Zai mengajak kami semua pergi sowan ke apartemen Bang Juki, kakak lelaki nya di kawasan Pasir RIs.   

“Kita  tinggal sekali naik MRT ke stasiun penghabisan kata Bang Zai, lalu jalan kaki sedikit”.

Kalau tadinya hanya ingin sowan sebentar, ternyata Bang Juki kemudian mengajak kami semua untuk makan malam di East Coast,  

“Ada banyak restoran seafood yang enak disana”.

Sekitar pukul 8 malam kami baru tiba East Coast  dengan dua taksi karena Bang Juki juga mengajak istri dan dua anak nya. 

Kamu masuk ke salah satu restoran sea food dan memesan berbagai jenis makanan. 

Sekitar 10 menit duduk sambil menikmati makanan tiba-tiba saya melihat gadis yang mirip Laila tadi bersama dua orang teman memasuki restoran.

Wah nasib dan peruntungan mempertemukan kami kembali.  Saya makin penasaran dan mencoba mendekati lagi Muthiah dan berkenalan dengan dua temannya. Fitri dan Rosmah.

Akhirnya saya bisa mendapatkan nomer telepon bimbit Muthiah dan berjanji bila suatu waktu ke Melaka bisa mampir atau berjumpa.

Makan malam di East Coast selesai sekitar pukul 9,30 dan dari sini kami berempat langsung naik taksi pulang ke hotel sementara Bang Juki juga langsung pulang ke Pasir RIs .

Rencana mampir ke Kampong Glam akhirnya batal tetapi setidaknya saya mendapat nomor telepon Muthiah, Gadis Melaka yang mirip Laila.

Bersambung