Now Loading

Setetes Darah Bocah

Aku dan Renata mendengarkan cerita Bryan dengan serius. Angin dingin masuk melalui jendela yang sedikit terbuka. Membuat tubuh kami menggigil kedinginan.

"Miss Liz! Anda masih mendengarkan saya?"

"Tentu Bryan, aku masih mendengarmu," aku berusaha memenangkan muridku itu. "Lanjutkan ceritamu, Boy."

Dan inilah pengakuan yang kudengar selanjutnya dari Bryan.
----
Setelah kurang lebih satu jam berendam di dalam air bercampur darah, saya melihat Lady Bathory bangkit sembari melilitkan handuk pada tubuhnya yang tinggi kurus. Perempuan itu siap meninggalkan kamar mandi ketika tiba-tiba matanya terpuruk kembali ke arah mayat Ema.

Ia memicingkan mata. Hidungnya mengembang.

Perlahan ia berjalan ke arah gadis yang sudah mati itu. Menyentuh dagunya yang kaku dengan ujung jemarinya.

"Istirahatlah dengan tenang, Ema. Sebentar lagi dua pelayan tua dungu itu akan mengurusmu."

Lady Bathory mulai beranjak meninggalkan kamar mandi. Tapi baru beberapa langkah ia berhenti. Ia menoleh sekali lagi ke arah Ema.

"Oh, apakah ini hanya perasaanku saja? Aku seperti melihat seseorang meringkuk di dekatmu," Lady Bathory bergumam.

Dada saya berdegup kencang. Badan saya menggigil ketakutan dengan lutut gemetar. Saya nyaris terpekik ketika Lady Bathory mengulurkan tangan tepat ke arah leher saya.

"Hah! Hanya halusinasi. Pasti ruh gadis ini masih gentayangan," Lady Bathory terbahak seraya berbalik badan.

***
Aku dan Renata duduk bersila, saling berhadapan.

"Hm ... Lady Bathory? Kukira saya pernah membaca kisah legenda ini, Miss Liz. Dia perempuan bangsawan yang telah membunuh banyak gadis untuk diminum darahnya," Renata berkata dengan mata terpejam.

Jujur, aku selalu takjub terhadap muridku yang satu ini. Renata memiliki pengetahuan yang sangat luar biasa dari hobi membacanya.

"Pada akhir hidupnya, ia mati oleh setetes darah seorang bocah laki-laki. Oh, Miss Liz! Kupikir bocah itu adalah Bryan!" Renata berseru girang. Aku sampai terkejut dibuatnya.

"Lalu apa yang harus kita lakukan?" aku menelengkan kepala sedikit ke arah samping.

"Tidak ada, Miss Liz. Bryan akan menyelesaikan semuanya dengan baik," Renata membuka matanya sedikit.

Aku terdiam.

Benarkah tidak ada yang bisa dilakukan untuk menolong Bryan? Bagaimana jika anak itu mengalami celaka, tertangkap oleh Lady Bathory misalnya?

Dan, kekhawatiranku benar-benar menjadi kenyataan.

Kudengar Bryan berteriak melolong-lolong.

"Mis Liz! Renata! Tolong! Tubuh gadis yang telah mati itu bergerak-gerak! Ia hidup lagi!"

***
Keringat dingin membasahi keningku. Demikian juga dengan Renata.

"Renata, kau bisa melihat sesuatu?" aku menatap Renata sekali lagi.

"Iya, Miss Liz. Meski samar-samar. Sebuah kamar mandi --- gadis muda --- berdiri limbung. Dan..."

"...dan apa Renata?"

"Tubuh Bryan Miss, ia terbujur kaku."

"Astaga! Apakah yang terjadi pada bocah itu?!"

"Jangan khawatir, Miss Liz. Gadis itu hanya meminjam sebentar ruh Bryan untuk membalas dendam."

Aku menghela napas.

Semoga saja tidak terjadi apa-apa pada diri Bryan.

Ya, semoga.

Suara ketukan pada pintu kamar membuatku berdiri.  

Ayah Bryan.

Laki-laki itu dengan suara tegas mengatakan bahwa ia datang untuk menjemput anaknya.