Now Loading

BAB IX. MAJU, TERUS MAJU (BAGIAN 2)

“Jangan khawatir, sayang. Apa yang kita lakukan, akan sepadan hasilnya," Petrus terdengar seperti berusaha meyakinkan dirinya sendiri lebih dari Devi.

“Kamu tidak perlu mengkhawatirkanku, kok,” kata Devi.

Dia mengangguk mengerti, tapi tampangnya tetap saja menunjukkan kekhawatiran.

Devi yang mengantuk kelelahan, menyandarkan kepalanya di bahu kokoh Petrus. Dia menutup matanya sejenak, dan terbangun oleh sinar matahari yang menghangatkan kelopak matanya. Dia tertidur sepanjang malam.

"Ah, Nona kecil sudah bangun."

Petrus dengan lembut menggoyangkan bahunya yang disandari Devi. Gadis itu perlahan mengangkat wajahnya dan menyipitkan mata menghadap matahari.

“Sangat … cerah.”

“Tentu. Ayo, bantu aku membangunkan para pemalas itu."

Petrus dan Devi berjalan menghampiri Hasmi dan Arsanto yang masih terlelap di tempat tidur rumput. Devi sedang membungkuk untuk mengguncang Hasmi dengan lembut ketika Petrus tanpa basa-basi melompat ke tengah, mematahkan tempat tidur menjadi dua, dan menyebabkan orang-orang yang sedang tidur itu berguling ke dalam, ke alas hutan.

“WOI! APA-APAAN, BRO!”

Petrus menempelkan jari telunjuknya ke bibirnya, “Ssst.”

“Aku yang akan membuatmu diam, bodoh!”

Arsanto berguling telentang. “Ah ... selamat pagi.”

“Kita harus bergerak sekarang,” kata Petrus, memberi isyarat agar mereka semua bergegas.

"Kemana? Utara?" Arsanto bertanya, merentangkan tangan ke belakang punggung sampai terdengar bunyi angin sendi meletup. “Ah, lebih baik rasanya."

Petrus mengamati medan di depan mereka. “Bisakah aku melihat petanya, San?” Dia mengulurkan tangannya dan Arsanto mengorek saku jubahnya sampai dia menemukannya. Sambil menguap, dia menyerahkannya pada Petrus.

Petrus membukanya, melihatnya dengan alis berkerut. Ketika tampaknya dia telah membuat keputusan, dia menatap kelompok itu.

“Kita harus menuju timur laut. Jika daya ingatku dan peta ini akurat, kita akan sampai di Kamp 13 dalam dua hari. Kita mungkin harus berkemah lagi. Mudah-mudahan kita bisa menemukan cara yang lebih baik dari ini. Aku akan berusaha agar kita bisa naik ke pepohonan."

“Kedengarannya bagus untukku, bro. Buatkan kami rumah pohon dan kita sepakat.”

“Senang kita akhirnya menemukan solusi,” Petrus mengedipkan mata pada Hasmi. “Tapi begitu kita keluar dari hutan, aku tak tahu apakah kita bisa melakukannya.”

"Daripada berdiri di sini sepanjang hari membicarakannya—let’s go!" kata Arsanto, memberi isyarat agar semua orang bergerak.

***

Devi dan Petrus berjalan berdampingan, satu kaki di depan Hasmi dan Arsanto, Hasmi bernyanyi sepanjang jalan;

Setiap malam di pinggir pantai mobil bergoyang
Tidak di pantai, tidak di hotel, orang bergoyang
Setiap malam di bawah lampu yang remang-remang
Ada patroli tapi tak peduli yang penting hepi

Ada yang genit ada yang centil ada yang nakal
Dan ada pula kaum wanita penjaja cinta
Cari yang enak tak perlu mahal di hotel-hotel
Biar di pantai di setiap mobil nikmat bercinta

"Hei, ada gadis kecil di sini," Arsanto mengingatkan Hasmi.

"Aku menyukainya," Devi berbisik ke Hasmi.

"Ah, terima kasih, Nak. Kamu tahu? Aku punya banyak koleksi lagu—“

"Bukan jenis yang akan kau sukai," potong Arsanto.

Mereka berjalan menerobos lebatnya pepohonan, dan akhirnya sampai pada apa yang tampaknya seperti tepi hutan. Ketebalan pepohonan surut di ujung jalan setapak menuju bukit kecil.

“Akhirnya,” kata Petrus sambil menyeka keringat di dahinya.

Dari atas bukit Devi melihat versi Barak F yang terlantar. Bangunan yang serupa dan menara sirene yang tinggi, tapi tidak ada tanda-tanda kehidupan.

“Ah … nostalgia,” desah Hasmi.

“Ini adalah salah satu tempat latihan di luar,” jelas Hasmi. “Setelah kita dilatih di KAMP 13, beberapa Pengawas akan dibawa ke sini untuk, eh, mempraktikkan apa yang kita pelajari.”

Petrus melihat ke bawah dengan hati-hati. "Sepertinya tak ada orang yang ke sini selama bertahun-tahun."

Mereka merayap menuruni bukit kecil dan berhenti di pagar. Petrus menoleh ke arah gedung.

"Tidak ada manusia. Aku juga tidak melihat adanya jejak kaki. Aku rasa aman untuk didatangi."

Dia memimpin teman-teman lainnya memasuki Barak. Mereka berada tepat di samping sebuah bangunan yang mengingatkan Devi pada rumahnya sendiri ketika terdengar suara yang menakutkan.

Sebutkan nama kalian.