Now Loading

Bab 26

Pointe Noire, 4° 46′ 43″ S, 11° 51′ 49″ E
Pasar Gelap Hewan Eksotis


Andalas memacu mobilnya dengan kecepatan tertinggi. Membelah jalanan Pointe Noire yang sedang sepi karena ini hari libur. Sementara suara sirine masih terdengar kencang di belakang. Rombongan mobil polisi tiba tidak sampai 5 menit setelah mobil Andalas melesat pergi.

Terjadi diskusi singkat di dalam mobil yang sedang ngebut itu. Akhirnya diputuskan bayi Leopard itu akan dikirim ke Pandora melalui kantor WHO di Brazzaville. Profesor Sato akan mengatur teknisnya. Dokter Adli Aslan akan mengutus orang-orang kepercayaannya.

Mendadak Andalas mengerem mobilnya. Masuk ke sebuah pusat perbelanjaan besar lalu parkir di sebelah mobil SUV hitam. Lelaki itu dengan tenang keluar dari mobil, mengutak-atik sebentar pintu SUV dan memotong kabel starter setelah pintu terbuka. SUV hitam yang gagah itu bergetar lembut saat mesinnya menyala.

Cecilia dan Akiko hanya memandang dari sedan sewaan dengan bengong. Seandainya Andalas menekuni profesi pencuri profesional di New York, mungkin hanya butuh waktu sebentar untuk menjadi kaya raya.

Setelah memindahkan keranjang dan tas ke bagasi SUV, Andalas memberi tanda kepada 2 dokter wanita itu agar pindah mobil. SUV hitam itu meluncur dengan mulus meninggalkan tempat parkir. Menuju Brazzaville melalui jalan darat.

Sepanjang perjalanan, Andalas mengganti mobilnya sebanyak 3 kali. 2 kali di sebuah restoran pinggir jalan dan sekali di stasiun pengisian bahan bakar.

Saat memasuki gerbang kota Brazzaville, mereka menaiki sebuah pick up rongsokan sehingga harus berdesakan bertiga di depan. Cecilia dan Akiko melihat secara berbeda siapa Andalas sekarang. Mereka tadi menyaksikan saat Andalas mencuri pick up ini, dia meninggalkan seikat uang yang nilainya bisa untuk membeli 2 pick up dengan kualitas sama. Cecilia merasa sisi humanisme pengawal berdarah dingin itu bisa membuatnya tenang dan semakin percaya diri untuk terus melakukan perjalanan bersama.

Setelah menyerahkan bayi Leopard untuk diproses lebih lanjut oleh kantor WHO Brazzaville, ketiga orang itu berganti mobil lagi. Kali ini mereka menyewa. Tidak mencuri. Andalas cukup piawai menghilangkan jejak agar polisi tidak bisa menelusuri mereka. Apalagi kejadian di pasar hewan eksotis itu sangat menghebohkan. Polisi pasti menaruh perhatian khusus dalam penyelidikannya.

Setelah menghabiskan sepanjang malam untuk beristirahat dan melakukan koordinasi dengan Cathy, pagi-pagi sekali 3 orang itu sudah berangkat menuju bandara. Mereka akan transit di Johannesburg untuk berganti pesawat menuju Washington DC Amerika Serikat.

Semalam Cecilia sudah melakukan kontak dengan Willy Booth. Mereka berjanji untuk saling bertemu di sebuah cafe di luar NASA Head Office. Willy Booth terlihat sangat bersemangat akan bertemu Cecilia sampai-sampai tidak memperhatikan bahwa pertemuan itu adalah sebuah pekerjaan.

Penerbangan British Airways ini berdurasi sangat panjang dengan 2 kali transit di Doha dan London. Cukup waktu untuk mengistirahatkan tubuh yang penat setelah mengalami berbagai peristiwa menegangkan.

Sepanjang perjalanan menuju Doha, Akiko tak henti mengamati Andalas. Mereka sengaja mengambil tiket 1st Class dengan alasan keamanan dan juga agar bisa leluasa saling berbicara serta beristirahat. Akiko sengaja mengambil tempat duduk yang bersisian dengan Cecilia di baris kedua dari depan. Saat boarding tadi Akiko memesan tempat duduk bagi Andalas di depan kiri kursi sebelah kanan.

Akiko berusaha tidak memberi tahu Cecilia karena kasihan melihat dokter berkebangsaan Inggris sudah sedemikian pontang-panting dan kelelahan sampai-sampai terlewat sebuah hal super penting yang ada persis di depan matanya.

Akiko sudah punya rencana kontinjensi jika kecurigaannya terbukti. Dia hanya tidak mengerti kenapa proses inkubasi bakteri seganas Antrax bisa berbeda antara Andalas dengan korban lainnya. Lelaki itu terlihat baik-baik saja meski telah beberapa hari mengalami luka cakaran Leopard yang terinfeksi bakteri. Padahal korban lainnya yang terinfeksi cepat sekali bereaksi. Abebe bahkan dalam hitungan menit saja.

Andalas adalah tipe orang yang tidak banyak bicara. Juga pada saat mereka harus bermalam di suatu tempat, Andalas tidak pernah mau dipesankan tempat. Dia hanya akan mengatakan bahwa baginya tidur di tempat terbuka adalah kemewahan tiada tara. Lelaki itu lebih suka mengatur dirinya tidur di mana. Baginya hal paling penting adalah selalu menjaga keselamatan mereka berdua sesuai amanat ayah angkatnya.

Lelaki itu sangat misterius. Akiko terus memperhatikan. Dokter ini meraba sebuah Kaiken yang selalu terselip di pinggangnya. Kaikennya terbuat dari logam Tungsten yang dilapisi Intan di keseluruhan bilahnya sehingga sama sekali tidak terdeteksi oleh metal detector.

Apalagi Kaiken Akiko berukuran jauh lebih kecil dibanding Tanto biasa. Meskipun tipis dan kecil, Kaiken Akiko sangat istimewa. Selain jauh lebih mematikan karena ketajamannya, juga karena Kaiken ini dibuat oleh tangan seorang ahli pembuat Katana di Jepang yang merupakan anak buah paling senior dari ayahnya yang merupakan seorang dedengkot Yakuza.

Kaiken inilah rencana kontinjensi Akiko jika sampai Andalas menunjukkan gejala terinfeksi. Goresan kuku Leopard itu cukup dalam dan menyakitkan. Tapi Akiko seperti melihat Andalas seolah tidak merasakannya.

Karena alasan inilah sehingga Akiko tidak memberitahu Cecilia. Dokter cantik ahli virulogi itu sama sekali lupa bahwa Andalas pernah terluka oleh seekor Leopard yang positif terinfeksi Bacillus antracis bergenom murni yang mungkin belum mengalami mutasi dari pedalaman hutan Kongo.

Akiko yakin Cecilia akan panik jika mengetahui orang yang sekarang sangat diandalkannya terjangkit bakteri berbahaya tersebut. Lagipula Akiko juga sangat yakin bahwa Cecilia tidak akan setuju jika dia membunuh Andalas walaupun dalam kondisi terpaksa. Biarlah dia yang mengambil alih masalah ini. Kembali Akiko meraba Kaiken di pinggangnya.

Meskipun sangat waspada, namun Akiko membiarkan saja Andalas beberapa kali bolak-balik ke belakang hingga kabin kelas bisnis dan ekonomi. Mungkin toilet di 1st Class ini penuh. Atau Andalas tidak biasa bermewah-mewah sehingga memilih ke toilet yang lebih biasa.

Akiko melihat Cecilia sudah pulas di kursinya. Kasihan dokter ini. Menanggung semuanya sedari awal dan tetap bertanggung jawab meski harus berlelah-lelah dan terancam keselamatannya. Mirip dengannya yang harus menyaksikan awal peristiwa terjangkitnya Mollivirus sibericum hingga harus terdampar di sudut bumi yang dingin di Pandora.

Perbedaannya adalah, dia bisa menjaga dirinya dengan baik dan sanggup melakukan kekerasan. Ayahnya mengajari sedari kecil jangan pernah menghindar dari sebuah bahaya karena bahaya akan selalu membuntutimu kemana-mana. Ayahnya adalah ketua Yakuza yang sangat berpengaruh di Jepang. Namun meskipun Akiko belajar semua hal termasuk bela diri dan seni bertahan hidup, tapi dia tidak mau mengikuti jejak ayahnya menjadi anggota Yakuza. Akiko lebih memilih menjadi dokter.

Bagi Akiko, pilihan menjadi dokter adalah satu-satunya jalan untuk berbakti kepada ayahnya. Dalam prinsip hidupnya, dia tidak punya hak untuk menentang ayahnya. Ayahnya seringkali melukai bahkan membunuh orang. Akiko berniat berbakti dengan cara mengobati dan menyembuhkan orang jauh lebih banyak daripada jumlah orang yang telah dilukai atau dibunuh oleh ayahnya.

Ini kelima kalinya Andalas pergi ke belakang. Akiko mulai curiga. Tidak mungkin orang yang baru 15 menit yang lalu pergi ke toilet lalu mengulanginya lagi kecuali sedang diare atau Overactive Bladder.

Kali ini Akiko akan membuntutinya.

* * ******