Now Loading

Teman Baru

Hari ini, adalah hari terakhir di Brunei karena besok pagi, Empat sekawan akan berangkat ke Singapura dan melanjutkan tugas sekitar satu setengah bulan lagi hingga pertengahan Juni.

Setelah makan pagi kami bersantai saja di kamar hotel sambil nonton TV dan merapikan koper. Tiba-tiba Eko mengajak untuk salat Zuhur di masjid Jami Asr Hassanal Bolkiah di Gadong. Kami sendiri sudah sangat sering melewati masjid yang konon paling mewah di Brunei saat ini. Masjid dengan kubah emas dan menara-menara yang juga di puncaknya bertengger kubah emas.

Saya pun setuju dan segera bilang kepada Eko untuk mengajak Asep dan Azwar.

“Nanti sehabis salat baru kita makan siang., bisa di Bandar atau balik ke Centrepoint", kata saya.

Sekitar pukul 11.30 kita bersiap-siap dan kemudian naik bus circle line no. 01 menuju ke Masjid Hassanal Bolkiah. Kita berhenti di halte dekat Kampung Kiulap dan masuk ke masjid melalu pintu lima. Azan masih sekitar 15 menit lagi sehingga kita berjalan-jalan di halaman masjid yang luas sambil menikmati keindahan taman masjid yang memiliki banyak air mancur yang indah.

Saya duduk santai di taman sambil memandang langit kota BSB yang sedikit berawan di siang itu sampai kemudian azan Zuhur pun berkumandang. Walaupun masjidnya sangat megah dan lumayan besar namun salat Zuhur tidak terlalu ramai, hanya ada beberapa saf saja.

Selesai salat saya segera menuruni eskalator dan berjalan kembali menuju taman. Baru saja melangkah keluar ,masjid tiba-tiba ada seorang lelaki memanggil-manggil sambil berlari kecil menyusul saya.

“Bang, Bang, Ini beg nya ketinggalan!".

Saya langsung berhenti dan ingat bahwa tas kecil yang tadi saya taruh di dekat dinding masjid memang tertinggal dan di bawa lelaki itu.

Dia menyerahkan tas kecil itu kepada saya dan saya lalu beberapa kali mengucapkan terima kasih. Maklum walau di tas itu tidak ada uang, tetapi saya menyimpan paspor dan beberapa kartu kredit serta ATM di tas itu. Sebagian surat penting lain sepertin KTP, SIM dan kartu ATM lain ada di dompet di saku celana.

Melihat saya membuka tas kecil dan mengambil paspor berwarna hijau lelaki itu kemudian menegur:

"Dari Indonesia ya Bang, Kenalkan nama saya Badaruddin;”, katanya sambil mengulurkan tangannya. Akhirnya kami berdua mengobrol sebentar dan ketika saya bercerita bahwa saya sedang tugas di Office untuk sementara di Brunei dan mulai besok ditugaskan di Singapura, dia langsung bercerita bahwa adiknya yang bernama Burhanuddin juga bekerja di office yang sama di bagian HRD.

Ternyata teman baru saya ini adalah abangnya Burhanuddin dan dia juga bercerita bahwa dia tinggal di Kampung Kiulap tidak jauh dari masjid. Dia kebetulan bekerja di Radio Televisyen Brunei (RTB) namun hari ini sedang libur sehingga bisa salat zuhur di masjid ini.

Tidak lama kemudian, tiga teman saya ikut bergabung dan berkenalan dengan Badaruddin yang lebih suka dipanggil Bad saja. Kebetulan usia nya sebaya dengan saya dan dia juga sudah berkeluarga dan memiliki 4 anak.

Bad juga menawarkan kepada kami untuk makan siang di Gadong, di restoran CA Mohammed dekat hotel, sehingga kami berempat bisa ikut di mobilnya sekalian pulang ke hotel.

Siang itu, karena ketinggalan tas kecil di masjid, saya bertemu dengan seorang teman baru yang nantinya akan menjadi teman akrab saya di Brunei.

Bersambung