Now Loading

Pucuk Dicinta Ulam Tiba

Jumat siang itu, selepas salat Jumat kami berempat menerima informasi lengkap tentang keberangkatan ke Singapura terutama hotel dan tiket yang sudah disiapkan oleh Office. Singkatnya semua sudah ready dan kita hanya tinggal siap-siap saja.

Saya segera menelepon Mas Giri mengabarkan bahwa minggu lusa kami akan mengakhiri tugas di Brunei dan pindah ke Singapura. Mendengar ini, Mas Giri segera mengundang kami berempat untuk makan malam di rumahnya nanti malam. Mbak Titiek akan mempersiapkan makan malamnya. Mas Giri berjanji akan menjemput kami sekitar pukul 7.30malam.

Saya segera memberitahu Asep, Azwar dan Eko bahwa malam nanti kita semua diundang makan malam di rumah Mas Giri di Kampong Burong Pingai sekalian berkenalan dengan istrinya Mbak Titiek dan juga kedua anaknya yaitu Sofia dan Sarah yang dulu sempat sakit. Saya menyarankan Asep untuk membeli oleh-oleh untuk Sofia dan Sarah di super market pas pulang dari Office nanti.

Sekitar pukul 7, 35 malam, kami sudah menunggu di lobi hotel dan tak lama kemudian, mobil Land Cruiser hitam milik Mas Giri sudah masuk ke halaman hotel dan ketika mau parkir, Asep segera memberi tanda agar langsung ke depan lobi. Kami berempat langsung naik dan kendaraan berjalan santai keluar Simpang 137 dan sesudah itu langsung belok kanan di Jalan Gadong dan kemudian tancap gas di Lebuh Raya Hassanal Bolkiah dan Jalan Menteri Besar. Tidak sampai 10 menit kemudian mobil sudah memasuki kawasan perumahan di Kg. Burong Pingai.

Di teras rumah, seorang perempuan berusia 35 tahunan sudah menyambut dan kemudian memperkenalkan diri sebagai Mbak Titik,

Kami berempat dipersilahkan duduk di kursi rotan di teras. Kebetulan cuaca malam itu lumayan cerah dengan angin semilir berembus membuat suasana sangat nyaman untuk duduk-duduk di beranda.

Mas Giri memperkenalkan kami berempat kepada Mbak Titiek dan Mbak Titiek juga mengaku berasal dari Kalimantan juga . Jadi walau beda negara dengan Brunei tetapi masih satu pulau.

“Tepatnya saya berasal dari Kalimantan Barat” Kata Mbak Titiek.

“Saya kira dari Jawa mbak ”, Eko tidak mau ketinggalan berkomentar sedikit sok akrab.

“Bisa loh naik bus DAMRI dari Brunei ke tempat saya, Lewat Serawak, Kuching dan terus ke Pontianak”

“Wah tidak usah naik pesawat terbang dong!”, tambah Azwar.

Percakapan malam itu kian akrab dan makanan kecil berupa goreng pisang dan kacang rebus menambah santai suasana.

Asep juga tidak lupa memberikan oleh-oleh berupa cokelat yang tadi dibeli di Jaya Hypermart. Sofia dan Sarah sempat ikut duduk namun kemudian izin ke kamar setelah diberi cokelat.

“ayo, mari kita makan”, kata Mbak Titiek sambil mengajak masuk ke ruang tengah. Di meja makan sudah tersedia berbagai jenis makanan dengan sayur dan lauk pauk yang lumayan mewah.

“Wah , kita makan besar nah, Kata Asep Lagi:.

“Mbak Titiek masak?”

“Nggak, Tadi pesan di restoran, Katanya sambil tersenyum.

Sambil makan malam , kami mulai ngobrol panjang lebar dan kemudian membicarakan mengenai keberangkatan kami berempat ke Singapura minggu lusa.

“Oh. Ya, Saya kebetulan kenal dengan bibinya si Laila”, Dia kakak kelas sewaktu SMA di Singapura dulu. Dia adik bungsu ibu Laila jadi usianya tidak beda jauh dengan saya. Kami kemudian baru tahu bahwa Mbak Titiek ini walau lahir di Kalimantan Barat tetapi sejak SD hingga kuliah tinggal di Singapura dimana dia berkenalan dengan Mas Giri dan kemudian menikah di Indonesia.

“Wah kebetulan. Mungkin nanti kita bisa bertamu ke rumah bibinya Laila dengan alasan kirim salam, kata Asep lagi.

Kami terus mengobrol sambil makan dan dilanjutkan setelah itu dengan duduk-duduk di teras sambil menikmati durian otak. Rupanya, Mas Giri sudah membelinya di  Gadong Night Market sebelum menjemput kamu berempat.

Tidak terasa, waktu sudah menunjukkan sekitar pukul 11 malam. Dan akhirnya Empat Sekawan mohon pamit kepada Mbak Titiek.

“Tunggu sebentar”, Kata Mbak Titik Dia segera masuk ke dalam rumah dan sekitar 5 menit kemudian membawa sebuah bungkusan kecil .

“ Saya ada titipan buat Kak Hamidah di Singapura”, Katanya sambil memberikan bungkusan itu kepada Asep. Di dalam bungkusan ada sebuah surat dan ada alamat lengkap Kak Hamidah. Kalau kalian punya waktu luang tolong disampaikan. Jangan lupa titip salam dari saya buat Kak Hamidah.

“Baiklah “ Kata Asep.

Kami berempat kemudian pamit dan bersama Mas Giri segera kembali ke mobil untuk segera melaju ke Gadong.

Pucuk dicinta ulam Tiba, tidak usah susah mencari alamat Laila, ternyata datang sendiri melalui Mbak Titiek.

Suatu kebetulan yang menyenangkan.

Bersambung