Now Loading

BAB IX. MAJU, TERUS MAJU (BAGIAN 1)

Dia seperti mendengar sesuatu. Melihat sekeliling, dia melihat Hasmi di sampingnya di satu sisi dan Arsanto di sisi lain, keduanya tertidur lelap yang dibuktikan dengan bunyi dengkur bersahut-sahutan.

Dia menoleh ke depan dan melihat Petrus duduk bersila di tanah. Hutan di malam hari gelap gulita membutakan, tapi dia bisa melihat bayangannya di bawah temaram cahaya rembulan.

Diam-diam dan perlahan Devi meletakkan tangannya di tanah di kepala tempat tidur. Dengan lembut dia meluncur keluar dan berguling hingga terlentang dengan punggung menempel di tanah sebelum duduk. Dia merangkak ke tempat Petrus dan menyentuh pundak pria itu.

Petrus melompat kaget dan dengan cepat berbalik.

“Oh, sayang … jangan pernah mengejutkan siapapun seperti itu lagi,” dia berbisik.

“Maaf … tapi, kenapa kamu tidak tidur?”

“Aku tidak bisa. Tidak peduli apa kata dokter, haru ada yang berjaga-jaga. Soal kesehatan memang dia ahlinya, tapi menyangkut keamanan, itu urusanku.”

"Aku juga akan ikut berjaga-jaga. Aku juga tidak bisa tidur."

“Jangan, sayang. Aku semakin tidak bisa tidur kalau tahu kamu akan bangun dan duduk di sini.”

“Tapi aku boleh duduk denganmu, kan? Aku yakin kita akan baik-baik saja," Devi menatap mata Petrus yang tampak lelah dan tegang, tapi masih ada cahaya di dalamnya yang membuat perasaannya tentram.

Devi menatap ke dalam kegelapan hutan. Dia tidak bisa menghilangkan pikiran bahwa setiap saat Pengawas akan datang menyergap dari balik pepohonan lebat dan mengeksekusi mereka semua. Rasa takut membuatnya bergidik, dan Petrus merangkul pundaknya, menenangkannya.

Pria itu hampir tak pernah menggerakkan kepalanya. Matanya tertuju pada apa yang ada di depan mereka. Sesekali dia akan memutar kepalanya dari satu sisi ke sisi lain, dan juga ke belakang. Mereka duduk diam lama sampai Devi angkat bicara.

“Petrus?”

“Hmm?”

“Apakah kamu berjaga-jaga karena ada aku di sini?”

Petrus akhirnya mengalihkan pandangannya dari pohon-pohon dan menatap mata Devi dalam-dalam.

“Yah, aku menjadi lebih berhati-hati dengan adanya kamu di sini, saying … karena aku benar-benar tidak ingin terjadi sesuatu padamu. Aku dan teman-teman sudah berpengalaman. Kami bisa menjaga diri sendiri. Tapi aku hanya ingin memastikan bahwa aku bisa melindungimu. Sekarang, aku tahu kamu tidak benar-benar membutuhkan perlindungan dari kami. Malah mungkin sebaliknya, tapi tetap saja. Aku hanya ingin lebih berhati-hati lagi. Itu saja."

Dia memeluk Devi lebih erat saat dia berbicara. Gadis itu bisa melihat kekhawatiran dan perhatian di matanya semakin menguat dalam setiap kata yang membuatnya merasa bersalah. Dia adalah alasan Petrus kurang tidur saat ini dan mungkin ke depan nanti.

"Tolong, jangan tetap terjaga karena aku," pintanya.

“Sayang, jangan sampai kata-kataku tadi membuatmu merasa bersalah. Kamu tahu bagaimana perasaanku jika sesuatu terjadi padamu yang mungkin saja karena aku memilih untuk tidur di tempat yang saya pilih untuk tidur? Tidak, saying. Aku memilih terjaga sekarang daripada menyesal nanti. Ini tanggung jawabku."

Terdengar bunyi dari perut Devi, dan tanpa mengalihkan pandangannya dari hutan, Petrus mengeluarkan sebutir buah buni dari sakunya.

"Makanlah, aku sengaja menyisakannya untukmu."

Devi menerimanya tanpa membantah. Dia tahu lelaki itu akan memaksanya dengan berbagai cara untuk membuatnya makan buah itu.

“Apakah makanan yang mengendalikan papa dan mamaku?” tanya Devi mengingat percakapan merkea sebelumnya.

“Mungkin. Apakah mereka bertindak  seperti robot? Maksudku, tanpa perasaan?"

"Iya."

“Nah … nutrisi yang berasal dari paket makanan berperan besar mengubah manusia menjadi robot. Butuh waktu untuk bekerja sepenuhnya, itulah sebabnya kamu kelihatan baik-baik saja. Pendidikan akan terus berlanjut sampai umurmu dua puluh, dua puluh satu tahun. Pada saatnya, zat kimia beracun itu menghancurkan otak manusia usia itu."

"Benarkah?"

“Ya, begini … ada prosedur baru yang telah mereka tetapkan. Menentukan  semua orang memiliki pasangan yang telah ditentukan dan yang wanita hamil pada usia tertentu. Meskipun aku tidak menemukannya dalam undang-undang terakhir yang kubaca, tetapi sangat mungkin ada undang-undang jika kamu tidak berhasil dipasangkan saat usiamu dua puluh dua tahun, akan ada konsekuensi hukum."

“Oh, aku bisa membayangkan pasti ada aturan seperti itu,"kata Devi. Dia yakin orang tuanya tidak mungkin bersama karena alasan lain.

“Tapi nenek dan kakekmu, itu berbeda. Aku tahu kau tidak pernah bertemu dengan kakekmu, tapi dari cara dia merawat nenekmu, kamu bisa merasakan cinta sejati benar-benar ada."

"Itu yang kudengar dari nenekku," kata Devi. Dia ingat sinar mata nenek ketika bercerita tentang kakeknya.