Now Loading

BAB VIII. DI DALAM HUTAN (BAGIAN 3)

Sebuah pertanyaan tiba-tiba muncul di benak Devi.

“KHAN22 ada di KAMP 13? Komputer yang membuat aturan dan undang-undang?”

“Ya.”

“Tapi … siapa yang mengendalikannya?”

“Tidak ada yang tahu.Setidaknya kami tidak tahu. Maksudku, saat kami di sana saat kami dilatih, kami tidak pernah melihat apa pun selain para Pengawas sepanjang hari. Bagaimana kamu tahu tentang KHAN22?”

“Selalu menjadi bagian dari pelajaranku.”

“Apakah ada yang lain yang kamu ketahui tentang KHAN22?”

“Tidak. Aku tahu semua undang-undang yang berlaku di Barak F, tapi tidak tahu dari mana asalnya, atau apa KHAN22 itu. Aku hanya tahu dia adalah mesin.”

“Memang, tapi yang kami coba cari tahu adalah dari mana kekuasaannya itu berasal. Tidak mungkin mesin merusak kehidupan seperti ini.”

Devi mengangguk. Dia sendiri telah memikirkan hal yang sama selama bertahun-tahun. Saat dia hendak menanggapi Petrus, terdengar bunyi langkah kaki.

“Cihui! Bro, kami kembali dengan rumput yang cukup untuk menutup seluruh permukaan hutan.“

Devi lega melihat Hasmi, yang lengannya dipenuhi begitu banyak rumput menutupi wajahnya. Tepat di belakangnya melangkah tersaruk-saruk Arsanto, yang menggerutu di balik tumpukannya.

“Jangan pedulikan aku, gadis kecil. Telah mengomel sejak mencabut helai rumput pertama. Aku sudah mendiagnosis diriku tanpa memerlukan nutrimeter. Masih dalam batas ambang toleransi kewarasan.”

Petrus tertawa dan menepuk punggung Arsanto, yang memelototinya dari balik rumput.

“Nah, kalau kamu mengeluh, aku tidak tahu apakah berkemah di hutan cocok untukmu.”

“Aku tak mengeluh. Aku hanya mencoba menjalani hidup sebagai manusia,” omel Arsanto.

Kelompok yang hebat.

“Letakkan rumput itu di sana. Aku akan menyusunnya supaya nyaman dipakai berbaring oleh kita semua,”

Arsanto menjatuhkan tumpukannya di samping tempat tidur dan Petrus mulai bekerja menumpuk rumput di atas susunan kayu.

“Kasur yang empuk. Menakjubkan apa yang dapat kamu lakukan dengan beberapa ranting kayu.”

“Baik terima kasih. Semoga berhasil. “

Setelah sekitar lima menit, seluruh struktur tongkat kayu tertutup rerumputan yang tebal. Melihatnya, orang tidak akan pernah menyangka ada tongkat kayu di bawahnya. Tampaknya jauh lebih nyaman daripada tempat tidur di rumah, pikir Devi.

“Nah, sekarang kalian naik dan tidur,” kata Petrus, puas dengan pekerjaannya.

“Kamu tidak tidur, bro?” tanya Hasmi.

“Seseorang harus berjaga-jaga—”

“Omong kosong tak jelas, masuklah ke tempat tidur. Jika ada yang harus melakukan itu, aku akan berjaga-jaga. Aku sama sekali tidak merasa lelah.”

“Kita semua butuh tidur,” balas Arsanto. “Kurasa, tidak ada bahaya yang mengintai malam ini. Semua orang tidur tanpa kecuali. Perintah dokter.”

“Nah, jika dokter mengatakan demikian … sesuai etika dunia lama, perempuan duluan. Silakan, Devi sayang,” kata Petrus dengan ramah.

Devi merangkak dengan hati-hati ke atas tempat tidur. Dia kagum pada betapa nyaman perasaannya di atas rumput yang halus dan lembut. Petrus memungut segenggam tanah lembap dan mulai mengoleskannya ke lengannya.

“Apa-apaan ini?” tanya Arsanto.

“Kita harus menyamar supaya—”

“Kupikir kita akan baik-baik saja. Maaf, aku sekali ini ingin berpura-pura kita bukan buronan, dan tidur di tempat tidur tanpa harus mengotori badan terlebih dulu, kan?” tanya Arsanto. Dia tampak lelah, dan Devi memperhatikan bahwa gurat garis-garis di wajahnya sangat dalam, tapi dia tidak terlihat tua. Garis-garis di wajah dokter itu karena tekanan dan kelelahan. Luka di lengannya adalah luka lama tanpa ada tanda-tanda untuk sembuh. Devi bertanya-tanya dalam hati bagaimana dia mendapatkan luka separah itu.

“Ini akan menjadi malam yang sangat, sangat, sangat panjang,” kata Hasmi. “Kamu merasa nyaman ‘kan, sayang?”

“Nyaman sekali,” kata Devi. Dia tidak berbohong. Meskipun harus berbagi tempat tidur dengan tiga pria dewasa itu, dia belum pernah merasa nyaman seperti yang dirasakannya saat ini.

“Selamat tidur. Mimpi indah semuanya.”

Hasmi berbaring di samping Devi, diikuti oleh Arsanto. Petrus membiarkan tanah lembap di genggamannya jatuh ke bumi dan kemudian menyusul naik ke kasur rumput juga.

Devi memejamkan mata, dan dalam hitungan detik dia langsung tertidur.