Now Loading

Bab 29

Mobil Toyota Innova itu memasuki keramaian kota Yogya tak lama setelah pagi menjelang. Raja sudah menghubungi ibunya untuk meminta bantuan bagaimana caranya bertemu dengan salah satu anggota bangsawan yang tinggal di dalam keraton. Ibunya menyarankan untuk menghubungi seorang abdi dalem bernama Pakdhe Suroto.

Abdi dalem yang sudah sepuh itu bisa mempertemukannya dengan Raden Ayu Kedasih. Salah satu kerabat dekat Sultan Yogya yang terkenal sebagai Doktor ahli sejarah lulusan Universitas Cambridge Inggris dan sekarang mengajar sebagai dosen Ilmu Sejarah di Universitas Gajah Mada.

Raja menimbang-nimbang dengan cermat apakah harus menelpon Pakdhe Suroto atau mencoba menemuinya langsung di keraton tempatnya bekerja. Dia sudah memperoleh nomor abdi dalem itu dari Ibunya. Pemuda ini ragu-ragu menggunakan telepon genggamnya. Khawatir jika pembicaraannya disadap oleh pihak lawan. Firasatnya sangat kuat mengenai hal itu.

“Kita temui Pakdhe Suroto langsung saja di keraton. Kita minta ijin kepada atasannya di sana. Aku khawatir jalur komunikasi ada kemungkinan dipantau ketat oleh Trah Maja. Mereka punya sumberdaya untuk itu. Bagaimana Citra?” Raja memandang Citra meminta pertimbangan.

Citra hanya mengangguk-angguk seperti burung dekuk. Sudah semenjak beberapa waktu lalu, dia memutuskan menyerahkan segala keputusan kepada Raja. Dia percaya pemuda ini lebih logis daripada dirinya yang daya pikirnya sebagian masih harus menyesuaikan dengan zaman sekarang.

Sin Liong hanya menyahut oke dan mengarahkan kendaraan menuju keraton Yogya yang di musim seperti ini pasti penuh dengan pengunjung. Mereka akan masuk sebagai wisatawan untuk menyamarkan keadaan.

Setelah memarkir kendaraan di tempat parkir yang cukup penuh, Sin Liong meminta Raja dan Citra menunggu di dalam mobil sementara dia membeli beberapa perlengkapan di stand-stand yang banyak sekali menjual barang aksesoris.

Sin Liong kembali dengan membawa topi lebar untuk Citra dan blangkon untuk dirinya dan Raja. Kacamata hitam dan surjan tidak ketinggalan. Ketiganya turun dari mobil dengan dandanan yang berbeda. Sedikit aneh tapi Raja menyukainya. Begitu pula Citra.

Sementara Sin Liong mengantri tiket masuk keraton, Raja dan Citra menunggu di bawah pohon beringin raksasa yang tumbuh di pelataran keraton tua itu. Menikmati lalu-lalang keramaian orang-orang yang sedang berlibur bersama rombongan atau keluarga. Keraton ini tidak pernah sepi dari pengunjung. Meskipun jarang sekali yang punya minat khusus terhadap sejarah, namun umumnya mereka datang untuk melengkapi tujuan utama wisata di kota yang jarang tidur ini.

Pandangan mata Raja mengikuti gerak-gerik dua orang yang sedang membaur dengan kerumunan wisatawan. Dua orang yang menurutnya aneh. Sangat jarang terjadi dua orang yang dua-duanya adalah lelaki sebaya lalu berwisata bersama hanya berdua saja. Sama sekali tidak umum. Bagi Raja itu satu hal yang cukup mencurigakan. Urat syarafnya menegang. Entah semenjak kapan, Firasat dan kesiagaan Raja akhir-akhir ini naik secara tajam. Raja bahkan tidak sadar bahwa tangan kanannya terkepal erat dan memanas.

Citra memandang Raja. Diperhatikannya pemuda itu nampak gelisah dan matanya hanya tertuju pada satu titik. Gadis ini mengikuti arah tatapan Raja. Nyaris saja putri yang manjing kembali ini terloncat.

Jika Raja melihat melalui logika dan firasatnya, maka Citra menyaksikan secara fisik dua orang itu adalah dua lelaki kekar dan nampak terlatih dengan mengenakan baju kerajaan yang menunjukkan mereka adalah punggawa Majapahit. Raja sedikit maju untuk menghalangi pandangan langsung terhadap Citra yang sedari tadi memang menjadi pusat perhatian.

Bagaimana tidak? Meski menggunakan topi yang sangat lebar, namun sebagian raut wajahnya tetap kelihatan. Wajah yang sangat jelita dan terlihat sekali aura dan profil aristokratnya. Belum lagi tubuh yang tinggi semampai itu mengenakan celana jeans yang dipadukan dengan kaos panjang yang agak ketat. Sangat seksi. Membuat mata para lelaki seolah dialiri setrum listrik untuk menoleh dan memandang berlama-lama.

Citra biasanya tidak berpakaian seperti itu. Dia lebih menyukai rok atau baju panjang terusan. Namun sebelum berangkat dengan terburu-buru tadi malam, Raja mengingatkan bahwa kemungkinan mereka akan menjumpai petualangan demi petualangan yang mengharuskannya berbaju ringkas untuk memudahkan pergerakan.

Sebenarnya maksud Raja tidak untuk menghalangi pandangan semua orang. Tapi hanya agar Citra khusus terhindar dari tatapan dua lelaki mencurigakan yang meskipun berlagak seperti wisatawan namun terlihat sekali kalau gerak-geriknya sedang melakukan sebuah penyelidikan.

Raja sama sekali tidak menyadari bahwa semenjak cincin berkepala Harimau itu tertanam di jari manisnya, dia sebenarnya mempunyai kemampuan lain. Meskipun tidak seterang Citra yang memang berasal dari masa lalu sehingga mampu melihat wujud sesungguhnya dari dua lelaki berbadan tegap yang sekarang sedang berpura-pura duduk di sebuah warung sambil minum teh hangat namun mata mereka dengan teliti menyisir situasi dan orang-orang, tapi Raja bisa melihat hal yang sama melalui firasatnya.

Citra bisa menebak bahwa dua lelaki itu adalah prajurit dengan pangkat setidaknya hulubalang di jajaran prajurit Majapahit. Cukup tinggi dan pasti mempunyai banyak kelebihan dibanding prajurit biasa. Hulubalang hanya setingkat di bawah panglima yang merupakan jajaran tangan kanan Mahapatih. Gadis ini terus berusaha mengintip dari balik tubuh Raja yang ikut bergeser kemanapun kepala dan tubuhnya bergerak. Citra tahu Raja sedang berusaha melindunginya. Dia senang Raja sudah mulai paham dengan kemampuannya.

Dua lelaki itu mendadak bangkit berdiri. Pandangan mereka tertuju ke sekumpulan wisatawan yang baru turun dari bus berplat nomor F. Raja mengikuti dengan sudut matanya kedua lelaki yang sedang bersiaga sambil terus menatap lurus rombongan yang baru tiba itu.

Raja kembali mendapat firasat lain. Matanya melihat ada dua orang aneh lagi yang berada di antara rombongan. Seorang lelaki dan wanita muda. Dua orang itu meskipun masuk dalam serombongan besar wisatawan, namun gerak-geriknya seolah mereka orang asing dalam rombongan tersebut. Mata mereka bergerak lincah kesana-kemari seperti sedang mencari-cari sesuatu.

Citra melihat perhatian Raja berpindah fokus pada serombongan wisatawan yang baru datang, gadis ini mengikuti dengan sudut matanya. Raja sepertinya mendapatkan firasat lain lagi berkar kemampuan barunya.

Gadis jelita ini kembali terperanjat! Sepasang pria dan wanita dalam rombongan itu jelas sekali adalah prajurit Galuh Pakuan! Pakaian khas Sunda mereka terlihat jelas dari sini.

Astaga, kenapa banyak sekali orang-orang yang manjing kembali di sini? Citra sedikit tercenung. Apakah ini pertanda bahwa Gerbang Waktu sudah sepenuhnya terbuka? Karena orang-orang dari masa lalu hanya bisa manjing kembali jika gerbang itu sudah terbuka secara sempurna.

Kecuali dirinya tentu saja. Dia terperangkap di lukisan yang dibuat oleh seorang pelukis kerajaan sesaat sebelum berangkat bersama ayahandanya menuju Pesanggrahan Bubat. Lukisan yang kemudian ditemukan oleh tim arkeolog yang sedang mengeskavasi reruntuhan kuno yang diduga adalah bekas istana Galuh Pakuan. Lukisan yang mendiami dinding museum Sri Baduga selama puluhan tahun. Dan dia baru bisa manjing kembali begitu melihat seorang pengunjung istimewa datang mengunjunginya. Persis sesuai ramalan dalam Manuskrip Kuno.

Citra melihat pengunjung istimewa yang telah membangunkannya beberapa waktu lalu ini sedang tegang dan waspada sambil terus berusaha menutupi keberadaannya.

Raja memang merasa tak lama lagi akan ada sebuah peristiwa yang tak terduga.

Firasat Raja benar seratus persen. Ketika dua pandangan saling bertemu antara dua lelaki di depan warung kopi dengan sepasang wanita dan pria di antara rombongan wisatawan dari Bogor, terdengar lengkingan nyaring yang memekakkan telinga.

Keempat orang itu saling berlari menghampiri satu sama lain dan langsung baku hantam di pelataran tempat masuk keraton Yogyakarta Hadiningrat.

Tepat saat Sin Liong menghampiri Raja dan Citra sambil melambaikan 3 buah tiket.

* * *********