Now Loading

Lady Bathory, Jejak Dunia Kegelapan

 

Sementara Renata sibuk merapal mantra, Bryan menceritakan tentang dunia kegelapan yang menjebaknya. Dan, beginilah kisah yang disaksikan oleh bocah bertubuh kurus itu.

-----
Lady Bathory mematut wajahnya berlama-lama di depan cermin. Guratan halus mulai terlihat di sekitar bawah matanya yang cekung. Ia tidak suka itu! Ia tidak suka kecantikan yang dimilikinya perlahan luntur.

Lady Bathory masih belum beranjak dari kursi di hadapan meja riasnya. Kali ini pandangannya beralih ke arah tatanan sanggul yang sedikit menurun. Tampak beberapa helai rambut berjuntai. Dan itu membuatnya berteriak keras memanggil pelayan barunya, Ema.

"Ema! Ema!"

Ema berlari-lari kecil meninggalkan kesibukannya di dapur.

"Kau bisa menata rambut dengan rapi, bukan?" Lady Bathory menatap Ema yang berdiri di belakangnya melalui pantulan cermin. Ema mengangguk. Lady Bathory menyodorkan sisir sasak dengan kasar ke arah gadis itu.

Ema mulai menyentuh kepala tuannya. Perlahan. Tapi ia mendapati rambut Nyonya berusia empat puluh tahun itu ternyata amat kusut.

Karena gugup, tanpa sengaja gadis itu menarik rambut Lady Bathory agak keras. Tarikan itu membuat Lady Bathory berseru marah. Suaranya membahana ke seluruh ruangan. Membuat dua orang pelayan tua berlari datang menghambur menemuinya.

Dua pelayan tua itu pun terkejut. Mereka menyaksikan pemandangan itu lagi. 

Ya, lagi. Lady Bathory menyiksa pelayan baru itu. Menampar keras-keras wajah gadis bernama Ema itu hingga hidungnya mengeluarkan darah.

Ema terduduk sembari mengerang kesakitan. Dua pelayan tua itu mencoba membantunya. Mereka memapahnya, berniat membawa gadis itu pergi dari kamar Lady Bathory.

Tapi entah mengapa, mendadak Lady Bathory terdiam. Tertegun. Sesuatu yang aneh tengah dirasakannya.

Cipratan darah dari hidung Ema. Terasa begitu hangat. Perempuan itu memejam mata sejenak.

"Tunggu! Biarkan gadis itu di sini bersamaku!" Lady Bathory mengangkat tangan kanannya. Memberi perintah ke arah dua pelayan berumur itu agar membawa Ema kembali ke hadapannya.

***
Lady Bathory tersenyum puas. Sembari bersenandung kecil ia berendam di dalam bathtub yang airnya terasa hangat. Sesekali ia mencicipi air berwarna merah keruh itu. 

Perempuan itu tidak menyadari kehadiran Bryan di kastil miliknya. Ia tidak menyadari pula jika bocah itu melihat semuanya. 

Ya, Bryan melihat bagaimana Lady Bathory mengiris urat nadi Ema hingga putus dengan sebilah belati sembari mengumbar tawa.

"Oh, Miss Liz! Cepat tolong saya. Bawa saya kembali ke dunia kita. Saya berjanji tidak akan berbuat nakal lagi...." Bryan menyudahi ceritanya. Ia menangis lirih di sudut kamar mandi tak seberapa jauh dari mayat Ema.