Now Loading

BAB VIII. DI DALAM HUTAN (BAGIAN 2)

Petrus meletakkan kayu-kayu itu berbaris di samping tumpukan rumput, sekitar sepuluh sentimeter terpisah satu sama lain.

Dia berjongkok dan meletakkan tongkat kayu lainnya di atasnya, membentuk tempat tidur yang kasar. Lalu merobek kain dari jubahnya dan mengikat kayu-kayu itu. Bekerja dengan cepat dan efisien, dia selesai mengerjakannya dalam dua puluh menit. Petrus lalu membentangkan tumpukan rumputnya di atasnya. Secara keseluruhan, tempat tidur itu tampak cukup nyaman bagi Devi, yang bisa saja tidur sambil berdiri jika perlu.

“Wah! Sayang sekali kita harus menghancurkan ini besok pagi.” Petrus menjatuhkan diri di tempat tidur darurat itu sambil menyeka keringat dari dahinya.

“Mengapa kita harus menghancurkannya?” tanya Devi.

“Berjaga-jaga kalau masih ada Pengawas yang mencari-cari kita. Semakin sedikit jejak yang kita tinggalkan, semakin baik.”

“Oh,” Devi ikur berbaring dan tenggelam di samping Petrus. “Aku mengerti.”

“Aku baru saja berpikir, kamu mungkin orang pertama yang melarikan diri hidup-hidup dari Barak F, setidaknya dalam waktu yang sangat lama, kan?”

“Aku pikir begitu. Suatu ketikapernah aku dan nenek sedang jalan-jalan, kami melihat mayat seorang pria yang mencoba melarikan diri. Aku tak pernah mendengar ada orang yang melarikan diri hidup-hidup setelah itu.”

“Tidak mungkin mereka akan memberi tahu jika ada yang berhasil. Aku yakin mereka kesal, dikalahkan oleh seorang gadis kecil.”

Petrus memandang Devi dan dengan cepat berkata, “Oh, aku tidak bermaksud—”

“Tidak apa-apa,” kata Devi. Dia melihat ke sekeliling hutan, suara gemerisik di sana-sini, tapi Petrus bergeming atau bahkan sekadar memperhatikan, jadi dia mengabaikannya juga.

Petrus melanjutkan. ”Tidak setiap hari pasukan pembawa maut dikalahkan oleh hal-hal kecil yang mereka pikir di bawah kendali mereka. Aku kira kamu benar-benar mempermalukan mereka, sayang.”

Devi tertawa. ”Ya, mungkin saja.”

“Sepertinya kamu agak tegang. Apakah kamu baik-baik saja?”

“Aku … aku hanya ingin tahu suara-suara apa itu,” kata Devi. Saat dia berbicara, daun-daun di pohon di atasnya bergetar.

“Oh! jangan khawatir, itu hanya burung. Aku melihat beberapa ekor terbang dari pohon ini beberapa menit yang lalu. Kamu tidak perlu takut,” kata Petrus sambil mengencangkan ikatan pada tongkat kayu yang kendor.

“Burung?”

“Ya, mereka adalah binatang seperti kelinci yang kita lihat tadi, hanya saja mereka bisa terbang.”

Petrus menatap Devi.

“Kamu takut ya, Sayang?”

“Ya,” Devi mengakui. “Kamu tidak takut?”

“Aku? Takut juga. Kami bertiga telah melalui neraka dan menyeberang sungai yang sedang banjir untukk menghindari para Pengawas. Kami telah berlatih bersama mereka. Kami tahu bagaimana cara mereka berpikir dan bertindak, dan apa yang mampu mereka lakukan. Aku kira bisa dikatakan aku takut … tapi setidaknya aku tahu apa yang kita hadapi.”

Devi mulai merasa kedinginan dan tubuhnya menggigil. Petrus merobek sepotong besar kain dari bagian bawah jubahnya dan melingkarkannya di bahu gadis itu.

“Terima kasih.”

“Sama-sama, nona kecil. Apa lagi yang ada di pikiranmu?”

Devi terdiam sejenak. ”Kenapa kita harus pergi ke Kamp 13? Ada apa di sana?”

Petrus bangkit untuk duduk dan memandang Devi.

“Begini, sayang. Kamp 13 adalah pusat kendali dari segalanya saat ini. Di situlah para Pengawas dilatih, dan di situlah semua aturan dan undang-undang untuk setiap sektor dibuat dan diturunkan. Sejujurnya aku tidak punya rencana apa yang akan kita lakukan ketika kita sampai di sana, tapi yang pasti kami tidak ingin kamu berada dalam bahaya.”

“Tidak ... aku ikut kalian,” kata Devi dengan marah. ”Kalian tidak bisa meninggalkanku.”

“Oh sayang, aku tahu. Jangan khawatir tentang itu. Kami tidak akan meninggalkanmu apapun yang terjadi. Hanya saja, kami tidak bisa membiarkanmu dalam bahaya hanya karena kami melakukan sesuatu yang bodoh dan sembrono.”

Devi menundukkan kepalanya.

“Dan kamu juga sudah mempertaruhkan nyawamu untuk menyelamatkan kami. Kami takkan membiarkan hal itu terjadi lagi.”