Now Loading

Bab 25

Pointe Noire, 4° 46′ 43″ S, 11° 51′ 49″ E
Pasar Gelap Hewan Eksotis


Abebe diikuti 6 orang lelaki mengiringi Cecilia dan Akiko dari belakang. Mata Akiko yang tajam bisa melihat bahwa di pinggang masing-masing orang itu terselip pistol dan belati. Dia yakin Andalas bisa mengatasi mereka jika saja lelaki itu tidak sedang dalam kondisi cedera.

Andalas membuka bagasi mobil sebentar dan pura-pura sibuk membuka resleting tas. Lalu menutupnya lagi.

"Uang sudah siap Nyonya.”

Cecilia mengangguk. Menoleh kepada Abebe.

"Mana barangnya?”Abebe terkekeh kecil. Masih diambil. Sebentar lagi juga sampai. Begitu jawabnya sambil masih terkekeh. 6 orang lelaki yang mendampingi Abebe ikut tertawa. Ini uang mudah.

Tak lama kemudian datang seorang pemuda seumuran Abebe. Tangannya menenteng keranjang yang ditutupi kain warna hitam.  Cecilia menunjuk ke arah bagasi dan memberi isyarat Abebe agar meletakkan keranjang itu sekaligus mengambil uangnya. Akiko bergeser ke depan Cecilia.

Andalas membuka bagasi agar Abebe bisa meletakkan keranjang itu. Saat Abebe hendak mengambil tas travel, Andalas memegang tangannya. Memberi tanda nanti dulu. Aku mau periksa isi keranjangmu.

Abebe mengangkat bahu. Dia membuka kain penutup keranjang sehingga semua bisa melihat seekor bayi Leopard yang lucu sedang terbaring di dalamnya. Abebe kembali terkekeh. Dimasukkannya jari tangan agar bayi Leopard itu terbangun dan dia bisa membuktikan kepada mereka bahwa Leopard itu hidup.

Abebe menarik tangannya dengan cepat sambil menyumpah. Terlihat sedikit darah di ujung jarinya. Abebe digigit Leopard kecil yang marah itu.

Abebe meraih tas travel itu dan membawanya kepada teman-temannya yang penasaran menunggu ingin melihat seberapa banyak uang 125 ribu dollar. Bos Abebe membeli bayi Leopard itu beberapa hari yang lalu seharga 1000 dollar. Abebe menjualnya kepada orang Italia 20 ribu dollar. Dan sekarang tiba-tiba saja bayi Leopard itu bernilai 125 ribu dollar.

Salah seorang teman Abebe membungkuk untuk membuka tas. Sebuah pukulan singgah ke mukanya dengan telak. Diikuti tendangan dan cakaran yang persis mengenai hidung dan pelipisnya.

Lelaki itu rebah terpelanting. Hidung dan pelipisnya mengalirkan darah. Merasa tidak terima, lelaki itu mencabut pistol di pinggangnya. Bermaksud menembak langsung orang yang menyerangnya.

Pistolnya teracung ke muka Abebe. Ternyata Abebe yang telah menyerangnya tadi. Mata Abebe nampak semerah darah, wajahnya sepucat kertas, dan dari sudut mulutnya mengeluarkan busa berwarna hitam. Abebe meledakkan pistol di tangannya yang langsung membuat orang itu pecah kepalanya.

"Heiii! Kau gila Abebe!”Seorang lelaki lain menarik pelatuk pistolnya. Giliran Abebe yang terjengkang tewas karena peluru itu langsung bersarang di otaknya. Situasi menjadi kacau. 5 orang yang tersisa masing-masing hendak mencabut pistolnya. Namun Andalas sudah beraksi. Lelaki itu merobohkan 2 orang sekaligus dengan tendangan yang tepat menghancurkan selangkangan dan mematahkan leher.

Penembak Abebe yang masih memegang pistol membidik Andalas. Sebuah pukulan yang jitu bersarang di pangkal tenggorokannya. Lelaki itu memegangi leher sambil terhuyung-huyung jatuh.

Tersisa 2 orang. Mereka memang tidak berhasil mencabut pistol, namun masing-masing telah menghunus sebilah belati panjang yang berkilat saking tajamnya. Andalas menerjang salah satunya dengan pukulan keras ke arah perut namun bisa dielakkan oleh orang itu yang kemudian balas menyerang membabi buta menggunakan belatinya.

Seorang lainnya berlari ke arah Cecilia yang terpaku diam. Orang itu berniat menyandera orang terlemah di antara mereka. Namun sebuah tendangan melingkar yang cantik mendarat di kepalanya dengan telak. Orang itu berdiri dan membalas menyerang dengan buas memakai belati. Tapi Akiko dengan tenang melayaninya. Kembali sebuah tendangan menghantam dada orang itu, disusul sebuah pukulan melumpuhkan ke batang leher.

Berbarengan dengan robohnya lawan Andalas yang terkapar pingsan setelah kepalan Andalas menghajar kepalanya.

Cecilia terpaku dengan raut muka tak percaya. Ada 2 hal yang membuatnya shock. Dokter Akiko ternyata jagoan beladiri! Dia merobohkan seorang lelaki tinggi besar yang punya berat badan 2 kali berat tubuhnya, dan Abebe menunjukkan gejala infeksi!

Padahal Cecilia melihat sendiri Abebe hanya mendapatkan gigitan kecil dari bayi Leopard  itu tadi. Berarti ini memang bayi Leopard yang mereka cari.

Terdengar sirine polisi dari kejauhan. Andalas buru-buru mengambil tas travel yang berisi baju Cecilia dan Akiko, meletakkannya di bagasi lalu menutupnya. Andalas masih sempat melihat bayi Leopard itu berdiri dengan terhuyung-huyung di dalam keranjangnya.

Akiko sudah melompat masuk ke dalam mobil sedangkan Cecilia masih terpaku menatap mayat Abebe yang dari mulutnya terus keluar busa berwarna hitam, Andalas menarik Cecilia masuk dengan paksa ke jok belakang, menutup pintu dan menghidupkan mobil lalu menekan gas sekencangnya.

Mobil itu melesat dengan kecepatan tinggi meninggalkan halaman parkir berdarah yang sekarang mulai dikerubungi banyak orang. Cecilia sempat melihat kerumunan orang-orang itu. Hatinya tiba-tiba merasakan nyeri yang teramat sangat. Ini bisa mengawali pandemi!

"Andalas! Kalau kau memang jagoan, kembali ke tempat itu! Bakar mayat Abebe dan orang yang telah ditembaknya. Lalu loloskan kami dari polisi!”suara sirine polisi masih cukup jauh terdengar.

Andalas membanting setirnya seketika. Sambil berbalik dengan kecepatan tinggi, lelaki itu meraih sesuatu dari kantong celananya. 2 plastik berisi bubuk berwarna hitam berada dalam genggaman tangannya.

"Akiko tembak ke atas! Bubarkan kerumunan itu!”Andalas berteriak memerintah Akiko yang dilihatnya sudah menimang AK 47 di tangannya. Akiko melakukan apa yang diperintahkan. Terdengar rentetan tembakan memecah udara. Orang-orang yang sedang mengerumuni tempat kejadian perkara kontan ketakutan dan semburat lari kemana-mana.

Mobil itu berhenti tepat di samping mayat Abebe. Andalas turun lalu dengan tenang menaburkan bubuk seperti tepung berwarna hitam ke sekujur tubuh Abebe dan lelaki yang ditembaknya. 2 kantong itu habis ditaburkan. Suara sirine polisi semakin mendekat.

Andalas menyalakan pemantik api dari kayu 2 kali dan melemparkannya ke 2 sosok mayat itu. Terdengar ledakan kecil berkali-kali saat api mulai membakar bubuk. Andalas kembali ke posisi kemudi dan melesat pergi dari tempat itu. Cecila yang duduk di jok belakang melihat ledakan kecil api tadi tiba-tiba membesar dan melahap habis kedua mayat itu dengan api berkobar-kobar.

Meskipun bernafas lega, Cecilia masih tetap bergidik. Seandainya mayat itu tidak cepat dibakar, dia tidak bisa membayangkan proses penularan yang akan terjadi dengan begitu banyaknya orang. Virus akan ikut mati jika inangnya mati. Tapi bakteri tidak! Dia akan tetap hidup meskipun inangnya telah membusuk.

Cecilia saling pandang dengan Akiko. Tergambar rasa senang dan ngeri di wajah mereka. Senang karena inang bakteri berupa bayi Leopard berhasil mereka dapatkan, tapi ngeri karena sekarang mereka sepertinya selalu terlibat dengan kekerasan dan banyak kematian.

* * *****