Now Loading

Surprise

Nada pesan di Hape saya berbunyi. Ketika itu pukul 4.30 sore dan Empat Sekawan sedang bersiap-siapa untuk kembali ke hotel dari Office kami. Pak Man yang sudah bertugas kembali juga sudah siap untuk mengantar kembali.

Saya buka SMS dari nomor Brunei dengan +6738 XXXXX . Isinya bikin saya sedih

“Bang Asep

Sudah dua hari sejak pertemuan kita di Perahu Mahligai. Laila akan berangkat ke Singapura malam ini. Pesawat berangkat pukul 7,30 malam , Kalau bisa ketemu di Lapangan terbang pukul 5. 15 . Salam”

 

Membaca SMS itu saya segera bilang ke Bang Zai dan teman-teman agar kita langsung ke Lapangan terbang saja dari Office. Mereka juga sangat antusias mengantar Laila ke Singapura.

“Pak Man kita ke Lapangan Terbang dulu baru ke hotel”, Kata Bang Zai ketika kami berempat baru saja naik ke kendaraan.

Tidak berapa lama , sekitar pukul 5, kita sudah sampai di bandara. Ternyata Laila belum ada di bandara dan kami menunggu sambil melihat-lihat toko toko yang ada.

Sekitar 15 menit kemudian, Laila baru muncul ditemani Noor dan Irma. Dia bilang Sudah Cek in dari tadi dan menunggu ayahnya pulang dulu berani menemui kami berempat. 
 

Saya dan Laila berbincang-bincang sebentar mengenai rencana Laila belajar Manajemen Perhotelan di Singapura. Laila juga bercerita akan tinggal di kawasan Kampong Glam bersama bibinya di Singapura.

Walau saya sedikit bersedih akan ditinggal Laila, namun Laila tampak gembira karena akan ke Singapura dan bisa sementara lepas dari Muallif.

Sekitar 15 menit kami mengobrol. Sementara Azwar dan Irma serta Noor dan Eko juga mengobrol di tempat terpisah. Laila pun segera pamit karena harus segera masuk ke imigrasi dan boarding.

“Selamat tinggal Abang, Tapi Laila yakin kita akan segera bertemu lagi. Nantikan kejutannya segera”.

“Selamat Jalan Laila” Kata saya lagi.

Ketiga gadis itu kemudian pergi memasuki ruangan imigrasi dan kami berempat segera menuju ke tempat parkir mencari Pak Man yang sudah siap mengantar ke hotel.

Dalam kendaraan kami berempat terdiam dalam lamunan masing-masing dan tidak terasa kendaraan dengan cepat tiba di Gadong.

Malamnya ketika kami berempat makan bersama di Food court, Saya mulai bercerita kepada Bang Zai dan teman-teman tentang kejutan segera. yang diucapkan Laila baru saja. Dan Bang Zai juga mengingatkan bahwa Laila pernah berjanji akan kejutan dalam satu dua hari ketika kami bertemu di perahu mahligai dua hari yang lalu.

Malam itu Saya susah tidur menantikan kejutan segera,

Ternyata kejutan itu datang juga keesokan harinya.

Sekitar pukul 10 pagi, Bang Zai menemui saya dan berkata bahwa kami berempat dipanggil oleh Burhanuddin untuk menghadap Manajer HRD.

“Pak Asep, Zainuddin, Azwar, dan Eko”, demikian manajer HRD memulai pembicaraan.

“Saya ada berita bagus untuk bapak berempat, Kantor Pusat kami di Singapura memutuskan untuk mengalihtugaskan bapak berempat ke Singapura mulai minggu depan. Jadi minggu lusa kalian berangkat “

Kemudian dijelaskan juga kalau kontrak dengan Jakarta tetap dua bulan tetapi sisa waktu di Brunei yang masih satu setengah bulan dialihkan ke Singapura.

Saya , Azwar dan Eko sangat senang sekali menerima berita atau surprise ini. Setidaknya kami ada harapan akan bertemu lagi dengan Laila dan kawan-kawan di Singapura. Sementara Bang Zai terlihat biasa-biasa saja. Mungkin dia berpikir bahwa Laili tidak ikut ke Singapura.

“Rupanya ini kejutan dari Laila”, kata saya kepada teman-teman.

Bersambung