Now Loading

BAB VIII. DI DALAM HUTAN (BAGIAN 1)

“Tidak jauh lagi,” kata Petrus kepada teman-temannya. Dia berada satu meter di depan yang lain.

Devi mempelajari situasi di sekitarnya. Baru kemarin dia terjebak di rumahnya, dengan rasa takut dia bahwa dia akan dieksekusi karena demamnya. Dia memikirkan tentang apa yang akan dikatakan neneknya, tahu dia berhasil melarikan diri dengan selamat. Dia merenungkan tentang apa yang akan dipikirkan neneknya tentang fakta bahwa dia sekarang bersama dengan para pelarian yang kebebasan mereka diperjuangkan nenek dan kakeknya dengan berkorban nyawa.

“Stop,” Petrus mengulurkan tangannya menyuruh semua orang semua orang berhenti berjalan. “Shhh!”

Ada yang datang dari hutan di depan mereka, suara gemerisik lemah. Devi secara naluriah memasukkan tangannya ke dalam saku jubahnya yang compang-camping, meraba pisaunya. Ketakutan yang dia rasakan telah digantikan sepenuhnya oleh adrenalin.

Mereka membeku di tempat. Petrus menginjakkan kakinya dengan kuat di tanah dalam posisi kuda-kuda yang sangat aneh, seolah-olah dia siap untuk menerjang apa pun yang mendekati mereka. Gemerisik itu terus berlanjut, sampai seekor makhluk kecil berwarna coklat muncul dari dalam hutan.

“Wuih! Ini kelinci kecil. Cool, bro, “Hasmi terkekeh.

Devi belum pernah melihat hewan itu sebelumnya. Kelinci kecil itu berdiri dengan kaki belakangnya dan menggerak-gerakkan misainya sebelum akhirnya melompat pergi menjauh.

“Aku hampir kena serangan jantung!” kata Hasmi. ”Kan konyol kalau kita lolos dari Pengawas, tapi mati kaget gara-gara kelinci. Pernah lihat sebelumnya, Devi?”

“Belum.”

“Bayangkan. Ini pertanda baik. Kalau ada satwa liar di sekitar sini, itu mungkin berarti tidak ada Pengawas. Mereka biasanya membunuh semua makhluk hidup yang mereka jumpai. Hal yang diajarkan dalam pelatihan.”

“Ya, mereka semua haus darah,” kata Arsanto. “Jadi apa rencananya, Pet? Kau mengharapkan kami memanjat pohon ini?”

Petrus mendongak, dan mengelus dagunya. ”Hmm. Tidak, itu hampir mustahil, setidaknya untuk saat ini. Yang kita butuhkan adalah tempat untuk tidur sepanjang malam tanpa gangguan.”

Petrus berjalan lebih jauh ke dalam semak belukar. ”Kurasa… kupikir kita tidak mungkin tidur di atas pohon.” Dia membungkuk dan mulai mencabuti rumput dari tanah.

“Apa-apaan, bro?”

“Kita harus masuk lebih jauh ke dalam hutan untuk memastikan kita akan aman. Aku tidak mau tidur di tanah lembap.”

“Hebat juga kau, tidur saja pilih-pilih tempat. Aku ingat kau pernah makan kotoran sapi,” kata Arsanto.

“Itu saat-saat putus asa, kawan. Sapi makan rumput, jadi pada dasarnya aku ikut makan rumput, “Petrus menjawab.

“Ha ha ha, ‘pada dasarnya’.”

“Kamu mau bantu aku merapikan tempat tidur atau mengenang saat aku makan kotoran sapi?” tPetrus.

Arsanto tersenyum. ”Hemmm … pilihan yang sulit. Keduanya pilihan yang menyenangkan.”

“Kita perlu membuat kamuflase untuk berjaga-jaga, jadi sebaiknya kalian mengumpulkan banyak rumput. Kita juga mungkin harus menutup diri kita dengan tanah. Tumpukan rumput di tengah hutan mungkin terlihat mencurigakan. Besok kita harus memikirkan bagaimana cara kita melanjutkan perjalanan. Aku suka ide Devi—hanya saja—aku tak tahu. Tidur di atas pohon akan sangat merepotkan.”

“Setuju,” Hasmi berkata, “Baiklah, kamu mendengar kata pakar. Arsanto, mari kita mulai mengumpulkan rumput. Devi, kamu tinggal di sini bersama Petrus. Kamu telah membantu cukup banyak lebih dari seumur hidup.”

“Aku ingin membantu,” kata Devi.

“Baiklah sayang, kamu bisa membantuku membereskan tempat tidur,” kata Petrus. “Tapi kami serius, kami benar-benar tidak ingin kamu memaksakan diri. Luka parah di lehermu masih berdarah, dan darah berguna untuk bertahan hidup.”

“Baiklah,” Devi mengalah. Dia tahu orang-orang ini bermaksud baik, mereka ingin menjaganya, bukan memerintahnya. Perbedaan yang dia pelajari dari cara bicara papa dan neneknya.

Petrus membawa Devi lebih jauh ke dalam hutan. Mereka baru berjalan sejauh lima meter ketika Petrus meletakkan rumputnya. ”Menurutku di sini bagus.”

Dia mencari-cari di sekitar tanah dan tersenyum, mengambil beberapa cabang dan ranting kayu.

“Waktu aku kecil, kakekku biasa mengajakku berkemah sambil berburu. Seorang kepala suku. Dia biasa menyuruh kami membuat alas tidur untuk berjaga-jaga. Aku tak menyangka pelajaran itu berguna sekarang.”