Now Loading

BAB VII. PUNCAK DUNIA (BAGIAN 3)

“Setelah mengetahui tentang ini, kami mulai berhenti makan makanan paket. Kebetulan kami juga belum menjalani … operasi pengangkatan, jadi kami lebih beruntung.”

“Betul betul betul, bro,” seru Hasmi.

“Berbulan-bulan  kami bertiga mencoba mencari cara untuk melarikan diri dari pasukan sambil mencoba menipu kepala Unit Pelatihan Pengawas bahwa kami otak kami sudah dicuci seperti yang lain.”

“Pasti tidak mudah,” kata Devi, mengingat betapa keras usaha neneknya mencoba mengakali sistem saat mengajarinya.

“Jelas tidak. Untungnya bagiku, mereka masih membutuhkan aku. Sebagai satu-satunya ahli medis di sektor kami, juga karena pil 13 masih memiliki beberapa kendala yang harus diselesaikan. Namun, kalau masalah pil 13 terselesaikan, kita semua bakal hanyut ke laut.”

Devi terkikik.

“Maaf, maksudku, kita semua benar-benar kacau. Mereka mulai menguji tingkat nutrisi orang, menggunakan alat untuk memastikan semua orang makan. Saat itulah kami ketahuan.”

“Hari terburuk dalam hidup kita,” kata Hasmi.

“Setuju,” jawab Petrus, menyodok api dengan ranting kayu.

“Apa yang kalian lakukan?” Devi bertanya dengan cemas.

“Mereka menempatkan kami bertiga di sebuah ruangan dan bertanya mengapa kami tidak makan. Asal tahu saja, mereka tidak menganggap 'kami tidak lapar' sebagai jawaban. Kami disetrum, disiksa, dan nyaris membunuh kami. Satu-satunya alasan kami tetap hidup adalah karena kami memiliki spesialisasi yang sangat mereka butuhkan. Aku tahu bagaimana menangani efek samping pil 13, Hasmi memiliki informasi militer yang sangat rahasia, dan Petrus sangat berharga bagi mereka karena keahlian pelacakannya. Jadi kami ditahan selama beberapa jam. Kami berpikir pasti akan dibunuh, atau mungkin lebih buruk, ketika salah satu Kepala Pengawas masuk. Dia menatap kami bertiga, dan bertanya apakah kami berencana untuk melakukan makar selama sisa pelatihan. Dia bertanya apakah kami berkomplot.”

“Dan saat itulah dia melakukannya, Nak.” Hasmi pindah dari api unggun dan duduk di tanah di sebelah Devi.

“Dia bilang 'kalian tahu apa konsekuensinya?' Dan para bajingan itu menyeret istriku ke dalam ruangan. Tangannya diikat. Sungguh, aku tak menyangka. Mereka menyuruhnya berlutut di depanku—Irene-ku yang cantik—dan mereka menembaknya di belakang kepala. Ya ampun ... aku belum pernah merasakan sakit yang melebihi itu. Aku bangkit dan membunuh mereka yang ada di ruangan itu dengan tangan kosong. Tiga ekor anjing. Kami melarikan diri membawa banyak makanan pencuci otak itu bersama kami, dan menghindari penangkapan hampir tiga tahun lamanya. Tapi akhirnya kami tertangkap dan dijebloskan ke dalam penjara kecil tempat kamu menyelamatkan kami, Nak.”

Hasmi berbaring, kelelahan karena cerita itu. Devi bisa melihat butir air di pelupuk matanya. Arsanto menepuk lutut temannya sebelum melanjutkan.

“Setelah mereka membunuh istri Hasmi, kami tahu bahwa kita berhadapan dengan monster, yang dikendalikan oleh mesin. Kami tidak tahu seberapa buruk keadaan selama dalam pelarian, tapi segera setelah kami tertangkap—”

“Tunggu—mengapa mereka membiarkan kalian hidup?” Devi bertanya. ” Seorang pria yang mencoba melarikan diri dari Barak F beberapa hari yang lalu ditembak dan dibunuh saat kepergok.”

Arsanto tersenyum. ”Saat itu undang-undang belum seperti sekarang. Saat kami ditangkap, mereka melemparkan kami ke bangunan terdekat dengan kunci yang bisa mereka temukan. Di daerah ini penuh dengan penjara bawah tanah—hal yang biasa mereka lakukan sebelum ledakan penduduk menjadi begitu buruk. Pada dasarnya, mereka menguburmu di bawah tanah, berharap kamu mati kelaparan.”

“Berapa lama kalian di bawah sana?” Devi bertanya.

“Oh, aku tak tahu. Bulan … tahun, mungkin? Petrus mulai melacak di tembok dengan sebuah batu, tetapi menyerah setelah sembilan puluh hari, jadi paling tidak selama itu. Kami memakan cukup banyak paket makanan dari pelatihan, dan kami hanya makan sedikit setiap hari untuk berhemat, juga untuk menghindari kerusakan otak.”

Petrus keluar pindah dari api unggun dan ikut duduk bersama. Mereka berempat duduk diam untuk waktu yang lama sebelum akhirnya dia angkat bicara.

“Bagaimana denganmu, Sayang? Apa ceritamu? Untuk kabur kami harus bertiga. Bagaimana mungkin anak kecil sepertimu mampu melakukannya seorang diri?”

Devi memeluk lututnya dan menatap jauh ke batas cakrawala sebelum menjawab.

“Aku punya seorang nenek yang bercerita tentang segala hal sebelum dunia menjadi seperti sekarang. Dia dibunuh beberapa minggu lalu, tapi dia membuatku berjanji untuk kabur. Dia memberi tahuku arah mana yang harus kutuju untuk keluar dari kuadran kami supaya aku tidak tertangkap. Jadi tadi malam, aku memotong keeping pelacakku dan berlari sekuat tenaga.” katanya sambil tersenyum.

“Sayang, kamu adalah gadis kecil terbaik yang pernah ada.” Petrus merangkul bahu Devi. ”Turut berduka cita untuk nenekmu. Kamu dan Hasmi merasakan kekejaman monster-monster itu. Aku dan Arsanto, kami belum pernah menikah dan sudah lama kehilangan keluarga … tapi kalian berdua … aku tidak bisa membayangkan.”

“Apakah seluruh dunia seperti ini?” Devi bertanya.

“Tidak ada cara untuk mengetahuinya dengan benar - kontak dengan sektor lain dinonaktifkan beberapa tahun yang lalu,” kata Petrus.

Arsanto mengangkat kepalanya.

“Itulah mengapa kita harus benar-benar melaksanakan rencanakan kita.”

“Rencana apa?” tanya Devi.

Arsanto berdiri dan mengambil selembar kertas dari jubahnya. Dia menyerahkannya ke Devi.

Matahari mulai terbenam dan matanya sangat lelah. Yang bisa dia lihat hanyalah peta yang digambar dengan kasar.

“Apa ini?” tanyanya, menyerahkan peta itu kembali ke Arsanto.

“Itu tempat yang kita cari sejak kita melarikan diri, kesempatan terakhir.”

Devi bingung. Dia menyipitkan mata untuk mencoba melihat tulisan di peta, tetapi peta itu kotor dan dekil.

Arsanto melipat peta itu dan menyelipkannya kembali ke dalam jubahnya.

“Sebaiknya kita semua bersiap-siap, karena kita akan berangkat ke Kamp 13.”