Now Loading

Mengungsi ke Singapura

Empat hari berlalu tanpa ada kejadian yang istimewa sejak penculikan Tiga Sekawan, Asep, Azwar, dan Eko. Kami berharap tiga hari lagi berlalu sehingga rencana Laila dapat terungkap. Asep sendiri sudah menceritakan isi surat Laila tentang perubahan strategi Laila yang hingga hari ini masih menjadi rahasia.

Berita meninggalnya putra satu-satunya Muallif dari istri kedua juga sudah saya terima baik dari Asep maupun dari Mas Giri yang sempat menelepon ke hotel dua hari lalu. Mas Giri sendiri untuk sementara menyarankan menunggu saja rencana Laila. Apalagi setelah mendengar kisah penculikan kedua yang gagal.

Sore itu, ketika kembali dari Office saya mendapat titipan surat dalam amplop biru di resepsionis. Segera surat itu saya bawa ke kamar dan dengan tidak sabar saya membukanya, Ternyata suratnya berasal dari Laili. Isinya sangat singkat dan padat:

Bang Zai yang Laili hormati

Kak Laila meminta Bang Zai dan kawan-kawan semua untuk bertemu di Perahu Mahligai esok siang seusai Zuhur. Ada hal penting yang harus dibicarakan.

Terima Kasih

BSB , 27 April 1998

Saya segera memberitahukan isi surat ini kepada Eko yang kebetulan sedang santai dan kemudian Eko memberi tahu Asep dan Azwar di kamar sebelah.

Malamnya ketika makan di Restoran CA Mohammed, Empat Sekawan kembali berdiskusi dan bertanya-tanya mengenai hal penting apa yang akan dibicarakan Laila besok. Mengapa dia mengutus Laili untuk menulis surat. Dan seperti biasa kita tidak usah kaget kalau Laila selalu tahu jadwal libur kami berempat besok yang kebetulan jatuh hari Rabu.

Berbagai skenario liar sempat kami bahas termasuk kemungkinan Laila akan meminta buat kita menghentikan hubungan dan melupakan kisah dan pertemuan yang sudah terjadi demi keselamatan kami berempat sendiri. Atau bahkan kemungkinan minta kawin lari. Apa pun skenarionya, tetap saja kami berempat dipenuhi dengan tanda tanya besar..

Hari itu, 28 April 1998. Cuaca lumayan cerah di Gadong dan juga kota Bandar Seri Begawan. Kami naik bus no.01 Circle Line menuju Bandar dan turun di Terminal di Jalan Cator. Sudah cukup lama kami tidak pergi ke Bandar.  Karena itu kami pergi agak awal pagi itu supaya sempat menikmati suasana Bandar lalu makan siang di Yayasan dan baru salat zuhur di Masjid Perahu.

Selesai salat, Empat sekawan berjalan perlahan menuju perahu mahligai. Kami berharap akan bertemu dengan empat wanita yang sudah mencuri hati kami yaitu Laili, Laila, Irma dan Noor. Tetapi ketika sampai di sana ternyata tidak ada siapa-siapa.

Lima belas menit kami menunggu dengan sabar sambil memandang langit biru yang sedikit berawan, kubah masjid yang keemasan dan riak gelombang ditiup angin di laguna. Karena bosan, Asep, Azwar dan Eko menjelajah di tepi jalan tepi Laguna melihat rumah rumah tua di Kampong Sungai Kedayan. Walaupun rumah-rumahnya kelihatan tua dan banyak yang ditinggalkan, banyak mobil-mobil bagus yang di parkir di sana.

Ketika Asep dan kedua temannya masih di jalan di tepi Laguna, saya melihat seorang perempuan mendekat. Dia datang dari arah masjid. Memakai baju kurung berwarna biru dengan motif bunga warna-warni. Jilbabnya juga memakai motif yang serasi dengan bajunya.

“Laili !"  Saya memanggil gadis itu ketika dia mendekat. Benar ini adalah Laili yang terakhir bertemu saya minggu lalu ketika memberikan tiga surat dari Laila, Irma dan Noor buat ketiga teman saya.

“Maaf Bang Zai, Saya bukan Laili, Saya Laila.” Kita baru sekali bertemu walau dari jauh sewaktu di Karaoke dekat terminal”, Saya kaget karena baru kali ini melihat Laila dari dekat dan sangat mirip dengan Laili. Sulit bagi saya untuk membedakan mereka berdua.

“Mudah saja Bang Zai ,Laili kalau bertemu Abang akan selalu membawa tas yang Abang hadiahkan dulu”, tambah Laila lagi.

Saya baru ingat bahwa saya pernah membawa oleh-oleh tas kulit dari Tanggul Angin untuk Laili.

Tidak lama kemudian Eko dan Azwar dan Asep pun ikut berkumpul di perahu mahligai. Yang bikin kaget ternyata Noor dan Irma juga sudah ada bersama mereka. Rupanya Noor dan Irma menjumpai Eko dan Azwar di jalan tepi Laguna dekat Kampung Sungai Kedayan.

“Baiklah, Kita semua sudah berkumpul, Saya akan menceritakan strategi saya”, Kata Laila lagi

“Tapi dimana Laili? “ Tanya Saya

“Laili sedang kurang enak badan tadi”, jawab Laila

Laila kemudian dengan nada sedikit sedih menceritakan apa yang akan terjadi kemudian. Dia menceritakan bahwa Muallif sudah mendesak ayahnya agar menerima lamaran. Laila akan dijadikan istri ketiga dengan alasan istri pertama tidak punya anak dan putra satu-satunya dari istri kedua baru meninggal

Sebenarnya lamaran secara tidak resmi ini merupakan pengulangan beberapa kali lamaran sebelumnya yang selalu diterima secara basa basi oleh ayah Laila namun ditunda-tunda oleh Laila. Kali ini Laila tidak menolak tetapi mengajukan syarat bahwa akan menerima lamaran Muallif setahun kemudian.

Namun Muallif tidak bersedia karena melihat bahwa Laila berhubungan dengan orang Indonesia yang sekarang kebetulan bertugas di Brunei. Muallf sendiri tidak tahu siapa di antara kami berempat yang sesungguhnya punya hubungan istimewa dengan Laila. Dia hanya menyebut orang Indonesia. Walau kemudian sempat terucap nama Asep.

Akhirnya Laila memberikan solusi bahwa dia akan mengungsi sambil belajar Manajemen Hotel selama satu tahun di Singapura. Kebetulan ada program diploma yang sejak dulu diminati oleh Laila. Siapa tahu nanti setelah menikah Laila ingin mengembangkan bisnis perhotelan. Kebetulan Laila mempunyai seorang bibi yang tinggal di Singapura.

Muallif kemudian setuju dengan syarat Laila harus berangkat secepatnya untuk menghindari hubungan dengan Empat Sekawan. Laila kemudian juga bercerita bahwa Noor dan Irma juga akan menemani dalam beberapa bulan pertama.

Kami berempat sempat sedih, karena dengan demikian, hubungan kami akan berakhir. Laila akan diungsikan selama setahun dan kami sendiri masih harus ada di Brunei sekitar dua bulan lebih.

“Jangan khawatir, akan ada keajaiban dalam satu atau dua hari lagi” Kata Laila lagi.

Pertemuan kami bertujuh hanya berlangsung sekitar 15 menit saja. Laila dan teman-temannya minta pamit dan kami kemudian kembali ke terminal untuk naik bus 01 Circle line ke Gadong.

Dalam perjalanan , saya masih penuh pertanyaan akan kejutan yang akan terjadi dalam satu atau dua hari lagi.

Bersambung