Now Loading

Sihir dari Dunia Kegelapan


Angin malam menderu disertai hujan deras mengampuh. Aku terpekur di sudut kamar. Gelisah. Pikiranku masih tertuju pada bocah bertubuh kurus itu. 

Bryan.

Beberapa jam lalu ponsel di atas meja terus berdering, menyampaikan panggilan masuk dari orangtua Bryan. Aku terpaksa berbohong. Kukatakan kalau Bryan masih bersamaku. Membantuku mengerjakan tugas untuk persiapan lomba kelas. Dan aku berjanji sebelum tengah malam, ia sudah aku antar pulang.

Ini sudah hampir tengah malam. Tapi aku belum juga beranjak dari tempat dudukku. Aku masih dilanda kebingungan.

Kemana aku harus mencari keberadaan bocah itu? Bryan menghilang bersama pensil warisan dari kakek. Menurut Dirga ia menghilang di dalam kepulan asap hitam. 

Oh, Tuhan ... mengapa dulu aku bersedia menerima pensil itu? Aku sedikit menyesali keputusanku.

 Jlegeerrr!

Petir menggelegar. Membuyarkan kebingunganku. 

Aku beranjak menuju jendela, menarik daunnya yang berderak-derak tertiup angin.

Mendadak --- sesuatu seperti butiran salju menempel lekat pada punggung tanganku. Terasa amat dingin. 

"Miss Liz, tolong saya!"

Itu suara Bryan.

"Miss ... Anda bisa melihat saya bukan?" 

Aku menajamkan penglihatanku. Sebuah bayangan --- tak berbentuk, melayang menghampiri.

"Boy! Apa yang terjadi padamu?" seruku girang bercampur was-was.

"Saya terperangkap Miss. Entah di mana. Yang pasti tempat ini sangat menakutkan. Pekat dan berbau anyir...." Bryan bercerita dengan suara terbata-bata. Aku terperangah.

"Saya dikelilingi makhluk-makhluk yang menyeramkan. Saya juga mendengar nyanyian-nyanyian aneh. Seperti hymne  lagu kematian. Please, Miss ... tolong bebaskan saya!"

"Boy, tenanglah! Aku pasti akan membantumu."

Astaga, apa yang barusan kukatakan? Menjanjikan sesuatu yang belum tentu aku mampu melaksanakannya?

"Dunia kegelapan, Miss!" Bryan seolah tahu apa yang tengah berkecamuk dalam pikiranku. 

Aku menggigit bibir, menyesal telah memberi harapan terlalu muluk pada bocah bertubuh kurus itu.

***
Renata! Nama itu tiba-tiba saja terlintas dalam pikiranku. Ya, hanya dia satu-satunya yang bisa kuharapkan.

Aku tidak ingin membuang-buang waktu berlama-lama lagi. Segera kuraih ponselku.

"Renata? Bisa datang kemari sekarang juga?"

"Saya sedang di luar kota, Miss."

"Please, Rena! Ini darurat!" Aku berseru gugup. Pembicaraan mendadak terputus. 

Aku tidak berani menatap bayangan Bryan. Aku mulai putus asa. 

"Miss Lis. Maaf saya terlambat datang."

Renata. Gadis itu tahu-tahu sudah berdiri di belakangku.

"Rena! Ini aku, Bryan!" Bayangan Bryan bergerak-gerak mendekati Renata.

"Jangan ribut begitu, Bry. Tenanglah. Kau bisa mengacaukan konsentrasiku. Aku mesti mengingat beberapa mantra untuk bisa membebaskanmu," Renata mengangkat kedua telapak tangannya. Bibirnya berkomat-kamit, lalu terlihat asap putih berpendar mengelilingi sekitarnya.

"Hups! Saya tidak bisa menembus kabut tebal yang memagari tubuh Bryan, Miss!" Renata terhuyung mundur. Ia nyaris terjengkang, seolah terdorong oleh sesuatu berkekuatan sangat besar.

"Renata! Coba sekali lagi! Kau pasti bisa!" Bryan berteriak-teriak panik. Renata menghela napas panjang, membetulkan posisi berdirinya lalu sontak menggamit lenganku.

"Anda harus membantu saya, Miss Liz! Harus! Sihir dari dunia kegelapan ini --- sungguh teramat sangat kuat."