Now Loading

BAB VII. PUNCAK DUNIA (BAGIAN 2)

“Kata siapa aku bicara seperti orang bodoh?”

Devi menghembuskan napas lega. Suara itu adalah suara pria yang disukainya—yang berbicara seperti neneknya.

Pria itu menatapnya. Dia memiliki mata coklat kehitaman dan rambut hitam panjang keriting. Janggutnya kusut dan tidak terawat, tapi senyumnya putih cerah terlihat dari janggutnya.

“Bagaimana perasaanmu, sayang?”

“Aku baik-baik saja sekarang. Terima kasih.” Devi meluruskan perbannya kembali ke posisinya yang benar.

“Aku minta maaf untuk menakut-nakuti kamu seperti itu. Aku menemukan beberapa buah beri hutan, mungkin beracun mungkin tidak, tetapi hanya ada satu yang mengetahuinya.”

“Bawa ke sini,” Arsanto memanggil dari balik api unggun.

“Bagaimana kalian bisa menyalakan api?” Petrus bertanya, mengagumi tingginya nyala api.

“Menurutmu bagaimana? Caranya dengan menggosok dua kayu kering sialan sampai melentikkan bara.”

“Rasanya aku tidak ingat kapan terakhir kali aku menyalakan api unggun di siang bolong,” kata Petrus sambil berjalan ke arah Arsanto.

“Lebih baik begini,” kata Arsanto, mengambil buah beri dan memeriksanya. ”Lebih sulit melihat api saat hari terang, jadi lebih sedikit kemungkinan untuk tertangkap. Ini oke untuk dimakan. “ Dia mengembalikan buah beri itu ke Petrus.

“Baiklah, kita harus memberikan jatah ini. Tiga untukmu, hasmi. Tiga untuk Santo, dua untukku. Ini sayang, kamu dapat empat. Kamu pasti kelaparan.”

“Terima kasih.” Devi menerima buah beri itu dan menggigitnya. Cairan asam manis mengalir ke mulutnya, menggugah selera. Yang dirasakannya sesuatu yang sama sekali berbeda dari ransum Barak F. Ekspresinya yang tertegun pasti terlihat jelas.

“Kurasa kamu belum pernah makan makanan sebelumnya ya?”

Devi menelan ludah. ”Kami mendapat makanan. Aku benci itu. “

Hasmi mendongak dari buah beri-nya. ”Yeah, 'makanan' sialan. Kamu beruntung bisa kabur setelah menyantapnya. Kamu tidak tahu apa yang dilakukan makanan tersebut terhadap otakmu.“

“Maksudnya?”

“Mereka memberitahu semua tentang itu saat kami berlatih untuk menjadi Pengawas. Nutrisi yang ada dalam paket makanan mengacaukan pikiranmu, membusukkan dari dalam, seperti membiarkanmu lebih mudah dikendalikan.??”

“Kamu Pengawas?” tanya Devi ketakutan karena trauma kembali menghantui.

“Oh, demi Tuhan, Has! Kau membuatnya takut!” Arsanto  datang dan duduk di sebelah Devi.

“Aku, Hasmi dan Petrus sedang dalam pelatihan. Kami dipilih karena di sektor kami, kami semua memiliki keahlian khusus. Aku adalah seorang dokter—salah satu pengembang Pil-13, sebenarnya, yang justru mematikan profesional medis sepertiku. Hasmi ada di sini awalnya menjalani operasi CIA, menikah dan menetap di Mempawah. Petrus asalnya dari Papua dengan keahlian khusus melacak dalam kesatuan Pakta Pasifik. Apakah semua ini masuk akal bagimu? Tahukah kau apa itu Persatuan Bangsa-Bangsa?“

Devi mengangguk. ”Nenekku bercerita tentang semua yang dia ingat sebelum semuanya pergi ke neraka. Indonesia, Asia, Amerika, semuanya.“

Hasmi tertawa, dan Arsanto mengangguk.

“Bagus. Dalam rangka mengubah PBB menjadi Bumi Serikat, satu pemerintahan untuk seluruh planet, maka sektor menggantikan negara-negara. Kami diminta untuk menjadi Pengawas. Mereka dengan mudah menemukan orang-orang yang diperlukan untuk pekerjaan itu. Kami mengira itu adalah badan baru untuk mengganti Pasukan Keamanan PBB. Sejujurnya, semuanya terdengar sangat bagus. Kamu akan dapat melindungi orang, melindungi hukum, dan hanya elit di bidang masing-masing yang dipilih. Kami duduk di puncak dunia, tidak pernah mengira orang-orang ini adalah psikopat yang tidak manusiawi dan sebagian besar adalah tahanan yang akan menghancurkan dunia. Begitu pelatihan dimulai, kami mengetahuinya. Kami menemukan semua yang telah direncanakan. Tapi menurutku hal yang benar-benar membuat kami muak dan tidak ingin melakukannya adalah—“

“Mereka mengebiri kalian, bro! Mereka memompa kalian dengan testosteron dan mengebiri kalian!“ Hasmi berteriak.

“Ehm, benara,” lanjut Arsanto. ”Tapi lebih dari itu. Segalanya menjadi sangat buruk. Ketika pembunuhan disamarkan sebagai eksekusi. Semuanya mulai benar-benar lepas kendali. Kami bertiga tahu bahwa kami tidak dapat melakukannya. Awalnya kami memiliki pria kawan-kawan di unit pelatihan yang setuju dengan kami, tetapi secara misterius, satu per satu, mereka semua berubah.“

“Berubah bagaimana?” Devi sekarang duduk dengan penuh perhatiannya, seperti saat neneknya menceritakan masa lalu padanya.

“Otak mereka perlahan-lahan dicuci—lebih dari itu—kau tahu 'makanan' yang disediakan Pengawas untuk semua orang? Siapa pun yang memakannya mengalami semacam lobotomi kimiawi. Zat-zat yang secara perlahan-lahan merusak bagian otak. Tapi apa yang mereka berikan kepada Pengawas dalam masa pelatihan bekerja lebih cepat, membuat orang itu rentan. Dan ketika kau mencampurnya dengan testosteron dosis tinggi—kau mendapatkan pasukan yang kuat, bodoh, dan kejam.“

Mulut Devi ternganga. Belum pernah dia tahu para Pengawas manusia juga seperti dirinya.