Now Loading

Strategi Baru Laila

Sesampainya di kamar, Azwar langsung merebahkan tubuh di tempat tidur. Karena sangat lelah, tidak lama pun dia sudah melayang dalam alam mimpi sambil mendengkur halus.

Saya sendiri, selesai membersihkan diri, mencoba merebahkan tubuh. Namun saya teringat amplop putih yang diberikan lelaki tua ‘sang penyelamat’ kami bertiga tadi.

Seperti diduga, ini adalah surat dari Laila:

“Bang Asep yang Laila sayangi,

Sudah lebih satu minggu Bang Asep dan kawan-kawan kembali ke Brunei, namun belum sekali pun kita bisa berjumpa. Laila sengaja tidak keluar rumah karena khawatir Muallif akan bertindak kasar lagi kepada abang dan teman-teman.

Beberapa hari lalu, dia telah menggunakan jasa paranormal balian untuk berbuat jahat terhadap Mas Giri, namun kemudian berbalik ke anaknya sendiri. Namun dia tidak pernah menyerah. Ternyata Muallif telah memerintahkan tiga orang anak buahnya untuk menculik Bang Asep bertiga.

Bang Asep harus lebih hati-hati lagi. Banyak cara dan tipu daya yang digunakan untuk memisahkan kita dan untuk dia mencapai tujuannya.

Tampaknya Laila tidak bisa menunggu rencana semula dimana Laila menunggu kepulangan istri pertama Muallif dari Singapura untuk mendesak nya membatalkan rencana melamar Laila. Namun dengan meninggalnya satu-satunya anak Muallif dari istri kedua tadi pagi, Muallif akan punya seribu alasan untuk tetap melamar Laila. Istri pertamanya mungkin tidak bisa mencegah lagi.

Karena itu Laila punya strategi baru untuk menghadapi Muallif. Rencana ini akan Laila ungkap ke Bang Asep minggu depan.

Untuk sementara, kita masih harus menjaga jarak dan menahan diri masing-masing untuk tidak saling jumpa secara fisik.

Namun Bang Asep selalu ada dalam hati Laila.

Pesan Laila, jaga baik-baik Keris Brunei dari Laila, karena benda itu dapat menjaga Abang. Tadi sudah terbukti keris itu bisa membebaskan Bang Asep dan teman-teman dari usaha penculikan oleh Muallif. Namun usahakan agar peristiwa ini tetap menjadi rahasia, agar tidak membahayakan keberadaan Bang Asep dan kawan-kawan di Brunei ini.

Teriring salam hormat buat Bang Zai dan juga Azwar dan Eko.

Laila yang selalu merindukan Abang

Bandar Seri Begawan, 23 April 1998

Saya baca surat dari Laila itu dua tiga kali lagi, saya masih belum mengerti apa maksud Laila dengan mengubah strategi. Namun berita kematian anak Muallif cukup menyedihkan buat saya. Ternyata perseteruan ini sudah memakan korban jiwa selain Pak Warjito.

Surat itu kemudian saya lipat rapi dan dimasukkan lagi ke dalam amplop putihnya.

Saya belum memutuskan kapan waktu yang tepat untuk memberitahu Bang Zai dan juga teman-teman saya.

 

Bersambung