Now Loading

Bab 28

Gian Carlo menggereng marah. Tubuhnya bergerak menerjang Hoa Lie yang tersenyum mengejek sambil berlompatan menghindar. Lelaki Italiano itu makin marah. Wanita cantik yang dari raut mukanya berasal dari Asia Timur itu lincah sekali. Dia bertubuh tinggi dan rutin melakukan latihan tinju, tapi wanita di depannya ini bergerak seringan kupu-kupu. Semua straight dan job yang dilepaskannya hanya menemui angin.

Wanita itu merebut benda yang telah susah payah didapatkannya! Gian Carlo meraih pistol di pinggangnya. Hanya sepersekian detik terlambat karena 2 kali tendangan melingkar dari Hoa Lie mendarat dengan mulus di kepala dan lehernya. Gian Carlo terjungkal. Meski kesakitan lelaki yang sangat bugar itu cepat bangkit kembali. Namun jeda waktu yang pendek itu dimanfaatkan Hoa Lie untuk menghilang di balik semak dan lebatnya pepohonan.

Gian Carlo mengumpat berkali-kali karena meskipun telah berusaha mengejar, dia hanya bisa menyaksikan lampu motor bergerak cepat menjauhi tempat itu. Hoa Lie berhasil lari darinya dengan membawa potongan Manuskrip Kuno. Kembali Gian Carlo menyumpah tak habis-habis. Perempuan sialan!

Sementara suara ramai ledakan dan tembakan di gerbang Trah Pakuan sudah berhenti. Gian Carlo mendengar suara gaduh orang-orang sedang melakukan penyisiran. Buru-buru lelaki yang tangguh ini menyusup jauh di belukar dan pepohonan sambil berjalan turun menuju sepedanya yang disembunyikan jauh di semak di bawah sana. Hari sudah menjelang pagi ketika Gian Carlo mengayuh sepedanya kembali ke villa yang disewa. Dia harus menghilangkan jejak-jejaknya di sana sebelum kembali ke kota Bogor. Dia akan menyelidiki siapa wanita hebat beretnis China yang berhasil merebut bagian dari Manuskrip Kuno. Gian Carlo bertekad akan memburunya. Untunglah dia tadi sempat memotret wanita itu menggunakan kamera mini di jam tangannya.

Sebuah pikiran terlintas di benak Gian Carlo sebelum meninggalkan villa. Bagaimana nasib Wisanggeni? Tapi ditepisnya pikiran tersebut karena itu bukan tanggung jawabnya apakah pembunuh bayaran itu selamat atau tidak. Lelaki itu bisa bertanggung jawab terhadap dirinya sendiri.

-----

Sin Liong bercerita panjang lebar kepada papanya apa yang terjadi kepada Raja dan Citra. Bagaimana Mada mulai bereaksi keras dan agresif dengan mengirimkan teluh maupun sihir untuk menyerang keduanya.

“Tentu saja dia akan berbuat seperti itu. Taruhannya terlalu besar jika hanya menunggu kalian datang ke Bubat dan menangkap kalian di sana. Pergilah ke tempat potongan Manuskrip ketiga yang belum berpindah tangan. Manuskrip itu memang berada di tangan salah satu Trah Pakuan. Tapi lebih aman jika berada di tangan kalian.”

“Kemana kami harus pergi mengambilnya Papa?” Sin Liong mengerutkan kening bertanya.

Babah Liong menyebutkan nama seseorang dan sebuah tempat yang mengejutkan ketiga orang tersebut.

“Temui dan bicara baik-baik dengan wanita bernama Raden Ayu Kedasih di keraton Yogyakarta.”

Sin Liong dan Citra saling berpandangan dengan bingung. Nama itu sangat Jawa sekali dan tinggalnya di keraton Yogya? Bagaimana mungkin Trah Pakuan memiliki anggota dengan nama itu dan tinggal di tempat yang mustahil seperti itu?

Tidak ada penjelasan yang mereka terima karena hubungan telpon itu sudah terputus. Babah Liong sendiri mungkin tidak tahu harus menjelaskan seperti apa karena itulah dia memutuskan menutup sambungan.

Sin Liong mengangkat mukanya menatap Citra,”kita ke Yogya, Putri?”

Citra mengangguk tegas,”kita berangkat malam ini juga. Terlalu berbahaya semakin lama di sini. Mada telah mengendus keberadaan kita meski aku tidak tahu apakah itu termasuk rumah ini.”

Raja yang sedari tadi merenung ikut angkat bicara,”Ibuku keturunan dari keraton Yogya. Mungkin aku bisa mencari cara supaya bisa menemui Raden Ayu Kedasih tanpa menimbulkan kecurigaan.”

Kembali Sin Liong dan Citra saling berpandangan. Aahh, pantas saja! Kini barulah mereka berdua tahu alasannya. Jadi yang disebut Trah itu berdasarkan pada kepentingan dan tujuan. Bukan karena darah atau garis keturunan.

Malam itu ketiganya sibuk berkemas. Urusan mengenai rumah dan segala tetek bengeknya akan diurus oleh orang-orang yang diutus Babah Liong. Mereka hanya harus cepat pergi. Sin Liong telah menyewa kendaraan dari juragan beras kenalannya di desa sebelah.

Mendekati tengah malam, ketiganya sudah meluncur meninggalkan Desa Tunggorono. Setelah sampai di jalan raya antar propinsi barulah Sin Liong sedikit bernafas lega. Dia sangat khawatir mereka bertindak kurang cepat dan dicegat oleh orang-orang Mada. Sin Liong tidak tahu bahwa belum 1 jam meninggalkan Tunggorono, serombongan orang-orang yang diangkut oleh 3 mobil menyerbu ke rumah yang mereka sewa dan mengobrak-abrik segala isinya secara diam-diam tepat saat tengah malam.

Rombongan yang dipimpin langsung oleh Mada itu hanya menemui 2 rumah sewaan Sin Liong dan Citra dalam keadaan kosong tanpa penghuni. Mereka terlambat.

Mada menghela nafas sambil masih merasa terheran-heran dengan keberanian mereka. Ternyata mereka sudah sedemikian dekat dengan Bubat.

Hmm, aku harus cepat melakukan ritual penutupan Gerbang Waktu. Tapi aku butuh Manuskrip Kuno itu untuk melakukannya. Jenderal Buminata telah mengabarinya bahwa utusan dari negeri China yang bernama Hoa Lie telah berhasil mendapatkan 2 bagian Manuskrip dan akan membawanya ke Bubat untuk diserahkan kepadanya.

Tapi ritual itu memerlukan Manuskrip secara utuh. 1 bagian lagi harus ditemukan dan mereka tidak tahu itu berada di mana. Handphone Mada bergetar. Seseorang menghubunginya.

“Halo, Mada. Aku Hoa Lie. Aku sedang dalam perjalanan menuju Bubat untuk menyerahkan 2 bagian Manuskrip yang telah berhasil aku dapatkan.”

Mada merespon cepat,”Terimakasih Hoa Lie. Ritual penutupan Gerbang Waktu harus segera dilaksanakan. Mereka semakin kuat. Reinkarnasi pasangan Putri itu sudah mulai mengalami transformasi. Aku khawatir mereka akan semakin kuat dari hari ke hari.”

Terdengar sedikit dengusan Hoa Lie di ujung telpon,” lalu apa yang akan kau lakukan?”

“Kita masih perlu 1 bagian lagi dari Manuskrip agar bisa melakukan ritual penutupan Gerbang Waktu. Tapi aku tidak tahu 1 bagian lagi berada di tangan siapa?”

Hoa Lie tertawa kecil,” Aku tahu!”

-----

Gian Carlo memelototi layar laptopnya tanpa berkedip. Program pengenalan wajahnya sudah bekerja nyaris 1 jam tapi belum menemukan indikasi yang sesuai dengan foto wanita China yang telah merampas benda super berharga itu dari tangannya. Program itu mempunyai database sangat lengkap yang meliputi agen-agen rahasia di seluruh dunia, pegawai penting dari lembaga kepurbakalaan dari nyaris 100 negara, para broker benda-benda antik, kolektor, dan orang-orang seperti dirinya.

Lelaki ini mengusap mukanya dengan gerakan letih. Robert Van Der Meer bisa murka jika mengetahui hal ini. Dia belum melaporkan bahwa benda yang diincar dan sudah berada di genggaman telah berpindah tangan. Gian Carlo harus bisa menemukan wanita itu terlebih dahulu sebelum Robert Van Der Meer mengetahui kekacauan ini.

Gian Carlo buru-buru menengok ke layar ketika sebuah suara yang tidak asing membuatnya kembali bergairah. Suara yang menandakan proses matching di komputernya telah selesai. Matanya yang besar membaca larik demi larik informasi di sebelah foto wanita cantik yang mempecundanginya beberapa malam yang lalu.

Hoa Lie. Wanita 35 tahun. Deputi Direktur Lembaga Kesejarahan China. Ahli kungfu dan piawai dengan berbagai macam senjata. Reputasi; mematikan.

Gian Carlo menyadarkan tubuhnya ke kursi. Rupanya China juga mengirim utusan khusus untuk mencari Manuskrip Kuno. Pasti mereka tidak ingin Gerbang Waktu itu terbuka agar sejarah Kekaisaran China tidak ikut berubah. Hmm, berarti wanita itu punya kaitan kerjasama dengan Trah Mada. Aku tahu harus mulai menyelidikinya dari mana untuk menemukan keberadaannya dan merebut benda kuno itu kembali ke tangannya.

Gian Carlo mengangkat telpon.

“Halo Ibu Minister. Aku Gian Carlo. Anggota tim Robert Van Der Meer. Boleh meminta bantuan sedikit informasi?”

* * ********