Now Loading

Bab 24

Pointe Noire, 4° 46′ 43″ S, 11° 51′ 49″ E
Pasar Gelap Hewan Eksotis

Pagi ini Cathy memberi kabar bahwa Dokter Adli Aslan mendapatkan alert dari seseorang tak dikenal. Katanya hati-hati menjaga tim anda. Ada malaikat pembunuh yang setiap saat bisa mencabut nyawa mereka.

Cecilia dan Akiko percaya. Peringatan itu sudah terbukti. Cecilia sangat bersyukur mereka ditemani oleh Andalas sekarang. Meskipun sebetulnya Andalas juga kurang lebih sama. Mudah menjatuhkan tangan maut. Tapi setidaknya malaikat maut yang ini ada untuk melindungi mereka.

Informasi berikutnya dari Cathy. Dia berhasil mendeteksi keberadaan Hantaa 05. Kapal pemburu paus itu sekarang sedang melintasi Laut Mediterania. Entah menuju kemana. Posisi yang sangat rawan. Karena Laut Mediterania sangat ramai dan ada kemungkinan mereka berhenti singgah di pelabuhan-pelabuhan yang banyak terdapat di sana.

Cathy sudah menandai Hantaa 05 di program surveillance satelitnya. Dia akan selalu mengetahui posisi Hantaa 05 termasuk history perjalanannya. Profesor Sato melengkapi ruang analisa data Pandora dengan beberapa peralatan tambahan yang menunjang operasi MB-AB-30.

Akiko bertanya apakah kode itu masih relevan dengan diketahuinya secara pasti bahwa bakteri yang berasal dari Congo Basin adalah Bacillus anthracis? Bukankah seharus kodefikasinya menjadi MB-BA-30?

Cathy juga menjelaskan bahwa tim ilmuwan di Pandora berhasil memperbesar Mollivirus sibericum untuk bisa merumuskan anti virus yang tepat dalam mengobati dan mencegahnya menginfeksi tubuh manusia. Namun ada keanehan yang terjadi begitu virus itu diperbesar. Genomnya sama sekali tidak bisa dibaca walaupun dengan super mikroskop. Profesor Sato curiga bahwa bakteri purba ini telah mengalami modifikasi dan disusupi oleh semacam protein asing yang belum ada di peta protein yang sudah ada.

Tim peneliti sudah mencoba dengan berbagai cara dan metodologi. Tidak satupun yang berhasil membaca genom Mollivirus sibericum. Seolah-olah ada orang yang sengaja membuat virus itu sangat adaptif terhadap segala bentuk inangnya.

Cecilia termenung. Kalau memang benar seperti itu, tidak akan ada orang semacam Fabumi pada kasus virus es ini.

Berarti chip itulah sekarang harapan agar dapat memperoleh informasi mengenai unsur-unsur asing yang menjadikan Mollivirus sibericum seratus kali berbahaya dibanding aslinya.

Cecilia memutuskan mereka akan pergi ke Amerika Serikat setelah mendapat jejak terang bayi Leopard yang tertangkap para pemburu gelap. Di matanya sudah terbayang wajah si kutu buku yang kikuk!

Dan di sinilah mereka bertiga sekarang. Di sebuah tempat yang berada di tengah pemukiman kumuh. Rumah susun 5 lantai berbentuk melingkar yang mengelilingi bekas lapangan basket dan futsal outdoor yang disulap menjadi pasar kecil yang berisik dengan lapak-lapak bertenda buruk. Tempat ini hanya punya 1 pintu masuk yang berarti juga hanya punya 1 pintu keluar. Dijaga oleh orang-orang bertampang seram. Tidak nampak senjata di tangan mereka tapi Andalas curiga di pos kecil yang berantakan itu tersimpan banyak senjata api. Lelaki Melayu ini meraba pinggangnya. Memastikan pistol ada pada tempatnya.

Lapak-lapak itu tidak banyak menjual barang dagangan. Hanya barang-barang kecil seperti rokok, minuman keras, makanan ringan, dan kebutuhan sehari-hari. Tapi pasar ini sangat ramai. Cecilia dan kawan-kawan sampai kesulitan melangkah maju. Mereka harus mencari lapak orang bernama Abebe. Seorang penghubung yang bisa menyediakan berbagai macam hewan eksotis Afrika bagi yang membutuhkannya. Tentu saja hewan-hewan itu disimpan di sebuah tempat yang sangat dirahasiakan. Pasar ini sebetulnya hanya samaran dari transaksi jutaan dollar yang terjadi setiap harinya.

"Abebe?”Cecilia bertanya kepada seorang pemuda yang tengah duduk di atas tumpukan beras sambil merokok. Dia sudah diberitahu ciri-ciri Abebe sebelumnya oleh si informan.

Pemuda itu bersikap acuh dan sama sekali tidak mau merespon Cecilia. Matanya terpejam menikmati setiap kali sedotan rokoknya. Akiko maju ke depan. Membungkukkan tubuh lalu bicara memakai bahasa Jepang.

Abebe mengangkat mukanya memandang wajah Akiko yang cantik.
 

"Dia bicara apa?”Pemuda itu sekarang yang bertanya kepada Cecilia. Penasaran juga rupanya dengan maksud si turis Jepang.

"Dia gadis kaya yang sengaja datang dari Jepang mencari peliharaan kesukaannya.”Cecilia melihat mereka sudah dikelilingi oleh beberapa pria yang juga ikut tertarik. Jarang-jarang ada turis Jepang ke tempat kumuh ini. Andalas bersiap-siap. Seluruh otot tubuhnya menegang.

"Katakan itu mahal! Dan tanyakan apa binatang kesukaannya?”Kali ini Abebe bersikap serius. Tidak lagi berpura-pura tak acuh.

Akiko menyebut satu istilah di Jepang yang berarti kamu bodoh lalu memandang Cecilia seolah minta diterjemahkan.

Cecilia tersenyum geli. Bisa juga melucu dokter Jepang yang aneh ini.

"Bayi Leopard! Dia sanggup membayar berapa saja.”

Abebe semakin tertarik.

"100 ribu dollar! Aku punya 1 ekor. Lucu!”

Cecilia ganti memandang ke arah Akiko dan bicara dia bodoh dalam bahasa Jepang. Akiko menyahut sangat bodoh tapi orang-orang bodoh di sekeliling mereka ini berbahaya.

Cecilia mengangguk. Lalu menatap Abebe dengan mimik wajah sangat serius. Suaranya dipelankan agar terdengar seperti berbisik dan rahasia.

"Dia mau membayar 100 ribu dollar dan akan memberimu tips 10 ribu dollar tapi ada syaratnya,”Cecilia sengaja berhenti sebentar untuk memancing rasa penasaran Abebe. Benar saja. Pemuda itu mendekatkan telinganya. Apa syaratnya?

"
Bayi Leopard itu harus dari jenis yang berasal dari habitat Cuvette Centrale. Leopard dari sana unik dan sanggup bertahan hidup lama.”

Pemuda itu termenung sejenak. Dia tahu Leopard mana yang dimaksud. Tapi itu sudah dibeli orang. Tapi 10 ribu dollar sangat banyak!

"Bayi Leopard yang kau maksud sudah dibeli orang kaya dari Italia. Tapi Leopardnya masih di sini. Apakah 10 ribu dollarnya masih berlaku kalau aku antar kau ke orangnya dan bernegosiasi sendiri?”

Dengan tegas Cecilia mengangkat tangannya minta waktu. Seolah memberikan informasi final, Cecilia berbicara dengan Akiko, dia sangat sangat sangat bodoh. Akiko tersenyum. Nyaris tertawa terbahak-bahak.

"Begini saja. Temanku ini tidak punya waktu banyak. Bawa saja bayi Leopardnya kesini. Dia akan membayar cash kepadamu 125 ribu dollar. Uang ada di mobil. Sopir kami bisa menyiapkan sekarang kalau kau setuju.”

Abebe nampak ragu-ragu. Orang Italia yang membeli bayi Leopard tadi sepertinya orang yang sangat berbahaya. Tapi 125 ribu dollar? Itu luar biasa!

Pemuda itu mengajak berunding beberapa orang yang sedari tadi ikut bergerombol menyaksikan. Kembali kepada Cecilia dan berkata.

"Oke. Bayi Leopard itu akan dibawa ke sini. Tapi tunjukkan uangnya terlebih dahulu.”

Cecilia melanjutkan kepada Akiko dengan perkataan bagaimana kita bisa menunjukkan uang sebanyak itu sekarang? Pergi ke bank memerlukan proses dan waktu. Bisa-bisa transaksi penting ini batal.

"Saya akan menyiapkan kopernya di mobil, Madame. Sampaikan saja kepada mereka ada barang ada uang. Satu lagi, dia memang sangat bodoh…..”Andalas berkata dalam bahasa Jepang sembari membungkukkan tubuh. Lalu membalikkan tubuh menuju tempat parkir.

Cecilia dan Akiko tersentak kaget. Pengawal yang disediakan Dokter Adli Aslan ini sangat mengejutkan.

* * ****