Now Loading

Pulasan dan Durian Otak

Ayo nanti malam kita ke Gadong Night Market”, Kata Azwar kepada saya ketika kami baru saja beristirahat di kamar.

“Oke, tentu nya bersama Bang Zai dan Eko”, jawab saya.

Malam itu sekitar jam 7, Saya dan Azwar sudah bersiap-siap dan kemudian kami berdua menuju ke kamar Eko untuk sekalian turun ke lobi.

Ternyata Bang Zai baru saja pergi makan karena dijemput Mas Giri. Rupanya mereka sudah ada janji sejak kemarin malam bertemu di Rumah Sakit RIPAS.

Akhirnya kami bertiga berjalan kaki santai dari hotel menuju ke Gadong Night Market atau Pasar Malam Gadong. Lewat Simpang 137 terus belok kanan di Jalan Dayang Siti Hamidah dan terus menyeberang Sungai Menglait. Sekitar 10 menit kami sudah sampai di Pasar Malam.

Wah, enak juga cuaca malam ini. Langit lumayan cerah dan angin semilir berembus sehingga suasana pasar tidak terlalu panas. Walau cukup ramai tetapi tidak sampai berdesakan. Maklum ini Brunei.

Banyak juga pilihan makanan di Pasar Malam ini. Selain makanan berat banyak juga kue dan makanan khas Brunei maupun yang sudah biasa ada di Indonesia. Sebenarnya kalau kita perhatikan, banyak juga penjualnya yang orang Indonesia atau bahkan orang Jawa.Bahkan sebelum makan nasi saya sudah menjajal pulut yang mirip lemper dan kue celorot. Kueh Celorot ini sebenarnya juga ada di Jakarta, cuma saya lupa namanya.

Setelah putar sana putar sini akhirnya kami memutuskan makan Nasi Ikan Bakar yang tampaknya lezat. Kami asal tunjuk saja ikannya karena tidak tahu nama ikannya. Mungkin ikan khas Brunei atau pulau Kalimantan. Yang penting rasanya sedap apalagi dengan sambal. Dan minumnya tentu saja Air Bandung buat saya, Azwar dan Eko lebih memilih Teh Tarik.  Air atau sirup Bandung ini mengingatkan akan kota kelahiran saya.

Selepas makan, kami melihat-lihat buah-buahan yang dijajakan.  Ada duriann otak udang galah yang sudah kami coba beberapa hari lalu, ada juga rambutan dan mambangan.  Tetapi akhirnya kami memilih buah yang tidak ada di Jawa. Buah ini mirip bentuk dan rasanya dengan rambutan. Namanya Pulasan. Yang membedakan adalah rambutnya lebih sedikit.dan lebih kering sehingga mantap rasanya.

Sambil duduk di meja menikmati pulasan kami mengobrol ngalor-ngidul mengenai situasi terakhir yang dihadapi dalam kunjungan di Brunei ini. Berbagai skenario kami diskusikan tanpa ada jalan keluar yang afdol.

Tiba-tiba saja ada tiga orang lelaki yang mendekat dan minta izin duduk bersama di meja kami. Kebetulan masih ada kursi yang kosong sementara meja-meja lain sudah penuh terisi.

Kami pun kemudian berkenalan dan mereka ternyata berasal dari Indonesia juga.. Mereka mengaku bernama Tukimin, Tino, dan Suharno. Ketiga-tiganya mengaku berasal dari sebuah kota kecil di Jawa Tengah. Mereka makan Soto Brunei dan sesudah itu memesan Durian Otak Udang Galah.

Nah mereka ternyata memesan 4 buah durian dan sebagian ditawarkan ke kami bertiga, Karena tidak enak menolak dan kebetulan durian ini memang mantap rasanya akhirnya kami bertiga juga ikut makan durian tersebut.

Setelah habis empat buah durian, mereka bertiga memesan beberapa buah durian lagi dan ditawarkan kepada kami. Tidak terasa sudah beberapa buah durian yang kami makan. Kami terus makan sambil mengobrol dan anehnya tidak berapa lama kepala saya merasa sedikit pusing dan mengantuk.

Setelah itu kami bertiga bagaikan setengah sadar dan menurut saja ketika diajak ke dermaga . Antara sadar dan tidak saya merasa ikut naik perahu dan kemudian saya sama sekali tidak sadarkan diri Saya juga tidak tahu apa yang terjadi dengan Eko dan Azwar.

Ketika sadar saya tidak tahu berada dimana. Kita bertiga ada di sebuah kamar yang tertutup di sebuah rumah kayu. Sayup-sayup terdengar suara perahu yang sekali-kali menderu di kejauhan. Mungkin kami berada di sebuah rumah di Kampong Ayer.

Tangan saya terikat di sebuah tiang. Kaki saya juga diikat sehingga relatif saya susah untuk bergerak. Mulut saya juga diikat dengan sapu tangan. Saya mencoba melihat ke Azwar dan Eko. Nasib nya juga sama dengan saya. Mereka berdua juga baru sadar. Rupanya sewaktu makan durian tadi mereka mencampurkan obat penenang yang membuat kami setengah sadar dan menurut saja ketiga diajak ke dermaga.

"Mas-Mas bertiga, Mohon maaf sebelumnya. Kami hanya menjalankan perintah bos untuk membawa mas-mas bertiga ke sini. Sekitar 1 jam lagi Bos baru akan datang. Harap diam baik-baik di sini.”, kata salah seorang dari tiga lelaki tadi, saya sendiri sudah tidak ingat namanya.

Saya sendiri masih belum sadar 100 persen dan berpikir apakah penculikan ini masih ada hubungannya dengan percobaan penculikan yang gagal minggu lalu. Saya mencoba menggerakkan tangan dan kaki namun sia-sia. Akhirnya kami bertiga hanya terdiam memikirkan nasib apa yang akan menimpa kami. Hari sudah larut malam dan saya tidak bisa melihat ke jam yang ada di pergelangan tangan saya.

Sekitar 15 menit kemudian, tiba-tiba saja ada suara sayup-sayup gendang dan tetabuhan drum yang mendayu-dayu. Kian lama suaranya kian mendekat. Azwar dan Eko saling memandang, namun tidak bisa berkata apa-apa. Namun mata mereka terlihat bersemangat.

Tidak lama kemudian terdengar suara teriakan kecil dari ketiga lelaki yang menculik kami. Dan pintu kamar kemudian terbuka. Seorang lelaki tua berambut panjang dan memakai ikat kepala segera membuka ikatan tangan dan kaki saya Dia memberi tanda dengan meletakkan telunjuk di mulutnya agak saya jangan bicara ketika membuka ikatan sapu tangan di mulut saya. Kemudian saya membebaskan Azwar dengan membuka ikatan tangan dan kakinya dan lelaki tua berambut panjang tadi membuka ikatan di tangan dan Kaki Eko.

Kami berempat segera keluar kamar dan saya melihat ketiga lelaki yang menculik kami sudah tergelatk di lantai. Sepertinya sudah pingsan dilumpuhkan oleh lelaki tua penolong kami.

Lelaki itu segera mengajak kami ikut ke dermaga yang ternyata tidak terlalu jauh dari rumah ini dan sebuah perahu sudah siap untuk kemudian mengantar kami kembali ke Gadong.

Di perjalanan, kami tidak sempat berbicara banyak karena lelaki tua dan tukang perahu juga hanya diam saja ketika ditanya,

Sesampainya di dermaga di Gadong, Lelaki tua itu menyuruh kami segera balik ke hotel dan memberi petunjuk bahwa dia diperintahkan oleh Laila untuk membebaskan kami bertiga dari penculikan. Dia juga memberikan sebuah amplop kecil berwarna putih yang saya juga sudah tahu berasal dari Laila.

Kami bertiga kembali ke hotel. Kami masuk ke kamar Eko dan menemukan Bang Zai sudah tertidur. Saya melirik ke jam tangan. Pantas sudah pukul 12.45 tengah malam.

Bersambung