Now Loading

BAB VII. PUNCAK DUNIA (BAGIAN 1)

"Nak! Bangun!"

3556P merasa wajahnya ditepuk perkahan. Ketika dia membuka matanya, segera ditutupnya lagi karena silau terbakar sinar matahari. Dia segera duduk.

"Ada apa?"

“Oh, syukurlah. Kamu mengalami malam yang sulit. Aku hanya ingin memastikan kamu masih hidup. Maaf membuatmu ketakutan."

Mengapa aku berada di lapangan luas tanpa tudung? otaknya menuntut penjelasan.

Dia memandang pria yang sedang berbicara sambil memegang pergelangan tangannya, dan menatapnya dengan cermat. Mata lelaki itu biru berkilauan, janggut perak panjang dan rambut acak-acakan diikat ekor kuda.

Tiba-tiba, semuanya kembali padanya—pelarian, tumpukan mayat, dan rasa sakit yang luar biasa. Matanya kembali berair saat menyadari bahwa luka di bagian belakang lehernya masih terasa nyeri luar biasa.

“Ah, kasihan sekali. Hei! Kita butuh makanan atau ransum!”

“Apa dia sudah bangun?” suara lain bertanya.

“Nyaris, bro… dia terlihat agak aneh.”

“Tapi dia baik-baik saja?”

"Ya, dia masih hidup, benar-benar seorang pejuang."

Gadis itu menutup matanya rapat-rapat. Banyak hal yang harus dicerna otaknya—pelariannya, orang-orang ini—dan cara mereka berbicara yang aneh. Dia perlu mencari informasi lebih lanjut. Dia berdeham, yang menbuatnya sadar kalau kerongkongannya kering kerontang.

"Di mana kita?"

Pria yang memegang tangannya menatap wajahnya.

“Nah, Nak, itu pertanyaan bagus, bukan? Jujur, aku tak tahu di mana kita. Kita jauhnya entah berapa puluh kilometer dari tempat penjara sialan itu, bahkan lebih jauh dari tempat asalmu. Tapi sekarang, menurutku kita ada di Neraka.”

3556P terkikik.

“Ah, kamu suka itu. Bagus, aku tidak bisa berkawan denganmu kalau kamu tidak punya selera humor."

Pria itu terus berbicara sementara salah satu pria lainnya—posturnya tinggi dengan mata gelap serius—berjalan ke arah mereka berdua.

“Tadi malam kau jatuh ke tanah tadi malam seperti sekarung semen, jadi kami menggendongmu, dan berharap di sini kita sudah keluar jauh dari bahaya. Kita tak tahu pasti."

Pria jangkung itu berlutut di samping. Dit tangannya secarik kain yang kelihatannya dirobek dari kemejanya yang compang-camping.

“Aku sudah mengasapinya di atas api, jadi sudah steril. Miringkan kepalamu."

Pria itu mengusap luka di leher gadis itu.

"Apakah kau memotong kepingan sensormu?"

"Ya."

"Baik. Aku berasumsi kau tidak membersihkan pisau yang kau pakai, bukan?"

“Menurutku gadis itu tidak punya waktu untuk itu. 'Oh, inilah aku, berencana untuk melarikan diri dari neraka. Aku harus memastikan lebih dulu pisauku bagus dan bersih sebelum aku mengiris kulitku sendiri’.”

“Tidak ada salahnya bertanya.”

“Kamu tidak perlu bingung dengan Arsanto, Nak. Dia adalah dokter terlatih sebelum para Pengawas mengambilnya. Itu sebabnya mereka menginginkanmu, kan Santo? Kamu adalah dokter terbaik yang pernah ada.”

"Huh." Santo mendengus sambil mengusap-usap leher gadis itu.

3556P tidak dapat mempercayainya. Orang-orang ini punya nama, seperti neneknya!

Dia berusaha untuk duduk, tetapi hanya bisa bangun sedikit dengan menopang karena merasa kepalanya pusing.

Arsanto mengamati matanya lalu memegangi bahunya agar dia tetap diam. Dokter itu membersihkan lukanya sebaik mungkin dan mengikatkan pembalut darurat di lehernya.

“Jika kita kebetulan menemukan sesuatu untuk menjahit lukamu, itu akan lebih baik, tapi sekarang hanya ini yang terbaik yang bisa kita lakukan untuk mencegah infeksi. Apakah kau baik-baik saja?”

"Aku merasa lebih baik, terima kasih."

Arsanto menepuk lututnya dan kembali ke api unggun. “Aku akan menyiapkan beberapa lembar kain lagi untukmu kalau-kalau kita perlu menggantinya. Tapi sementara ini kau akan baik-baik saja."

"Sudah kubilang anak ini seorang prajurit, kan Santo? Ah … di mana sopan santunku. Siapa namamu, Nak? Oh … tunggu, kamu punya nomor, kan?”

“Uhm, yah … dulu— tapi… panggil aku Devi.”

“Nama yang cantik, kamu pilih sendiri?”

“Uh, tidak. Itu nama nenekku. ”

“Yah, itu lebih bagus dari pada nomor, kan? Baiklah Devi. Yang serius itu Arsanto, tadi sudah kuperkenalkan. Aku Hasmi, dan yang berbicara seperti orang bodoh, namanya Petrus. Dia pergi mencari makanan atau ransum."

Tiba-tiba terdengar suara gemerisik dari belakang punggung 3556P yang kini bernama Devi. Dia berusaha berbalik, yang hanya memperburuk lukanya.