Now Loading

BAB VI. SETELAH JALAN SETAPAK (BAGIAN 3)

“Sekarang apa rencanamu dengan batu-batu ini?”

“Ada celah di dinding—aku baru menyadarinya tadi pagi. Jika kita berdua bisa memecahkannya, aku yakin bunker ini akan runtuh menjadi puing-puing. “

“Ide brilian, bro. Daripada mati kelaparan, lebih baik kita mati tertimpa reruntuhan.”

“Kita akan keluar sebelum bangunan ini runtuh. Lihat, perhatikan di bawah jendela. Kita bisa membuat lobang yang lebih besar.“

“Patut dicoba, kurasa. Aku akan membantumu. Halo sayang?” suara ketiga memanggil gadis itu.

“Ya?”

“Kami tahu kamu terluka, dan kami tidak bermaksud memanfaatkanmu. Hanya saja, aku tahu kami bisa membantumu jika kami keluar. Apakah ada batu lain di sana?”

3556P melihat sekeliling. ”Ada.”

“Sekarang, jika kamu masih punya sisa tenaga, bisakah kamu membantu kami sekali lagi dan membawanya ke sisi tembok di bawah jendela?”

“Kalian ingin aku memukulnya dengan batu?”

“Oh, sayang, kamu betul-betul malaikat kecil dari surga.”

“Aku bisa melakukan itu.” Dia mengambil batu ketiga yang lebih kecil.

“Baiklah,” kata suara kedua. ”Pada hitungan ketiga, satu… dua… tiga!”

Suara ketukan hebat datang dari dalam penjara, dan gadis itu mengumpulkan kekuatannya yang tersisa untuk melakukan bagiannya. Dia memegang batu itu dengan kedua tangannya dan memukuli tembok itu sekeras yang dia bisa.

DUK! DUK! DUK!

“Tembok tebal sialan!” umpat suara pertama.

DUK! DUK! DUK!

“Bagaimana di sebelahmu, sayang?”

Selama memukul, gadis itu memejamkan matanya. Kini dia membukanya untuk memeriksa kemajuannya.

“Hmmm, masih sama seperti tadi.”

“Teruskan, ayolah. Aku tahu ini akan berhasil.“

Gadis itu terus memukul.

“Tunggu!” dia berteriak. Terjadi sesuatu!

Ketukan dari dalam berhenti. Gadis itu melihat ke tempat dia membenturkan batunya. Serbuk putih berjatuhan dari tembok.

“Berhasil!” dia berbisik.

Dengan bubuk putih cantik yang menandakan kemajuannya, gadis itu mendapat ledakan energi yang kuat. Dia menghubungkan batu itu dengan dinding tiga kali lagi. Serangan terakhirnya menghasilkan retakan besar di sisi dindingnya.

“Astaga! Aku melihat cahaya masuk! Hajar terus, bro!“

Gadis itu mendengar suara berderak keras dari dalam. Dia mendongak dan melihat serpihan beton jatuh bersama bubuk ke tanah.

“Aku tak percaya kalau ini berhasil!” kata salah satu suara dari dalam.

“Apa maksudmu? Ini kan idemu!“

Suara berderak yang lebih keras  diikuti oleh potongan-potongan bangunan yang lebih besar runtuh, dan gadis itu menyadari bahwa bangunan ini sebentar lagi akan lenyap.


Tiba-tiba, lengan seorang pria menjulur keluar dari dinding sambil mendorong balok besar.

“Wah! Lebih baik kita keluar sekarang!“

“Awas, aku keluar, bro!”

3556P melompat mundur karena terkejut ketika seorang pria dewasa keluar dari lubang di dinding. Dia tidak bisa melihat dengan jelas karena debu yang beterbangan, tetapi dia memperhatikan bahwa wajahnya tidak terhalang oleh tudung, dan dia tidak mengenakan jubah merah. Sepertinya dia mengenakan jenis jubah hitam dan sepatu bot yang sama dengan yang dipakai oleh Pengawas.

Jubahnya tanpa lengan, robek di beberapa tempat. Ketika dia berdiri, sosoknya cukup menakutkan.

“Sekarang angkat aku, bro!”

Pria itu membungkuk ke dalam lubang yang baru terbentuk dan berusaha mengangkat salah satu rekannya. Dia mengeluarkan seorang pria yang, meski lebih pendek darinya, tidak kalah tampan. 3556P memperhatikan bahwa dia memiliki luka yang memanjang di lengannya.

Orang ketiga berusaha keras untuk berdiri dan dipapah oleh orang pertama. Segera setelah kaki orang ketiga meninggalkan jendela, seluruh bangunan dan bebatuan di sekitarnya runtuh.

Pria-pria itu mengarahkan perhatian mereka pada gadis muda yang datang entah dari mana dan menyelamatkan mereka. Orang pertama yang keluar dari penjara melangkah dan memeluknya erat.

“Terima kasih, sayang,” Gadis itu berteriak kesakitan.

“Oh! Oh, tidak! Maaf!”

Gadis itu yang merasa sangat kelelahan, sakit dan lapar, jatuh ke tanah begitu pria itu melepaskan pelukannya.