Now Loading

Kilatan Keris Brunei Serta Konser Gendang Labik dan Nakara

Malam kian larut. Saya melihat ke luar jendela kamar saya di lantai 5 Centrepoint Hotel di Gadong. Simpang 137 di depan hotel sudah sangat sepi. Langit kota Bandar Seri Begawan tampak sedikit mendung dengan gumpalan awan hitam yang menggelayut. Sama sekali tanpa bintang.

RTB 1 yang baru saja menyiarkan warta berita pukul 11 malam. Berita tentang krisis ekonomi di Asia Tenggara yang terus membayangi. Berita-berita tentang demo-demo di tanah air juga sampai ke Brunei sini. Berita tentang nilai tukar Rupiah yang terus anjlog.

Namun pikiran saya terus bertanya-tanya. Ke mana Eko. Asep dan Azwar. Saya mencoba menelepon hape Asep dari telepon hotel. Namun tampaknya hape tersebut tidak aktif. Mungkin sedang dimatikan, atau sedang ‘low bat’.

Kalau mereka hanya makan malam di sekitar Gadong, mestinya jam 10 malam sudah pulang. Di Brunei sini tidak ada hiburan sampai malam . Seandainya ke karaoke di Bandar, jam 11 juga sudah sepi apalagi kalau bukan malam libur. Restoran dan Kafe di sekitar Gadong juga kebanyakan sudah tutup jam 11 malam ini.

Saya makin khawatir akan keselamatan ketiga teman saya itu. Namun karena tidak bisa berbuat apa-apa, Saya merebahkan tubuh di tempat tidur sambil nonton TV.

Empat Sekawan berjalan santai di Bandar. Langit malam itu tampak cerah dengan bintang gemintang dan bulan purnama menerangi kawasan sekitar Water Front. Seorang tukang perahu menawari kami tamasya di Sungai Brunei. Dan kami berempat segera naik tanpa tawar menawar.

Perahu segera melaju cepat ke arah Kota Batu. Jelajah malam hari di Sungai Brunei terasa sangat menyenangkan. Angin sepoi-sepoi dan lampu-lampu jalan serta dari rumah-rumah di kedua sisi sungai bagaikan kunang-kunang yang gemerlap. Belum lagi langit yang sangat cerah membuat kami berempat bernyanyi gembira. Azwar bahkan menyanyikan lagu “Sebiduk di Sungai Musi’ walau kami sedang berlayar di Sungai Brunei.

Tiba-tiba saja ada perahu lain yang mengejar perahu kami. Ada lima orang lelaki di perahu tersebut yang kelihatan garang dan berteriak-teriak. Tukang perahu diperintahkan untuk balik arah menuju Kampong Ayer dan merapat ke dermaga.

Kemudian Eko, Asep dan Azwar di ikat tangannya oleh lima orang lelaki tadi. Saya mencoba melawan namun akhirnya saya didorong dan saya jatuh ke Sungai Brunei. Bersamaan dengan jatuhnya saya ke dalam air ini saya mendengar suara gendang di tabuh. Suaranya cukup nyaring.

Suara gendang terus bertalu-talu dan ternyata saya terbangun dari mimpi. Saya bangkit dan terduduk di tempat tidur. Saya melihat ke tempat tidur Eko di sebelah. Masih rapi dan kosong serta TV juga masih menyala. Namun suara gendang masih berkumandang di telinga. Apa saya masih mimpi, atau kah sudah terbangun?

Saya pergi sebentar ke kamar mandi untuk mencuci muka dan menyegarkan wajah sementara suara gendang masih terus berkumandang. kembali ke tempat tidur dan duduk sebentar. Saya lihat jam tangan yang saya taruh di meja kecil di antara dua tempat tidur. Jam 11.45 malam. Namun suara gendang masih terus bertalu. Dari manakah asal suara gendang itu?.

Setelah kesadaran saya pulih dari mimpi,  akhirnya saya bisa menemukan asal suara gendang. Yaitu dari laci di meja kecil di antara tempat tidur saya dan Eko. Saya buka laci itu dan melihat Gendang Labik milik Eko, hadiah dari Noor, bergoyang sendiri dan bergetar sambil terus mengeluarkan bunyi yang mendayu-dayu. Saya ambil dan kemudian meletakkan Gendang Labik itu di atas meja kecil. Barulah suaranya berhenti.

Apa yang terjadi dengan Eko? Apakah dia dalam bahaya sehingga Gendang Labik ini berulah?, tanya saya kemudian. Namun belum sempat saya menemukan jawabannya, Tiba-tiba saja terdengar suara tambur atau drum berbunyi sayup-sayup dari kamar sebelah. Saya mencoba mendengar dari celah pintu penghubung kamar kami. Ternyata suaranya memang dari kamar Asep dan Azwar.

Saya segera membuka pintu penghubung yang ada di kamar saya. Suara drum kian terdengar. Masih ada satu pintu lagi yang hanya bisa dibuka dari dalam Kamar Asep dan Azwar. Kebetulan sekali pintu ini tidak terkunci karena saya bisa membukanya dengan hanya mendorong pintu ini.

Saya masuk ke kamar sebelah. Kamar ini gelap karena lampu tidak bisa dihidupkan tanpa memasukkan kunci kamar di tempatnya. Selain suara drum, ternyata ada cahaya bak kilat yang bersinar-sinar dari meja kecil di antara tempat tidur Asep dan Azwar.

Saya  membuka laci itu, dengan dibantu cahaya yang bersinar-sinar, tampak Nakara milik Azwar sedang bergetar dan bergoyang sendiri. Lalu saya ambil Nakara kecil tersebut dan saya letakkan di atas meja. Suaranya langsung terhenti. Kilatan cahaya masih terus berpendar yang ternyata berasal dari Keris Brunei milik Asep . Kilatan cahaya ini kemudian berhenti setelah Keris itu saya pindahkan ke atas meja. Berdampingan dengan Nakara.

Saya segera kembali ke kamar saya, membawa dua benda itu dan saya kumpulkan di meja kecil di samping tempat tidur. Saya masih belum tahu apa yang terjadi dengan ketiga teman saya dan ketika saya melihat jam, waktu sudah menunjukkan pukul 12.02 tengah malam.

Saya tidak bisa berbuat apa-apa, saya bahkan tidak tahu harus melakukan apa selain berdoa dan berharap agar ketiganya baik-baik saja. Tidak terasa saya kembali tertidur.

“Bang Zai, Bang Zai”, suara Eko membangunkan saya. Saya kaget dan kemudian melihat Eko, Asep dan Azwar sudah ada di kamar saya. Saya melirik kembali ke jam tangan saya di atas meja. Pukul 12.45 malam.

“Ke mana saja kalian bertiga dan apa yang sudah terjadi?” Tanya saya antara kaget, marah, dan juga bersyukur.

“Panjang ceritanya Bang Zai. Biar lah kami istirahat dulu” Kata Asep sambil mengambil Keris Brunei di atas meja dan kemudian mendekap keris itu ke dadanya.

Eko dan Azwar juga melakukan hal yang sama. Mengambil Gendang Labik dan Nakara lalu mendekap ke dada.

Bersambung