Now Loading

Bab 26

Hoa Lie membuka matanya. Tubuhnya terasa sakit semua. Pertarungan melawan Leak dan kematian Feng Siong mengurasnya secara fisik maupun psikologis. Wanita ini tidak menyangka petualangannya di negeri asing ini ternyata cukup mematikan. Dia membunuhi orang dan orang membunuh rekannya. Untung saja suhunya datang menyelamatkan. Suhu!

Hoa Lie melompat bangun. Memperhatikan sekitar. Dia berada di kamar besar sebuah hotel jika melihat dari perabotnya. Meskipun tidak mengalami luka serius, namun keletihan ini benar-benar membuatnya lemas. Di manakah gurunya?

Gurunya suka sekali meditasi. Pasti dia ada di suatu tempat yang paling tenang di gedung ini. Hoa Lie tidak memperdulikan bahwa kepalanya sakit dan tubuhnya masih lemah. Terlalu banyak pertanyaan di kepalanya saat ini.

Termasuk kenapa tiba-tiba suhunya menyusul ke Bali? Menyelamatkannya dari serangan mengerikan Leak-leak haus darah tepat waktu? Buku kecil lusuh apa yang diambil suhunya dari Bli Gus Ngurah? Dan sederet pertanyaan lagi yang akan membuatnya semakin sakit kepala jika tidak menemukan jawabannya.

Ternyata ini bukan hotel. Hoa Lie berada di sebuah rumah besar yang mewah dengan banyak perabotan mahal dan antik. Hoa Lie bisa menebak ini rumah siapa tapi itu tidak penting sekarang. Suhunya harus segera ditemukan. Lalu apakah jenazah Feng Siong sudah diurus dengan baik? Tanpa sadar Hoa Lie memijit keningnya.

Hoa Lie terus mencari-cari. Ketemu! Seorang lelaki tua sedang duduk bermeditasi di atas rumput halaman belakang yang sedang dihamburi cahaya matahari pagi. Astaga! Sudah pagi rupanya. Hoa Lie ingat dia bertarung habis-habisan di tempat Bli Gus Ngurah pada saat malam hari.

Lelaki tua itu tetap memejamkan matanya meski langkah kaki Hoa Lie cukup keras menapak di batu-batu taman. Hoa Lie bersimpuh diam di depan suhunya. Tidak berani menganggu. Suhunya ini orang tua yang cukup pemarah kepada murid-muridnya.

Untuk beberapa saat, hening menjadi raja. Hoa Lie dengan sabar menunggu suhunya membuka mata sambil juga melakukan meditasi untuk meredam gejolak adrenalin yang membakar jiwanya. Hoa Lie mulai hanyut dalam meditasi yang dalam.

“Aku sudah mendapat 1 bagian manuskrip Hoa Lie. Pergilah ke daerah Bogor di pinggiran Jakarta. 1 bagian lagi ada di sana. Bagian terakhir nanti kita akan mencarinya bersama-sama,” suara pelan dan berwibawa itu sanggup menusuk langsung kesadaran Hoa Lie yang sedang tenggelam dalam kolam meditasi yang tenang.

Hoa Lie tersadar dan menjura,”baik suhu. Apalagi yang perlu murid kerjakan di sana?”

“Itu saja. Lakukan segera. Sore ini kau harus berangkat.” Suara pelan tapi tegas itu membatalkan niat Hoa Lie yang siap memberondongkan pertanyaan demi pertanyaan yang berkeliaran di benaknya. Suhunya bisa bersikap sangat mengerikan bila hatinya terganggu.

Dulu Hoa Lie pernah menyaksikan dengan mata kepalanya sendiri di Cina saat suhunya mematahkan tangan seorang preman yang berkelahi sesama mereka di sebuah warung hanya karena mie yang sedang dimakannya tumpah terkena ekses perkelahian tersebut. Hoa Lie tidak mau bernasib sama.

Kembali Hoa Lie menjura dan membalikkan tubuh hendak melaksanakan perintah suhunya ketika suara itu kembali berdengung dingin di belakangnya.

“Lakukan apa saja yang kau rasa perlu untuk mendapatkan bagian manuskrip itu. Ingat! Membunuh lebih baik daripada melukai.”

-----

Citra memperhatikan Raja yang sedang tertidur kekenyangan sehabis makan siang di dangau di tengah sawah setelah mencangkul pematang sepagian. Gadis ini telah menyatukan cincin tetua ke dalam tubuh Raja. Dia cukup tenang sekarang. Setidaknya Raja sudah bisa menjaga dirinya sendiri dari segala macam gangguan yang sifatnya gaib dan mistis.

Jauh di lubuk hati putri yang manjing kembali ini, terjadi pergolakan. Antara menerima saja takdir yang telah menjadikannya sejarah epik seorang putri raja yang mempertahankan harga diri tapi tidak bisa menemui cinta sejati, dengan merubah sejarah yang akan menjadikan dia seorang putri raja penuh amarah namun bisa bersanding dengan cinta sejatinya.

Citra melepaskan diri dari lamunan. Indra keenamnya terusik kencang. Angin yang tadinya bertiup sepoi-sepoi serta berhawa sejuk mendadak berubah sangat dingin. Sebuah pertanda yang sangat dipahami oleh Citra. “Sesuatu” sedang menuju ke arah mereka berdua yang sedang beristirahat.

Citra memfokuskan semua “penglihatan” ke arah timur. Diliriknya Raja masih tertidur dengan nyamannya. Hmm, aku harus membangunkannya. “Sesuatu” ini memiliki aura yang sangat kuat. Mungkin dia tidak bisa menanganinya sendirian.

Sambil terus memperhatikan arah timur, Citra membangunkan Raja. Pemuda itu membuka mata dengan enggan. Tidurnya nyenyak sekali. Apalagi ditunggui oleh Citra. Rasanya dunia begitu tenang dan tidak berombak. Raja tersenyum kecil. Begitu matanya menangkap tatapan cemas Citra, Raja langsung duduk dan hendak bertanya.

Namun Citra menempelkan telunjuknya di bibir sambil memberi isyarat ke arah timur. Raja menoleh dan terperanjat bukan main. Langit di timur yang tadinya sangat cerah sekarang terlihat gelap bukan main. Padahal di arah selatan, barat dan utara, hamparan langit tetap berwarna biru. Dan kegelapan itu menuju ke arah mereka! Kegelapan yang disertai kilat dan suara gemuruh yang makin lama makin mendekat.

Melihat kekhawatiran hebat yang tercermin di wajah Citra, Raja mengeluh dalam hati. Apalagi ini?

Citra sekarang berdiri. Bersiaga sepenuhnya. Raja tak bisa main-main lagi. Situasi sepertinya sedang kritis dan berbahaya. Tanpa sadar Raja mengepalkan telapak tangan. Hawa hangat yang luar biasa tiba-tiba saja mengaliri tubuhnya seperti sedang berada di sauna.

“Raja, sesuatu yang sedang menuju ke sini itu adalah utusan Mada. Mereka sudah mencium keberadaan kita. Kita harus mengatasi yang satu ini sebelum meminta Sin Liong agar memindahkan kita segera dari desa ini,” Citra berkata setengah berbisik dengan pandangan mata tetap tak teralihkan dari arah timur. Arah di mana mendung hitam pekat seperti digiring dengan cepat menuju mereka berdua.

Raja mengangguk kuat. Kemarahannya terpancing. Harga dirinya sebagai lelaki mengambil alih keadaan. Ditariknya Citra agar berdiri di belakangnya. Raja menunggu dengan mata melotot. Kedua tangannya terkepal. Cincin yang sekarang tertanam di bawah kulit dan menyatu dengan daging dan aliran darah, terasa bergolak-golak.

Kedua muda mudi yang sudah siap siaga itu dikejutkan oleh sebuah ledakan besar tidak jauh dari tempat mereka berdiri begitu mendung hitam itu mulai melingkupi persawahan. Petir yang tidak sewajarnya menyambar dan melubangi pematang yang baru tadi pagi diperbaiki Raja.

Ledakan demi ledakan berikutnya terjadi secara beruntun. Angin bertiup dengan keras. Mengibar-ngibarkan pakaian dan rambut Raja dan Citra. Keduanya tidak bergeming.

Puncaknya adalah ketika kumpulan awan hitam itu meluncur menuruni angkasa dan bergumpal-gumpal di hadapan mereka dalam wujud seekor naga!

Raja dan Citra terkesiap. Mada mengirimkan utusannya yang paling mengerikan sejauh ini.

* * ******