Now Loading

Bab 22

Sungai Zaire, 0.600 S, 17.770 E
Speedboat Anakonda


Terimakasih! Suara Cecilia nyaris lenyap ditelan deru mesin speedboat dan arus Sungai Zaire.

Cecilia mencoba bersikap ramah kepada penolong mereka,"Apakah kau Andalas?”Lelaki itu menggangguk tipis.

"Kau hebat! Apakah 2 orang yang hanyut tadi pingsan?”

Lelaki itu menjawab pendek,"mati!”

Cecilia tidak mau bertanya lagi. Dokter Adli mengirim pengawal tak berjantung.

"Seharusnya kau jangan membunuh mereka! Mereka hanyalah preman pelabuhan.”Cecilia tidak tahan untuk tidak memprotes.

Andalas menoleh sekilas. Raut mukanya sedingin es.

"Kalau aku tidak cepat-cepat tadi, kalian sudah terbunuh oleh beberapa orang lain yang sedang mengincar nyawa kalian. Termasuk 2 sniper yang bersembunyi di perahu kecil berwarna hijau.”

Kali ini Akiko yang nampak tertarik. Cecilia sedikit heran dengan sikap Akiko yang sepertinya sama sekali tidak shock dengan kejadian di pelabuhan tadi. Dokter muda itu terlihat tenang. Terlalu tenang.

"Kau tahu siapa mereka Andalas?”

"Tidak. Tapi aku rasa mereka sangat terorganisir. Preman-preman tadi sengaja disewa agar terlihat bahwa pembunuhan kalian adalah sebuah peristiwa perampokan.”

Akiko mengangguk paham. Dia sudah menduga sebenarnya.

"Tapi apa kau tahu kenapa mereka mau membunuh kami?”Akiko masih penasaran. Atau menguji Andalas.

"Dokter Adli bilang kalian adalah target utama pembunuhan beberapa orang dari beberapa organisasi. Salah satunya adalah organisasi sangat rahasia yang mengirim Sang Eksekutor untuk melenyapkan kalian.”

Cecilia dan Akiko saling berpandangan. Sang Eksekutor? Organisasi Rahasia?

Kedua dokter itu tidak bertanya lagi. Andalas sedang berkonsentrasi penuh mengemudikan speedboat yang meliuk-liuk menghindari gelondongan dan sampah-sampah kayu yang nyaris memenuhi badan sungai. Sungai Zaire sedang banjir. Di Congo Basin sepertinya sudah masuk musim penghujan.

Perjalanan menggunakan perahu motor akan memakan waktu setidaknya 12 jam dari Pointe Noire menuju lokasi. Menggunakan speedboat bermesin ganda seperti Anakonda akan memangkas waktu tempuh hingga sepertiganya. Mereka sudah menempuh perjalanan setidaknya 3 jam. Cecilia meminta Akiko bersiap-siap. Mereka sudah dekat.

Dari kejauhan Cecilia sudah melihat tanda-tanda yang dikenalinya. Hatinya berdebar-debar. Membayangkan para korban infeksi dulu menjadi zombie dan menunggunya datang. Merde! Kenapa hatiku jadi sekecil ini!

Cecilia memberi tanda dengan telunjuknya kepada Andalas. Mereka bisa berlabuh di pinggir sungai sana. Tapi mesin Anakonda terus meraung kencang. Melewati tempat yang seharusnya untuk bersandar.

Cecilia sudah hampir mendamprat Andalas. Tapi diurungkannya karena speedboat mendadak mengurangi kecepatan dan membuat tikungan tajam sebelum akhirnya berhenti dengan mulus di bawah kerimbunan pohon-pohon besar pinggiran sungai. Akiko berdecak kagum menyaksikan skill Andalas dalam mengemudikan perahu berkecepatan tinggi itu.

Andalas memberi isyarat agar kedua dokter itu tidak turun dari speedboat. Lelaki itu melompat dengan ringan ke permukaan tanah lalu menghilang dalam kegelapan hutan. Kembali Akiko berdecak kagum.

Cecilia memandang Akiko dengan pandangan aneh. Sepertinya dokter muda dari Jepang ini punya nyali luar biasa besar. Tidak nampak sekali rasa cemas di wajahnya padahal dia sedang berada di tempat antah berantah yang tak dikenalinya. Hutan belantara yang menyimpan banyak rahasia mematikan.

Akiko balik memandang Cecilia dengan tatapan heran. Dia merasa seperti seekor sapi yang sedang diamati dengan teliti oleh calon pembeli. Cecilia tersadar. Memberi isyarat permintaan maaf lalu duduk di ujung perahu. Menunggu. Bukankah Andalas menyuruh mereka menunggu? Tapi kenapa lama sekali?

Klik! Terdengar bunyi senjata dikokang di belakangnya. Cecilia tersentak kaget. Dilihatnya Akiko sedang memegang sepucuk pistol yang entah diambilnya dari mana. Pistol itu diselipkannya di pinggangnya yang ramping.  Dokter Jepang itu mengangsurkan sepucuk lagi ke Cecilia yang masih memandang bengong.

Cecilia menggelengkan kepala. Tapi Akiko mendekatinya dan memberinya tanda agar memperhatikan. Akiko memperlihatkan kepada Cecilia cara membuka dan menutup pengaman pistol. Lalu menyelipkannya ke pinggang Cecilia tanpa menunggu persetujuan lagi.

Cecilia mengangkat bahu dan memutar bola matanya. Akiko ternyata sangat mengejutkan. Nampak sekali dokter itu mahir menangani senjata.

Terdengar bunyi gemerisik dari balik semak tebal tidak jauh dari perahu. Akiko menarik lengan baju Cecilia dan maju di depannya. Cecilia ternganga. Akiko bukan lagi mengokang pistol tapi sepucuk AK-47 bertengger gagah di lengannya.

Terdengar geraman yang menggetarkan jantung saat seekor Leopard sudah bersiap-siap melompat menerkam 2 wanita pemberani itu.

Cecilia seperti terkena hipnotis saking takjubnya melihat pemangsa itu berdiri tak lebih dari 20 meter dari tempatnya. Sedangkan Akiko memandang dengan mata tak berkedip penuh kewaspadaan sambil meletakkan telunjuknya pada pelatuk AK-47. Dia benar-benar tidak ingin melukai binatang itu kecuali dengan sangat terpaksa.

Terdengar teriakan kencang dari balik semak di belakang Leopard itu berdiri. Kucing besar itu merebahkan diri dan membalikkan tubuhnya agar bisa menghadapi si penyerang. Namun terlambat. Goresan pisau memanjang mengiris leher Leopard yang lalu berkelojotan tak bergerak lagi.

Di sampingnya, nampak tergeletak Andalas dengan tubuh sedikit bergetar menahan rasa sakit. Dia berhasil membunuh Leopard itu tapi cakar tajam si kucing besar berhasil menggores kulit dadanya. Darah terlihat merembes keluar dari kaos yang dikenakan Andalas.

Akiko melompat turun dari perahu. Diambilnya perlengkapan medis ringan dari tas pinggangnya. Tanpa ragu-ragu Akiko merobek kaos Andalas dan melepaskan dari tubuhnya.

Dengan cekatan dokter muda itu membersihkan luka Andalas lalu membebatnya. Lelaki itu sedikitpun tidak mengeluh. Dia membiarkan saja Akiko mengobatinya.

Cecilia adalah dokter yang sering berpetualang dari satu hutan ke hutan lainnya. Baru kali ini nyawanya terancam oleh penghuni hutan. Namun tetap saja, matanya sedikit berair saat meraba kulit Leopard yang perlahan mendingin. 

Suasana khidmat bagi Cecilia itu berakhir seketika saat terdengar teriakan-teriakan keras dan membabi buta menuju ke arah mereka. Andalas melompat ke speedboat dan kembali dengan sepucuk AK-47 berikut cadangan magazinnya.

Teriakan-teriakan itu berhenti. Tepat saat di depan mereka tiba serombongan orang Pygmi yang terlihat marah. Di tangan mereka masing-masing tergenggam tombak, sumpit, dan panah.

Dokter Cecilia maju di depan kedua orang temannya. Menghadapi mereka.

* * **