Now Loading

BAB VI. SETELAH JALAN SETAPAK (BAGIAN 2)

Gadis itu terdiam membeku. Percuma lari. Dalam diam dia menanti datangnya peluru. Apa pun yang dia lakukan—diam atau lari—dia akan tetap ditembak.

“Salah satu bangsat Pengawas, kah? Kemari, ayolah. Keluarkan aku dari kesengsaraan ini, bajingan. Keluarkan kami SEMUA!”

“Diam!”

“Jangan suruh aku diam! Kau—”

Suara-suara yang tidak dikenal gadis itu sebelumnya.

Dia memutuskan untuk menuruni bukit dan melihat sumber suara-suara itu. Dia tergelincir dan nyaris terguling, tapi berhasil melompat ke tempat yang aman di sisi lain.

“Siapa itu kalau bukan Pengawas?”

Gadis itu kagum pada apa yang dilihatnya—sebuah bangunan kelabu besar yang dibangun di dalam bukit. Ada jendela kecil tempat suara-suara itu berasal, meski dia tidak bisa melihat ke dalam.

“Hei, aku bertanya SIAPA ITU?

“Ini aku, uhm–aku …aku—” gadis itu tergagap.

“Hei, aku akan—oh, gadis kecil!”

“Apa? Apa yang kalian bicarakan?” terdengar suara ketiga. Suaranya sangat mirip dengan Devi, hanya saja milik seorang laki-laki. Ini memberi gadis itu kekuatan untuk bergerak maju menuju jendela.

“Akulah yang ada di sini,” kata gadis itu dengan gugup. Dia tidak pernah berbicara dengan siapa pun di luar keluarganya dan para Pendidik.

“Baiklah - allo di sana - dan - di sini kami pikir kamu adalah mesin pembunuh - sadis - tunggu – kamu, bukan? Aku tahu tidak satupun dari Pengawas adalah perempuan, tapi …”

“Aku bukan Pengawas,” kata 3556P melalui jendela. ”Aku dari Kuadran 5. Aku–mmm–aku kabur.”

“Apa yang baru dia katakan? Apa dia bilang dia kabur? Itu tidak mungkin,” suara kedua berkata dengan nada datar.

“Kalau itu tidak mungkin, maka aku menatap hal yang mustahil di bawah sinar bulan sekarang, karena dia ada di situ berbentuk daging dan darah—kelihatannya banyak darah … kamu baik-baik saja, Sayang?” tanya suara ketiga.

“Aku membuang keping pelacakku,” kata gadis itu dengan lembut. Dia menyukai suara ketiga.

“Kamu membuangnya?” Suara pertama berbicara lagi. ”Bagaimana kamu bisa membuangnya? Seorang gadis kecil sepertimu!”

3556P merogoh saku dan mengeluarkan pisaunya.

“Wah! Dia punya pisau!”

“Oh, sayangku!” suara ketiga berbicara lagi. ”Doaku terkabul!”

Doa. 3556P tersenyum.

Tiba-tiba dua tangan yang diikat dengan tali menjulur keluar dari jendela.

“Apa kamu bisa membantu kami, gadis kecil?”

Sebelum dia melanjutkan kalimatnya, gadis itu sudah tahu apa yang harus dia lakukan. 3556P meletakkan pisau itu di antara tangan pria itu dan memotong talinya.

Dia mendengar erangan lega, dan kemudian pria lain berteriak-teriak berebut mengeluarkan tangan mereka juga dari jendela.

“Lepaskan aku, kamu akan mendapat giliran!”

Setelah semuanya bebas, gadis itu mengintip ke belakang di jendela persegi panjang kecil.

“Kalian siapa?” dia bertanya.

“Ya … ceritanya panjang. Pada dasarnya, kami semua adalah pemberontak—kalau kamu mau percaya—dari berbagai kuadran. Sekitar seminggu yang lalu, mereka melemparkan kami ke sini supaya kami mati kelaparan, atau saling memakan—mana yang lebih dulu. Mereka meninggalkan beberapa paket makanan sialan dan seember air kotor, dan inilah kami. Seharusnya tidak ada lagi manusia yang tinggal di Kuadran 6 - tetapi para Pengawas pasti tak menyangka bahwa aka nada malaikat kecil yang datang untuk menyelamatkan kami.”

“Bagus. Aku yakin dia sama lapar dan lelahnya seperti kita—jangan memaksa dia untuk menyelamatkan kita.”

“Aku mau menolong.”

3556P berusaha sebaik mungkin untuk melihat pria yang dia ajak bicara, tetapi cahaya dari langit malam tidak cukup menembus jendela.

“Gadis kecil? Aku punya ide,” suara kedua menyela. ”Apakah ada—ehm, batu atau apa saja di luar sana?”

3556p melihat KE sekelilingnya. Di sebelah kirinya, ada beberapa batu. tidak terlalu besar, tapi dia mengangguk ke arah jendela.

“Bagus. Bisakah kamu mengangkatnya dan mencoba menyerahkannya kepada kami melalui jendela?”

“Gadis kecil yang malang itu terluka dan kamu meminta dia untuk mengangkat batu yang berat?”

“Jika kita berhasil keluar dari sini, kita bisa menolongnya.”

“Bagaimana mungkin beberapa batu sialan bisa membantu kita?”

“Kamu akan lihat.” Suara kedua terdengar kesal atas pertanyaan teman satu selnya.

“Aku bisa melakukannya.” Gadis itu berjalan ke bebatuan dan berusaha keras untuk mengangkatnya. Dia mengambil dua buah dan memberikannya ke tangan yang menjulur dari jendela.

“Terima kasih,” kata suara itu parau.

3556P berdiri di luar, menunggu apa yang harus dilakukan selanjutnya.