Now Loading

Bab 21

Brazzaville, 4° 16′ 4″ S, 15° 17′ 31″ E
Kantor Satelit WHO


Kelelahan setelah perjalanan belasan jam di pesawat, Cecilia dan Akiko merebahkan diri di sofa. Mereka sengaja menuju ke kantor WHO terlebih dahulu untuk menyamarkan kedatangan.

Besok pagi-pagi mereka akan terbang ke Pointe Noire lalu melanjutkan perjalanan ke Congo Basin tempat camp Golden Logging Timber Company melalui sungai yang adalah jalan satu-satunya menuju ke sana. Mereka sudah menelpon agen penyewaan speedboat terbaik yang ada di Pointe Noire.

Hari ini mereka berkesempatan untuk menelisik keberadaan Fabumi yang ditangkap oleh DGSE beberapa waktu lalu. Informasi terakhir yang berhasil didapat, Fabumi dibawa via darat ke Brazzaville. Lalu ditempatkan di sebuah tempat di pinggiran kota.

Akiko melaporkan semua rencana melalui X-One kepada Dokter Adli Aslan. Direktur Jenderal WHO itu hanya menjawab singkat dan mengatakan bahwa pengawal yang diminta oleh Cecilia akan menunggu di pelabuhan Pointe Noire. Namanya Andalas. Kalian tidak perlu tahu nomor kontaknya. Andalas lah yang akan menemukan kalian.

Selain itu Dokter Adli juga memberikan alamat di mana Fabumi ditahan. Sebuah Mansion di pinggiran kota Brazzaville kepunyaan seorang pengusaha kenamaan Perancis yang menjadi konglomerat di Kongo bernama Bastien.

Cecilia terpekik. Cuma 1 orang? Apakah Dokter Adli menyewa Superman? Atau Hulk? Akiko hanya mengangkat bahu sambil tersenyum geli melihat kepanikan Cecilia.

Dengan diantar mobil WHO, Cecilia dan Akiko bergerak keluar kantor menuju alamat mansion yang dimaksud. Hanya untuk menjumpai sebuah kenyataan mengejutkan karena sekeliling pagar mansion itu telah dikelilingi oleh garis polisi.

Penelusuran informasi yang dilakukan oleh keduanya menyebutkan bahwa beberapa hari sebelumnya, mansion itu diserbu oleh kelompok pemberontak karena pengusaha Perancis bernama Bastien itu adalah penyokong utama pemerintah yang sekarang berkuasa.

11 orang terbunuh dan tidak satupun dari pihak pemberontak. Begitu yang didapatkan Cecilia saat mencari informasi di kantor kepolisian metro. Lalu di mana Fabumi berada sekarang? Pihak kepolisian mengatakan bahwa dari 11 orang yang tewas tidak satupun dari pribumi Kongo. Sebagian besar karyawan perusahaan Bastien yang merupakan orang Perancis dan Aljazair.

Berarti ada kemungkinan Fabumi masih hidup. Tapi pemberontak? Cecilia yang lama berpetualang di Afrika mengerutkan keningnya. Sudah lebih dari 3 tahun ini tidak ada yang namanya pemberontak di Kongo. Semuanya sudah melakukan rekonsiliasi dan selama masa itu belum pernah ada berita saling serang yang melibatkan eks pemberontak.

Ada yang aneh di sini. Cecilia meminta Akiko menghubungi Dokter Adli. Siapa tahu melalui jaringannya, Dokter Adli bisa mendapatkan informasi para penyerang.

Jawabannya tak berselang 10 menit dari pertanyaan Akiko. Para penyerang adalah agen-agen GRU yang menyusup masuk Kongo lewat Afrika Selatan dan menyamar dengan menggunakan baju dan lambang pemberontak di masa lalu.

GRU? Ivan? Ya, siapa lagi kalau bukan Ivan Chenkhov yang mendalangi ini. Dia tahu siapa Fabumi dan juga tahu peristiwa di Congo Basin secara garis besarnya karena Cecilia sempat berterus terang di awal-awal sebelum akhirnya menaruh curiga dan menghilang dari Moscow.

Cecilia hanya bingung apa sebetulnya kepentingan Moscow di sini. Mereka memang punya beberapa pabrik farmasi besar. Tapi perusahaan di Rusia tidak akan bisa sama sekali memperalat GRU. Dinas Rahasia Rusia itu lebih banyak membela kepentingan politik dan bukan lainnya. Sepertinya ada motif lain dari penyerangan dan penculikan ini. Cecilia kembali bermain catur di kepalanya.

Marc mungkin punya jawabannya. Tapi bagaimana cara bermain catur melawan Marc?

Cecilia memutuskan menunda urusan GRU sampai di sini dulu. Besok dia dan Akiko akan melakukan perjalanan yang sangat berbahaya ke Congo Basin. Meski Cecilia bisa memastikan bahwa Mister Bob dan cecunguk setianya tidak ada di sana.

Cathy telah melakukan penelusuran melalui satelit dengan resolusi tinggi dari Pandora. Tidak terlihat ada aktifitas apapun dalam beberapa minggu terakhir di camp yang mengerikan itu. Cecilia senang akhirnya dia punya mata dari atas langit yang bisa melihat semua hal di bumi melalui kecanggihan peralatan Cathy.

Tapi tetap saja mereka berdua adalah 2 orang dokter perempuan yang tidak pernah bergaul dengan kekerasan selama ini. Cecilia membenci tindakan kekerasan semenjak dahulu sehingga dia sama sekali tidak tertarik untuk ikut berlatih martial art seperti beberapa temannya yang lain.

Cecilia melirik Akiko. Gadis ini juga seorang dokter muda yang sangat gemulai. Duh, mereka berdua harus mengandalkan kemampuan 1 orang pengawal bernama aneh Andalas selama perjalanan ke lokasi berbahaya. Dokter Adli sepertinya sedang bercanda.

Keesokan paginya saat mendarat di Pointe Noire, Cecilia dan Akiko langsung menyewa kendaraan menuju pelabuhan. Informasi dari agen penyewaan, speedboat yang akan membawa mereka ke pedalaman Congo Basin bernama lambung Anakonda.

Bukan main! Semua hal terasa sangat menakutkan sekarang.

Akiko tertawa kecil melihat muka Cecilia yang memerah, memucat, memerah lagi, lalu memucat lagi. Dokter dari Jepang ini dengan lincah meloncati beberapa perahu sebelum akhirnya mendarat di sebuah kapal yang cukup besar. Anakonda ada di sebelah kapal ini.

Cecilia berteriak nyaring saat nyaris terjatuh ketika hendak melompat ke Anakonda. Beberapa laki-laki menyeringai ke arah mereka sambil memegang botol minuman yang belum separuhnya habis. Akiko mundur-mundur menggandeng Cecilia yang terlihat begitu cemas mengalami kejadian tak disangka ini.

Para lelaki itu tertawa-tawa sembari menghunus pisau besar di tangan mereka. Ini benar-benar serius. Cecilia berteriak sejadi-jadinya tapi suara arus air, hilir mudik kapal dan posisi speedboat yang berada di tengah sungai, membuat teriakan Cecilia tenggelam dibawa angin. Tidak ada orang yang berniat menolong. Hanya ada motoris Anakonda yang nampak bengong di belakang mereka.

Saat situasi sudah sangat berbahaya dan para lelaki itu merangsek maju menyerang Cecilia dan Akiko dengan niat membunuh, terdengar teriakan keras dari belakang 2 dokter itu. Motoris Anakonda menerjang para penyerang dengan gerakan gesit dan mematikan.

Terdengar beberapa kali teriakan tertahan ketika para penyerang yang berjumlah 5 orang itu berjatuhan di air. 3 orang berhasil berenang memegangi pinggiran perahu kecil, namun 2 lagi nampak hanyut terbawa arus karena leher keduanya patah.

Cecilia nyaris menjerit lagi saat sepasang lengan menariknya kuat-kuat menaiki Anakonda. Akiko bergegas ikut di belakangnya. Namun teriakannya terhenti saat motoris itu berbisik cukup keras di telinganya.

"Cepat naik! Mereka punya teman-teman yang bersenjata api! Aku Andalas. Orang suruhan Dokter Adli.”Lelaki berumur 40 an itu menarik tuas gasnya semaksimal mungkin. Sedari tadi dia sudah melepas tali pengikat begitu kedua wanita itu dikepung oleh orang-orang berandal itu.

Anakonda melaju kencang membelah sungai Zaire yang keruh menuju arah hulu.

Di kejauhan. Sang Eksekutor menghela nafas pendek. Menyuruh para preman lokal adalah sebuah kesalahan. Seharusnya dia turun tangan langsung tadi. Dia memandangi 2 penembak jitu di belakangnya dengan sebal.

* * *