Now Loading

Senjata Makan Tuan

Keesokan harinya, sesuai janji,  Mas Giri kembali datang ke hotel dan mengajak saya  makan malam di sekitaran Gadong. Kali ini kami berdua makan di Mc Donald saja.

“Habis makan kita kerumahku di Kampong Burong Pingai”, kata Mas Giri lagi.

“Zai, ada banyak yang akan aku ceritakan padamu. Sejak semalam ada kejadian-kejadian yang cukup menarik”, demikian Mas Giri memulai ceritanya.

Sambil duduk manis dan menikmati Fillet O’Fish, saya mendengarkan perkembangan yang terjadi sejak tadi malam hingga kini yang diceritakan Mas Giri.

Pertama-tama Mas Giri bercerita bahwa Sofia dan Sarah sudah sangat membaik kondisinya. Sejak tadi pagi panas badan mereka sudah kembali normal dan belum pernah naik lagi hingga malam ini. Dokter masih memantau perkembangan mereka hingga besok siang. Kalau terus stabil maka mereka berdua akan segera diperbolehkan pulang.

Namun yang paling menarik adalah cerita tentang Haji Rosli, tetangganya di Kampong Burong Pingai. Tadi pagi ketika Mas Giri baru pulang dari rumah sakit, Haji Rosli kembali bertamu.

Haji Rosli bercerita bahwa dia menemukan benda-benda aneh yang ditanam di halaman rumah Mas Giri. Benda itu di bungkus dalam kain putih dan sudah dikembalikan kepada pengirimnya.

“Menurut Haji Rosli, benda-benda itu sebenarnya ditujukan ke saya, namun karena sesuatu hal ternyata menyerang Sofia dan Sarah. Untungnya kedua anak tersebut hanya sempat menderita panas selama tiga hari dan sumber penyakit nya dapat diketemukan”, demikian kata Mas Giri lagi.

Mas Giri kemudian melanjutkan ceritanya. Pada mulanya dia tidak memperhatikan kata-kata Haji Rosli bahwa benda yang dbungkus dalam kain putih itu sudah dikembalikan kepada pengirimnya. Ternyata saya baru mengerti ketika sore tadi mendengar berita bahwa anak lelaki Muallif dari istri kedua di Kampong Bribi tiba-tiba jatuh sakit. Suhu tubuhnya panas tinggi dan sekarang dirawat di rumah sakit RIPAS.

“Ayo kita ke rumahku”, Kata Mas Giri, “Mungkin nanti bisa ketemu Haji Rosli”.

Selesai makan di Mc D, kami berdua kembali ke mobil Land Cruiser hitam dan segera meluncur ke Kampong Burong Pingai.

Tidak sampai 10 menit kendaraan kami sudah tiba di rumah Rosli di Kampung Burong Pingai. Tidak lama kemudian Hj Rosli pun muncul sehingga kami bertiga duduk mengobrol di teras rumah.

Setelah berkenalan dan berbasa-basi sebentar, Haji Rosli langsung ke pokok persoalan yang ingin dibicarakan.

“Nak Zai, melihat apa yang sudah terjadi dengan Sofia dan Sarah, ada baiknya Nak Zai dan Nak Giri jangan bertindak sendiri melawan Muallif. Lebih baik ikuti saja kemauan Laila, tinggal satu minggu lagi nanti akan terang jalannya” demikian nasehat Haji Rosli kepada saya.

Saya juga kaget bahwa dia tahu lengkap tentang Muallif dan juga Laila. Ternyata, Mas Giri yang sudah menceritakannnya tadi pagi ketika Haji Rosli menunjukkan benda-benda aneh yang ditemukan di halaman rumah.

Tak lama kemudian Haji Rosli pamit.

“Baiklah Zai, hari sudah cukup malam, lebih baik saya antarkan kamu kembali ke hotel”, Kata Mas Giri tidak lama sesudah tetangganya pamit.

Di perjalanan kami sempat terdiam kecuali dalam hati saya dan Mas Giri sepakat untuk mengikuti anjuran Laila.

Sesampainya di hotel, saya langsung menuju kamar. Namun Eko ternyata tidak ada di kamar. Dan ketika saya menelepon kamar Asep dan Azwar, telepon saya juga tidak ada yang mengangkat.

Mungkin mereka bertiga belum pulang makan malam?

Bersambung