Now Loading

Kotak Sihir Telah Ditemukan!

Bagaimanapun juga kembali ke wujud semula jauh lebih menyenangkan. Meski penampilanku terlihat aneh---masih dengan pakaian berumbai-rumbai ala Suku Yahi serta hiasan bulu-bulu angsa tersemat di kepala, aku tetap merasa itu jauh lebih baik.

Sementara Bogart, sesuai janjinya ia masuk ke ruang kelas 8 A, menyampaikan sesuatu.

"Selamat siang, anak-anak. Ada sedikit himbauan untuk kalian. Sekali-sekali jangan pernah membawa barang berharga ke sekolah. Sebab sekitar satu jam lalu aku masuk ke toilet dan kutemukan sebuah kotak pensil tertinggal di sana."

"Oh, kotak itu milik saya!" Seruku tanpa bisa menahan rasa gembira.

Huft, akhirnya, kotak berisi pensil peninggalan Kakek itu kutemukan juga.

Bogart menatapku. Alisnya terangkat sedikit. 

"Anda yakin barang itu milik Anda, Miss Liz? Maksud saya, mm, Anda---masuk ke toilet khusus pria?" 

Aku terdiam. Agak bingung bagaimana mesti menjelaskannya. Bogart merogoh saku jas yang dikenakannya. 

"Benar barang ini milik Anda?"

Aku tertegun beberapa saat. Mengamati kotak pensil di tangan Bogart. Tidak. Warnanya berbeda dengan kotak pensil milikku.

"Kotak itu milik saya, Mister!" Bryan yang duduk di bangku paling belakang mengacungkan tangan. Bocah bertubuh kurus itu terburu maju ke depan kelas.

"Oh, jadi...,?" Bogart mengerling ke arahku.

"Sepertinya kotak itu bukan milik saya," aku menggeleng tegas. Bogart memberi tanda ke arah Bryan agar mendekat.

"Kau bisa sebutkan apa isi kotak ini, Boy?" Bogart bertanya tenang. Bryan menganggu.

"Isinya jam tangan milik Papa saya, Mister. Papa menitipkan kepada saya, sebab rantainya yang terbuat dari emas---putus."

Bogart mengangguk. Lalu menyerahkan kotak pensil di tangannya kepada Bryan. "Lain kali jangan teledor, ya, Boy. Ingat sekali lagi, jangan membawa barang berharga ke sekolah."

"Thank  you, Mister. Maafkan saya."

"Kau boleh kembali ke bangkumu. Baiklah anak-anak, kukira sudah cukup. Silakan lanjut belajar. Selamat siang!"

"Selamat siang Mister Bogart!"

Bogart menoleh dan mengangguk ke arahku.

"Silakan Miss Liz. Selamat siang...."

"Selamat siang," aku menyahut pelan.

***

Pukul 13.00. Kelas baru saja bubar. Tapi aku memutuskan tinggal beberapa saat untuk mengoreksi hasil ulangan anak-anak.

Baru saja menyentuh dua lembar kertas, terlihat Dirga berdiri di ambang pintu.

"Boleh saya masuk, Miss Liz?" bocah tambun itu menatapku ragu.

"Masuklah, Boy. Ada yang bisa kubantu?"

"Maafkan saya, Miss Liz. Saya harus jujur kepada Anda. Kotak pensil milik Anda tidak tertinggal di toilet paling ujung itu. Melainkan---" Dirga tidak melanjutkan kalimatnya.

Aku memicingkan mata.

"Melainkan---saya meninggalkannya di toilet yang pada pintunya terpalang tulisan Maaf Sedang Dalam Perbaikan."

"Benarkah?" aku terhenyak.

"Benar sekali, Miss Liz. Waktu itu saya sengaja mencari tempat persembunyian yang aman untuk mengetahui apa isi kotak pensil milik Anda," Dirga tertunduk. Aku bangkit dari dudukku. 

"Aku menghargai kejujuranmu, Boy. Baiklah, aku akan segera melihatnya ke sana. Semoga saja kotak itu masih ada."

"Kukira percuma Anda ke sana, Miss. Karena...."

"Ada apa lagi, Boy?" aku mulai was-was.

"Karena ... saya tadi melihat Bryan telah mengambil kotak itu dan membawanya berlari ke belakang sekolah."

***

Aku terpekur sejenak. Haruskah bersikeras mengejar keberadaan kotak berisi pensil peninggalan Kakek itu? 

Tiba-tiba saja kepalaku terasa pening.

"Baiklah, Boy. Kukira kita bisa membicarakan masalah ini besok pagi. Aku akan menanyakan langsung kepada Bryan. Sekarang kau harus pulang. Ini sudah lewat jam makan siang," aku melirik arloji di pergelangan tangan kiriku. 

"Miss Liz, saya kira besok Anda tidak akan bisa menemui Bryan," Dirga menatapku ragu.

"Oh, ya?"

"Benar Miss. Sebab beberapa menit lalu saya melihat Bryan---menghilang."

"Menghilang?"

Dirga meremas-remas jari jemarinya.

"Boy, katakan!" Aku mulai lelah.

"Anu Miss ... saya melihat Bryan menghilang bersama kepulan asap hitam."

Oh, kepalaku! Mendadak ada begitu banyak kunang-kunang. Aku kembali duduk, menghela napas berkali-kali. Berusaha menenangkan diri. 

Bryan. Huft, semoga---ya, semoga tidak terjadi apa-apa pada diri bocah bertubuh kurus itu. 

Tapi benarkah begitu? 

Benarkah Bryan akan baik-baik saja?