Now Loading

BAB VI. SETELAH JALAN SETAPAK (BAGIAN 1)

3556P tak berani berteriak.

Dia menutup matanya rapat-rapat, dan mencoba memikirkan sepuluh tahun yang lalu, ketika dia dan neneknya sedang berjalan di jalan setapak. Tangannya perlahan-lahan masuk ke saku dan menggenggam uang logam di dalamnya erat-erat.

Di sini, sepuluh tahun kemudian, dia dan neneknya bertemu lagi dalam keadaan yang jauh berbeda. Dia melepaskan uang logam itu dan mengeluarkan tangannya dari saku. Tanpa membuka matanya, gadis itu meraba-raba ke kanan sampai dia menemukan tangan neneknya yang dingin tak bernyawa. Menyelipkan tangannya sendiri ke dalamnya lalu tertidur.

Raungan sirene yang memekakkan telinga tanda jam makan terakhir membangunkannya beberapa jam kemudian. Sirene itulah yang mengingatkannya bahwa dia masih memiliki pisau untuk membuka ransum makanan. Dia menegakkan badannya sedikit untuk melihat sekeliling. Di atas tumpukan mayat, dia memperhatikan bahwa tidak ada Pengawas yang terlihat, dan tidak ada lampu yang menyorot.

Meskipun demikian, 3556P tak mau mengira-ngira bahwa pencarian dirinya telah berakhir. Mungkin saja akan dilanjutkan sampai pagi.

Gadis itu memutuskan untuk mencoba merawat lukanya. Darah yang mengalir beberapa jam sebelumnya telah mengering, dan sekarang jubahnya melekat di punggung. Menatap langit untuk menghindari melihat wajah-wajah di tumpukan, dia mengambil pisau dari sakunya dan mulai merobek tudung kepalanya menjadi beberapa potong. Dia mengambil potongan terpanjang dan membalut luka di lehernya.

Kemudian dia memotong bagian bawah jubahnya. Dengan menusukkan pisaunya ke kain merah tebal tepat di betisnya lalu merobek ke atas, kemudian memotong seluruh bagian bawah jubah. Potongan itu berbentuk persegi panjang setelah dirobek pada sambungan jahitannya. Berlutut di samping neneknya, dia meletakkan potongan kain tersebut sebagai selimut.

Selamat tinggal, Devi.


Gadis itu kemudian merangkak dan berjalan ke dasar tumpukan. Sebelum dia pergi, dia berbalik.

"Aku cinta kamu."

***

3556P mencapai dasar dengan tenang, dan hanya ketika kakinya menginjak tanah, dia benar-benar mensyukuri kesejukan rumput yang mengelilingi tumpukan orang mati. Tanpa tudung kepalanya, dia akhirnya merasakan angin bertiup membelai wajahnya.

Ada perasaan dingin yang baru di kakinya yang telanjang. Dia langsung menggigil, tetapi tahu bahwa dia harus segera berlari—terus berlari sampai dia keluar dari kuadrannya.

Kegelapan total dan keheningan yang menyambutnya kini.

Dia telah meninggalkan jalan setapak di belakang belasan kilometer lalu, dan sedang mencari tanda jalan keluar. Tiba-tiba terpikir olehnya bahwa dia tidak tahu ke mana dia akan pergi. Dalam hidupnya, 3556P belum pernah berada sejauh ini, jauh dari batas area yang telah ditetapkan oleh undang-undang. Dia melihat ke sekeliling dalam kegelapan, panik mencari tanda—apapun yang menunjukkan padanya bahwa dia sudah jauh dari tempat asalnya.

Dia memperlambat larinya, dan sekarang berdiri di lapangan yang luas. Angin membuat rambutnya berderai menutup wajahnya, dan membuat matanya berair.

"Kemana aku harus pergi?" tanyanya tanpa berharap jawaban.

Menatap ke langit, 3556P teringat cerita neneknya tentang bintang-bintang.

“Bintang adalah benda yang menerangi langit malam, mereka akan jadi malaikat penunjuk jalanmu, Sayang. Ibu Nenek biasa memberitahuku—jika kamu tersesat—ikuti saja yang paling cemerlang, dia akan membawamu ke tempat yang kamu tuju."

Dia berasumsi bahwa cahaya di langit yang dilihatnya adalah bintang-bintang ini, dan dengan panik mencari yang terbesar. Dia mulai berjalan lagi, dan karena sambil mendongak, kakinya tersandung sesuatu yang keras dan bulat. Hampir saja dia terjatuh, ketika kemudian melihat ke bawah untuk menemukan silinder putih dengan tulisan hitam.

KUADRAN 5

Beberapa meter di depannya, silinder putih lain yang tegak di tanah bertuliskan:

KUADRAN 6

Dia telah berhasil lolos dari kuadrannya. Tidak ada yang pernah sampai ke sini sebelumnya dan tetap hidup.

***

Gadis itu melihat ke sekelilingnya. Tidak ada rumah seperti di kuadrannya. Dia berjalan dengan ragu-ragu, jubahnya mengeluarkan suara gesekan dengan kakinya. Saat dia menoleh luka di belakang lehernya terbuka kembali. Dia menjerit kesakitan, lalu segera menutup mulut dengan tangan. Tidak ada yang terjadi.

"Tak ada manusia seorang pun," dia berbisik pada diri sendiri. melepaskan kain pembalut di lehernya dan mengusap lukanya.

Terus berjalan dan berjalan, akhirnya 3556P sampai di sebuah bukit kecil. Rasa ingin tahunya timbul—tidak ada alasan untuk tiba-tiba ada bukit di tanah datar.

Saat dia berada di puncak bukit, dia mendengar suara-suara. Suara yang datang dari bawah.

“Hei! Siapa itu?"