Now Loading

Bab 24

Gian Carlo mengamati dengan teliti dari bukit tinggi tempatnya berdiri menggunakan night vision binokuler miliknya. Tidak nampak ada bekas penyerbuan atau semacamnya di villa mewah yang terletak sekitar 150 meter di bawahnya itu.

Hmm, jadi kenapa Trah Maja begitu terburu-buru tadi siang? Gian Carlo membatin penasaran tapi hatinya senang. Itu artinya Manuskrip Kuno punya kemungkinan besar belum terusik dari tempat berpenjagaan tidak main-main itu.

Lelaki Italia itu telah memakai perlengkapan paralayang. Angin sedang bagus. Dia akan dengan mudah mengarahkan dirinya mendarat di dalam komplek besar itu. Tapi dia harus menunggu Wisanggeni berbuat huru-hara terlebih dahulu.

Mula-mula tidak terdengar apa-apa. Suasana begitu senyap seolah udara pun mendadak mati. Kemudian mendadak terdengar ledakan-ledakan kecil di sana sini. Disusul satu dua kali ledakan yang cukup besar di pintu gerbang.

“Awas serangan!”

“Hati-hati! Awasi semua sudut pagar!”

“Menyebar! Tangkap pengacau itu!”

Terdengar teriakan-teriakan saling memperingatkan disusul perintah-perintah untuk mencari biang kekacauan. Melalui teropongnya Gian Carlo melihat sesosok bayangan berbaju hitam berlari ke sana kemari melemparkan granat dan dinamit. Wisanggeni telah beraksi.

Wisanggeni sengaja melakukan keributan di bagian depan padepokan. Sehingga konsentrasi para penjaga tertuju ke sana. Ini untuk memudahkan Gian Carlo menyusup melalui udara dari belakang.

Setelah melihat para penjaga berlarian dan situasi nampak mulai kacau, Gian Carlo beraksi. Mengambil ancang-ancang dan menerjunkan diri dari bukit. Paralayang itu melaju di udara. Gian Carlo tahu harus melewati satu penghalang utama agar tidak ketahuan. Lelaki Italia ini menyiapkan senapan bius jarak jauh sambil mengatur gerak paralayangnya.

Itu dia! Menara penjaga di sudut kiri belakang. Terlihat 1 orang penjaga yang waspada namun tatapan yang terlalu fokus ke depan. Gian Carlo membidik. Penjaga itu terjungkal dari tempatnya berdiri. Pingsan seketika. Itu peluru obat bius dosis tinggi.

Gian Carlo mendarat dengan mulus di halaman belakang gedung tanpa seorangpun yang memperhatikan. Buru-buru lelaki itu membereskan paralayangnya dan menyembunyikannya di rimbun perdu dan bunga-bungaan yang banyak terdapat di sana.

Saatnya menyusup!

----

Mada meneteskan sedikit darah dari tabung kecil menggunakan pipet. Ke sebuah cawan yang berisi air dan dipenuhi dengan beraneka kembang yang mengambang. Mulutnya komat-kamit membaca mantra-mantra kuno. Suara mendesis terdengar saat darah itu mengenai permukaan air.

Beberapa tetes darah dan tambahan mantra lagi akan cukup untuk menguasai pemuda itu dan menjadikannya sebuah boneka. Mada tersenyum senang.

Di tempat lain. Raja mengrenyit kesakitan seakan sebatang jarum menjalar di kepala menuju batang otaknya. Citra yang sedang tekun membersihkan luka gigitan anjing pada lengan Raja tidak memperhatikan betapa wajah Raja memucat sepias kertas.

Sin Liong sudah pergi sedari tadi setelah mengantar Raja pulang. Pemuda itu hendak melapor ke Babah Liong mengenai perkembangan terbaru situasi di Bubat.

“Sudah beres. Lukamu tak akan terinfeksi. Raja....kau kenapa?!” Sambil menyelesaikan bebatannya pada luka Raja, Citra terkejut melihat wajah Raja berubah hebat. Nampak begitu kesakitan.

Citra bergerak cepat. Ada sesuatu yang lain sepertinya! Sesuatu yang tidak kasat mata menyerang Raja! Gadis ini menyentuhkan tangan pada bandul kalungnya lalu memegang cincin yang dikenakan Raja. Cincin pemberian tetua ketika Raja terlibat kejar-kejaran di daerah Sumedang.

Raja nyaris terpelanting begitu sengatan hawa dingin memasuki tubuhnya setelah Citra menyentuh cincin di tangannya. Kesadarannya yang tadi sudah hampir jatuh, bangkit kembali. Terlambat sekian detik saja, Raja hanya akan menjadi sebuah boneka dengan nyawa. Tunduk pada apapun perintah Mada.

Di tempat lain. Mada menutup wajahnya agar tidak terciprat air panas di cawan teluhnya yang tiba-tiba saja mendidih dan bergolak. Huh! Ada yang membalik mantranya!

Mada menyesal terlalu memandang remeh kemampuan orang-orang di sekitar Raja. Padahal dia tadinya akan menangkap Raja untuk menggagalkan kejadian yang diramalkan oleh Manuskrip Kuno. Gerbang waktu akan dibuka oleh sepasang kekasih yang salah satunya adalah Sang Putri yang manjing kembali.

Mada mengeluh dalam hati. Perlawanan mereka sungguh hebat. Dia tak boleh sembrono lagi.

Mada masih punya satu rencana lagi yang tak akan pernah diduga oleh mereka. Kali ini dia harus berhasil. Atau kekacauan demi kekacauan akan merubah jalannya sejarah dengan amat sangat cepat.

Mada memanggil anak buahnya yang paling dipercaya dan memberikan beberapa perintah penting.

----

Hoa Lie dan Feng Siong mengendap-endap di kegelapan. Kebetulan bulan sedang mati. kegelapan total menyelimuti malam. Memudahkan kedua orang utusan dari China itu mendekati tempat tinggal Bli Gus Ngurah yang terlihat terang benderang karena semua lampu sepertinya sengaja dihidupkan.

Huh! Mereka sudah mengendus rencana penyergapan rupanya. Hoa Lie merutuk dalam hati. Orang-orang Indonesia ini ternyata tak bisa dipandang sebelah mata!

Tapi mereka tidak bisa mundur. Hoa Lie masih yakin dengan kemampuannya. Apalagi semua ini baru tahap pertama dari penelisikan mereka terhadap Manuskrip berbahaya itu. Masih jauh dari tujuan utama.

Hoa Lie memberi isyarat Feng Siong untuk bersiap-siap. Dari halaman belakang ini nampak 2 orang lelaki gagah sedang berpatroli sambil menenteng Kandik. Senjata tradisional semacam kapak di tangan mereka.  Hoa Lie meraba pinggang dan menggerakkan tangannya.

Siuutt...siuuttt...clap...clap

Kedua lelaki itu langsung tumbang begitu piaw Hoa Lie telak menancap di leher yang tepat mengenai urat nadi besar. Feng Siong bergidik. Gadis ini dengan ringan tangan sanggup membunuh siapapun.

Hoa Lie tidak peduli dengan arti tatapan Feng Siong, dia terus maju mengendap-endap. Penjaga halaman belakang telah dilumpuhkan. Urusan selanjutnya adalah mencari Bli Gus Ngurah yang pasti bersembunyi di ruang utama gedung ini.

Feng Siong terpaksa mengikuti. Ini semua perintah yang tak bisa ditarik mundur meski dia sama sekali tidak setuju dengan tindakan Hoa Lie yang main bunuh orang.

Kedua utusan dari China ini melumpuhkan 2 penjaga lagi yang berjaga di depan pintu gedung utama. Hoa Lie kembali memainkan piawnya agar tidak menimbulkan kegaduhan, sedangkan Feng Siong menggunakan kemampuan kungfunya melumpuhkan penjaga tersebut dan membuatnya pingsan.

Hoa Lie menyuruh Feng Siong berjaga di depan pintu sementara gadis itu menyelinap ke halaman depan. Terdengar suara bak bik buk beberapa kali dan jeritan-jeritan lirih yang menyayat hati. Feng Siong yakin Hoa Lie membunuh mereka semua. Pemuda ini makin tidak senang hatinya. Gadis gila!

Hoa Lie kembali dengan senyum tipis yang terlihat begitu mengerikan bagi Feng Siong. Gadis ini menendang pintu gedung utama yang terkunci dari dalam.

Brakkkk! Berbarengan dengan suara keras pintu yang didobrak paksa oleh Hoa Lie, melesat beberapa bayangan hitam kecil ke arah mereka. Hoa Lie dan Feng Siong tidak yakin apa itu dan seberbahaya apa bayangan serupa bola yang kini menyerang mereka. Keduanya melompat mundur ke tempat terang. Dan keduanya terbelalak hebat!

Bayangan-bayangan hitam sebesar bola itu ternyata adalah kepala! Benar-benar kepala tanpa tubuh! Melayang-layang di hadapan mereka dengan mulut menyeringai dan taring-taring yang meneteskan darah segar. Bersiap menyerang mereka kembali.

Leak! Hoa Lie menjerit kecil dalam hati.

Dia sudah mempelajari Bali dengan segala macam ilmu dan kleniknya sebelum berangkat. Dan dia tidak menyangka harus berhadapan langsung dengan mitos itu. Leak, kepala-kepala tanpa tubuh yang sekarang mengelilingi mereka dengan gerakan mengancam.

* * ****