Now Loading

Bab 20

Cayman Islands, 19° 20′ 0″ N, 81° 24′ 0″ W
Di sebuah Puri Pinggir Pantai Cayman


Laki-laki murah senyum itu meremas pinggiran meja. Ada kecemasan di wajahnya.

"Kita ambil suara. Siapa yang setuju untuk mengalokasikan segala sumberdaya organisasi kita untuk mencegah pergerakan WHO atas potensial pandemi ini, silahkan angkat tangan kalian.”

11 orang yang semuanya berpakaian rapi dan perlente itu saling berpandangan satu sama lain. Selama ini mereka mensupport perang di beberapa bagian dunia dalam upaya mengendalikan populasi penduduk bumi.

Misi organisasi super rahasia yang anggotanya adalah orang-orang super kaya di dunia yang mempunyai ide dan prinsip sama ini sebenarnya sangat sederhana. Menjaga keseimbangan antara jumlah populasi manusia dengan kapasitas kemampuan bumi yang dihuni.

Walaupun harus menggunakan cara ekstrim seperti perang dan wabah, Organisasi akan menghalalkannya.

Bahkan ada sebuah fasilitas rahasia yang sangat tersembunyi berupa laboratorium riset yang memproduksi sampel-sampel kecil senjata pemusnah massal biologi maupun kimia. Rencananya pada saat yang tepat, prototype senjata pemusnah massal itu akan diproduksi secara masif.

Lelaki yang sekarang berjalan mondar-mandir menunggu tanggapan dari para anggotanya ini adalah sang pemimpin Organisasi selama hampir 2 dekade. Seorang aristokrat yang memiliki kekayaan luar biasa dari garis keturunannya. Mempunyai bisnis raksasa yang berbasis energi terbarukan, sangat membenci minyak fosil dan bersumpah tidak akan menggunakannya secara pribadi. Karena itulah Sang Chairman lebih banyak menghabiskan waktunya di kastil-kastil yang dipunyainya sambil tekun mengendalikan Organisasi.

Kedua belas anggota Organisasi adalah deretan orang-orang terkenal sekaligus milyuner yang terdiri dari banyak kebangsaan. Sang Chairman sangat toleran dan anti terhadap diskriminasi namun sangat ketat dalam menerima anggota baru, karena itu anggota organisasi sangat terbatas jumlahnya. Hanya dibatasi hingga 13 orang dengan 1 orang chairman.

Organisasi ini adalah sebuah paradoks yang luar biasa. Di satu sisi gencar berkampanye melalui jaring-jaring organisasinya. Bagaimana melindungi sumberdaya alam, konservasi flora dan fauna, menjaga ketersediaan air di dunia, dan juga konservasi lautan. Tapi di sisi yang lain apabila pola keseimbangan mulai bergeser karena ledakan populasi manusia, maka Organisasi ini tidak segan-segan menurunkan tangan mautnya untuk menyeimbangkan semuanya kembali.

Mungkin apabila dibuat sebuah simbol, maka Organisasi ini punya 2 wajah yang selalu berubah. Berwajah Iblis sekaligus punya raut muka Malaikat.

Organisasi ini punya jaringan yang sangat kuat di mana-mana. Tentu lewat kekuatan finansial, lobi politik dan kemampuan untuk berbuat kekerasan. Karena itu saat isu Mollivirus sibericum dan Afrormosia bacteria baru dimulai, Organisasi sudah bisa mencium dengan hidungnya yang tajam.

Tentu ini adalah sebuah kesempatan langka bagi Organisasi. Tidak perlu menurunkan tangan pencabut nyawanya untuk menurunkan over populasi, namun pandemi mematikan yang akan melakukannya.

Hanya saja mereka juga bisa mencium gelagat tidak bagus yang menguar dari kantor WHO. Organisasi Kesehatan Dunia itu langsung bertindak cepat untuk memitigasi kemungkinan bencana wabah yang akan terjadi. Tentu saja Sang Chairman naik pitam. Mengerahkan segala cara untuk menjegal upaya-upaya yang dilakukan Adli Aslan dan timnya.

Tidak ada yang sadar bahwa penyerbuan GRU ke markas tersembunyi DGSE atas perintah salah satu anggota organisasi yang punya pengaruh luar biasa di wilayah Rusia dan negara-negara sekitarnya.

Berbeda dengan DGSE atas kendali Pierre yang mengincar Fabumi sebagai aset berharga, maka GRU diperintahkan untuk merampas Fabumi dan diperintahkan untuk melenyapkannya tanpa jejak sama sekali agar tidak dijadikan obyek penelitian yang berpotensi dibuatnya sebuah serum untuk menangkal pandemi.

Sembilan jari tangan teracung ke udara. 9 dari 11 orang anggota organisasi menyetujui usulan Sang Chairman. 2 diam saja namun salah satunya angkat bicara. Seharusnya secara keseluruhan Organisasi terdiri dari 13 orang. Namun sudah cukup lama Sang Chairman enggan mengganti anggota nomor 13.

"Saya dan adik saya sebenarnya setuju Ketua. Hanya saja perlu ada kesepakatan terlebih dahulu tindakan apa yang akan kita lakukan kepada mereka yang berniat menghalangi terjadinya pandemi ini,”Lelaki tinggi kurus dan bermuka pucat itu agak sedikit grogi saat menyampaikan pendapatnya. Adiknya yang masih muda diam saja di sebelahnya.

"Maksudmu?”Sang Chairman tidak mau melihat kepada yang diajak bicara. Matanya terpaku pada lukisan besar yang menunjukkan ilustrasi Black Death di abad 13-14 yang lalu.

"Eh maksud saya tentu saja apakah kita akan menyingkirkan mereka semua secara fisik? Atau hanya mencegah setiap tindakan mereka dan melawannya dengan cara diplomasi?”

Sang Chairman terdiam sejenak. Mukanya tertunduk dan masih tersenyum tipis. Suaranya lirih saat melemparkan sebuah keputusan.

"Kita serahkan pelaksanaannya kepada Sang Eksekutor. Dialah yang akan merencanakan dan bertindak. Kita hanya memberi tujuan kepadanya. Jangan sampai proses alami ini terhenti atau dihentikan oleh SIAPAPUN!”

2 orang yang sebelumnya menolak secara halus itu perlahan-lahan mengangkat tangan mereka.

Keputusan sudah dibuat. Sang Chairman tidak bisa ditawar lagi. Jangan sampai wajah ramah itu kehilangan senyuman, Karena yang muncul kemudian adalah raut muka setan yang tak segan-segan meminjam tangan malaikat pencabut nyawa agar bisa tersenyum kembali.

Sang Chairman membungkukkan tubuh, tersenyum lebar dan ramah kepada semua anggota organisasi di depannya. Memutar badannya dan matanya kembali terpaku pada lukisan Black Death di hadapannya.

* *