Now Loading

Pawai Sihir

Terbebas dari wujud lalat bersayap hijau yang bisanya hanya terbang menguing, kini malah berubah menjadi anggur. Duh, apa ini terlihat jauh lebih baik?

"Oh, tidak! Ini tidak boleh terjadi. Aku sangat menyukai anggur. Bisa-bisa aku memakan kalian...." Renata bergumam, lalu membungkukkan badan memungut kami yang menggelinding di dekat kakinya. Tangannya yang lembut meletakkan kami dengan hati-hati di atas bangku. 

"Cobalah mantra yang lain, Renata! Please, sebelum kau benar-benar ingin menyantap kami," Dirga menggerak-gerakkan tubuhnya yang gembul.

"Baiklah, baiklah. Ini aku---sedang berusaha mengingat-ingat!" Renata tampak mulai gugup. Ia duduk di samping kami.

Seseorang berjalan melintas di depan ruang kelas 8 A. Renata buru-buru berdiri dan mengangguk ke arah orang itu.

"Selamat pagi, Mr. Bogart."

"Pagi, Renata. Kelasmu sedang kosong?"

"Tidak Mister. Kami sedang mendapat tugas mengerjakan soal Matematika. Kebetulan saya sudah selesai. Jadi saya boleh keluar."

"Oh, you are a smart girl, Renata. Congrats!"

Aku menahan napas. Semoga Bogart tidak melongokkan kepalanya mengintip ke ruang kelas 8A.

"Lima belas menit lagi aku akan masuk ke dalam kelasmu, Renata. Sampaikan kepada guru Matematikamu itu, ya...." Bogart tersenyum, melambaikan tangan  kemudian berlalu meninggalkan Renata.

Aku menarik napas lega.

"Ayo Renata! Baca mantra sekali lagi. Sebelum Mr. Bogart masuk ke ruang kelas kita!" Dirga berseru cemas. Renata kembali duduk. Bocah berkaca mata itu mengatur napas sejenak. Ia mengangkat telapak tangannya kembali.

"Kukira, ini mantra terbaik yang masih bisa kuingat. Kalian bersiap-siaplah," Renata membisiki kami. Aku dan Dirga spontan beringsut. Renata mulai berkonsentrasi. Ia memejamkan mata sembari mengangkat kembali kedua tangannya. Aku dan Dirga menunggu dengan harap-harap cemas.

Bibir gadis itu nyaris mengucapkan sesuatu, ketika tiba-tiba pintu kelas terbuka. Seorang siswa muncul dengan langkah terburu.

"Renata? Apa yang kau lakukan di sini?" siswa itu mengernyit alis. Renata membuka matanya kembali.

"Kau sudah rampung mengerjakan soal Matematika, Yan?"

"Kau selalu memanggilku dengan sebutan 'Yan'. Itu ambigu tahu! Aku ini cowok. Namaku Bryan."

"Oh, sorry. Jadi aku sebaiknya memanggilmu apa? Bry?"

"Yup, Bry ... itu baru keren!"

"Bry, cepatlah pergi ke toilet. Kulihat kau sejak tadi menahan-nahan pipis. Benar, kan?" Renata mengalihkan pembicaraan.

"Entah mengapa kau selalu benar," bocah bernama Bryan itu menyahut sembari tertawa. Lalu setengah berlari ia menuju toilet yang letaknya lumayan jauh.

Aku dan Dirga masih meringkuk di atas bangku. Menunggu kelanjutan nasib kami. Renata kembali ke posisi semula. Duduk dengan mata terpejam.

"ISHI!"

Renata mengucap mantra. Lantang. Aku dan Dirga saling berpandangan.

"Miss Liz, yakin mantra itu benar?" Dirga membisikiku. Aku terdiam. Ragu.

"ISHI!"

Kembali Renata berseru. Ia membuka matanya sedikit. Mengintip kami yang tak juga bergegas menirukan ucapannya.

"Ayolah, cepat tirukan! Sebentar lagi Mr. Bogart masuk ke ruang kelas kita. Juga si Bryan itu," Renata menegur.

"Tunggu. Mantra itu terdengar aneh. Seperti nama sebuah resto masakan Jepang...." Dirga menyela.

"Bukan! Ishi itu Bahasa Yana. Artinya manusia. Aku pernah membaca tentang ini," Renata menjelaskan dengan agak jengkel. Aku terdiam. Kukira kali ini tak ada alasan bagiku meragukan Renata. Aku tahu muridku yang satu ini sangat cerdas. Ia suka membaca dan wawasannya cukup luas. 

Aku menggamit tubuh Dirga. Penuh semangat. "Ayo kita ucapkan mantra itu bersama-sama, Dirga. Sekarang!"

"ISHI!"

Cling!

Aku dan Dirga telah berubah menjadi manusia lagi. Sungguh lega rasanya. Lega bercampur gembira. Saking gembiranya kami saling berpelukan.

"Thanks, Renata."

"Sama-sama, Miss. Liz. Senang bisa membantu Anda."

Bertepatan dengan itu seseorang berjalan ke arah kami. 

Bogart

"Miss Liz? Kenapa berpakaian seperti itu? Mau ikut pawai?" Bogart mengamati penampilanku. Tatapannya yang setengah terkejut itu membuatku tersadar. Ada yang tidak beres menempel pada tubuhku.

Oh, aku mengenakan baju berumbai-rumbai. Aneh sekali.

"Miss Liz. Maaf. Bahasa Yana itu milik Suku Yahi. Penduduk asli pedalaman Amerika. Dan, Anda sekarang menjelma menjadi suku terasing itu," Renata terkikik.

"By the way, kostum yang bagus, Miss Liz. Serasi dengan bulu-bulu angsa yang tersemat di kepala Anda," Bogart masih menahan senyum. Wajahku memerah.

Tapi kemudian aku ikut tersenyum. Kupikir---lebih baik menjadi Suku Yahi ketimbang menjadi seekor lalat atau sebutir buah anggur.