Now Loading

Warjito Meninggal

Sudah 3 hari sejak saya mendapat surat teguran dari Laila yang dititipkan kepada seorang lelaki tidak dikenal malam itu di dekat hotel. Namun saya belum sempat menginformasikan isi surat yang saya terima dari Laila kepada bang Zai.

“Yuk kita menjenguk pak Man di rumah sakit!” Ajak Eko ketika dalam mobil jemputan sudah mendekati kawasan Gadong.

“Pak Suhaili, Ayo kita mampir ke rumah sakit RIPAS sebentar, kita mau menjenguk pak Man“, kata bang Zai kepada sopir.

Kendaraan segera dibelokkan menuju ke RIPAS Hospital dan kemudian kami berlima segera menuju informasi untuk menanyakan ruangan tempat pak Man dirawat. Tidak lupa sebelumnya kami mampir ke toko untuk membeli buah.

“Bagaimana keadaan pak Man?“ kata pak Suhaili

“ Alhamdulillah, sudah lumayan dan sudah lebih sehat, mungkin besok sudah boleh pulang“

Pak Man juga kemudian bercerita bahwa pak Warjito yang memukulnya hingga pingsan dan sudah koma sejak kecelakaan malam itu tadi pagi meninggal. Sementara dua temannya sudah mulai sembuh. Akan tetapi dengan meninggalnya pak Warjito, akan sulit ditemukan jawaban untuk mencari siapakah dalang penculikan empat Sekawan.

Setelah bercakap-cakap kurang lebih 15 sampai 20 menit, akhirnya kami mohon pamit ke pak Man. Ketika sedang menuju kendaraan di tempat parkir, saya melihat Mas Giri yang baru saja turun dari mobil Land Cruiser warna hitam.

“ Bang Zai, itu mas Giri“, kata saya menepuk bahu bang Zai.

“Ayo kita menemui mas Giri sebentar” Ajak Bang Zai.

Kami segera menemui Mas Giri dan bertanya mengapa dia ke Rumah Sakit. Mas Giri kemudian bercerita bahwa kedua putrinya, Sofia dan Sarah sakit demam panas sudah tiga hari dan dia harus giliran berjaga di rumah sakit dengan istrinya.

Bang Zai juga kemudian bercerita bahwa kami habis menjenguk Pak Man, Sopir kantor yang harus dirawat karena kecelakaan pada malam kedatangan kami ke Brunei. Pak Man sendiri sudah hampir sembuh. Namun Pak Warjito yang koma sejak kejadian sudah meninggal.

“Saya juga merasakan ada yang tidak normal dengan penyakit Sofia dan Sarah”, Tambah Bang Zai lagi.

“Tapi baiklah akan kita diskusikan besok malam pas giliran istri jaga di rumah sakit. Ini dia tadi sudah menelepon minta gantian.”

“Baiklah kalau begitu” Kata Bang Zai.

Kami kemudian pamit untuk kembali ke hotel dan titip salam untuk istri dan kedua putri Mas Giri.

Sepanjang perjalanan, Bang Zai tampak diam saja. Mungkin melamun, mungkin juga mengatur strategi baru setelah perkembangan terakhir dimana Pak Warjito meninggal dan dua putri Mas Giri jatuh sakit secara aneh.

“Asep, apa mungkin kedua putri Mas Giri kena sejenis santet?” tanya Bang Zai ke saya.

“Mungkin juga, saya juga sudah diperingatkan oleh Laila melalui surat agar Bang Zai jangan mengambil tindakan sendiri. Rupanya Laili juga sudah tahu bahwa Bang Zai minta seseorang untuk menyelidiki Muallif, kata saya.

“Hmmm, Baiklah, sepertinya kita harus merubah strategi dan ,menunggu sampai waktu dua minggu selesai. Tapi besok saya akan diskusikan lagi dengan Mas Giri”,

“Baiklah,” Kata saya

Kendaraan pun tiba di hotel. Kami berempat segera turun dan mengucapkan terima kasih kepada Pak Suhaili lalu menuju kamar masing-masing untuk beristirahat sejenak.

Ketika saya masuk ke kamar, azan Magrib di RTB 1 baru saja bergema

 

Bersambung