Now Loading

Bab 19

Arctic, 79°58’39.25″S 81°57’32.21″W
Laboratorium Penelitian Pandora


Sir, aku perlu bantuan. Aku tidak tahu apakah WHO bisa melakukan hal seperti ini? Sebuah penyelidikan lapangan. Bisakah aku mendapatkan informasi tentang Fabumi yang ditahan DGSE di Brazzaville?

Bisa Cec. Kita akan coba mendapatkannya.

Thanks sir! Tolong juga dilacak keberadaan Hantaa 05 please? Mungkin kita bisa menemukan orang imun atau carrier atau malah keduanya di sana.

Aku akan mengajak Akiko keluar dari sini, sir. Di sini cukup dengan adanya Prof Sato dan Cathy. Aku akan mengajaknya mendatangi titik nol Congo Basin. Tapi tentu aku perlu pengawalan. Tapi tidak dari Agency manapun. Apakah ini mungkin?

Semua keputusan ada padamu Cecil. Masalah pengawal aku akan menyediakannya. Tidak dari agency manapun. Kau katakan saja di mana nanti titik temunya. Pergunakan selalu X-One untuk berkomunikasi.

Cecilia merasa lega. Tidak ada gunanya dia berlama-lama di sini. Sudah ada Prof Sato dan Cathy. Akiko juga bisa sangat membantunya nanti jika dia tidak tertanam di ujung dunia ini.

Ada satu hal penting lagi yang harus dilakukannya sebelum meninggalkan Pandora besok pagi.

----

Cecilia memperhatikan Cathy memaku matanya ke layar sambil mengetikkan beberapa bahasa program. Berulang-ulang wanita itu melakukan hal yang sama. Dengan bahasa program yang berbeda-beda. Berulang-ulang pula Cathy menggeleng-gelengkan kepala. Mengambil nafas panjang lalu meninju lengan Cecilia.

"Aku sudah memakai 25 bahasa pemrograman yang berbeda sejak pertama ditugaskan untuk mencoba membuka chip ini. Selalu gagal. Semua peralatan ini sangat canggih. Bisa membaca semua bahasa di dunia. Bahkan yang paling kuno sekalipun. Tapi yang ini…..hhhh.”

"Jadi? Tidak mungkin terus begini kan Cat? Aku punya firasat chip ini merupakan kunci penting bagi kita untuk membuka rahasia Object X.”

Cathy mengangkat bahunya. Cecilia mengetikkan sesuatu di X-One.

Biarkan aku membawanya keluar dari sini. Kau ada ide harus dibawa kemana?

Cathy termenung sejenak. Dibawa keluar dari sini? Otak Cathy lalu berlarian kesana kemari.

NASA Cec. Kau bisa bawa ke sana.

Tentu saja.

Oke. Perlukah aku laporkan ke Profesor Sato?

Tidak Cat. Aku akan mengurusnya nanti.


Cathy tidak langsung mencabut chip itu. Tangannya sibuk mencari-cari. Di tangannya sekarang ada chip lain yang besarnya kurang lebih sama. Di masukkannya dalam sebuah scanner berbentuk aneh seperti tabung kecil. Tangannya sibuk di keyboard mengetikkan perintah. Terdengar desis lirih dari tabung itu. Cathy membuka tutup tabung. Di tangannya sekarang nampak chip yang sama persis dengan chip Object X.

What?! Cecilia ganti yang meninju lengan Cathy. Memberi isyarat kau jenius dengan kedipan matanya. Cathy nyengir. Senang sepupunya yang pintar itu terkagum-kagum kepadanya.

Malam ini, sebelum besok pergi, Cecilia menuliskan beberapa rekomendasi untuk Laboratorium Pandora. Rekomendasi yang sangat normatif agar orang tidak menaruh curiga atas kedatangannya.

Semua yang dibutuhkan untuk menjalankan rencana telah ada. Sudah pula disepakati pembagian tugas dan tim. Profesor Sato akan tetap memimpin penelitian untuk membuat percobaan demi percobaan agar cara penyembuhan bisa segera ditemukan. Profesor Sato akan ditemani oleh Cathy yang membantunya sebagai jembatan komunikasi dengan tim Cecilia yang ditemani Akiko dan juga Direktur Jenderal WHO Adli Aslan.

Mereka sempat berdiskusi malam itu mengenai kemungkinan membawa sampel-sampel obyek yang telah terinfeksi Afrormosia bacteria ke Pandora. Untuk itulah Cecilia punya rencana mendatangi titik nol di Congo Basin bersama Akiko. Dengan disertai pengawalan yang akan disediakan oleh Dokter Adli Aslan. Lebih bagus lagi jika Fabumi bisa ditemukan dan ikut ke Pandora.

Cathy diberikan tugas tambahan untuk memonitor semua berita yang mungkin ada kaitannya dengan Virus Arctic maupun Bakteri Congo yang sangat berbahaya itu. Cathy akan selalu memberikan alert melalui X-One jika ada berita-berita yang harus dibaca atau bahkan diinvestigasi.

Di atas semua hal tersebut, sebelum tim yang ada di Pandora berisitrahat dan tidur, adalah tingkat kerahasiaan dari misi ini. Dokter Adli Aslan berpesan bahwa sedikit saja kebocoran akan memantik kegaduhan dan spekulasi di mana-mana. Dan itu bisa menimbulkan chaos yang tak terkendali. Dunia akan masuk dalam kekacauan bahkan jauh sebelum serum atau vaksin ditemukan. Semua sepakat mengiyakan.

Cecilia bersiap-siap untuk perjalanan besok. Mereka akan dijemput pagi-pagi. Lalu melanjutkan perjalanan ke Brazzaville melalui Kevlafik, London dan Johannesburg. Chip asli dari Cathy diselipkannya di sol dalam sepatunya. Cecilia menguap dan merebahkan tubuhnya dengan gelisah. Bahunya terasa sangat berat. Bukan karena lelah fisik, namun beban tanggung jawab raksasa yang sekarang harus diembannya secara sukarela. Tak lama Cecilia terlelap dan menemui beberapa kali mimpi buruk tentang kota-kota yang terbakar dalam karantina.

Namun di tempat lain. Di belahan bumi yang lain. Seorang lelaki usia 60 tahunan yang didampingi oleh seorang wanita yang ada di depan laptop, bersama-sama menatap layar monitor raksasa yang ada di dinding ruangan megah itu. Begitu pula sekitar selusin orang yang rata-rata paruh baya dan duduk di sofa-sofa mewah, memakukan pandangannya ke layar. Menunggu wanita itu selesai mengetik.

Wanita itu sedang menerjemahkan gerak bibir Cathy dan Cecilia yang nampak sedang berbincang lirih di layar. Semua menanti dengan tidak sabar.

Aku sudah memakai 25 bahasa pemrograman yang berbeda sejak pertama ditugaskan untuk mencoba membuka chip ini. Selalu gagal. Semua peralatan ini sangat canggih. Bisa membaca semua bahasa di dunia. Bahkan yang paling kuno sekalipun. Tapi yang ini…..hhhh.

Jadi? Tidak mungkin terus begini kan Cat? Aku punya firasat chip ini merupakan kunci penting bagi kita untuk membuka rahasia Object X.

Wanita itu mengatakan hanya ini yang diperbincangkan oleh 2 wanita itu di Laboratorium WHO Pandora.

Laki-laki yang punya raut muka lembut dan ramah senyum itu menoleh ke arah kerumunan koleganya.

"Gentlemen, kita harus mencegah mereka semua yang berusaha menghentikan proses alami pembersihan bumi ini…”

* *********