Now Loading

Tetangga di Kampong Burong Pingai

Sudah 3 hari Sofia dan Sarah dirawat di Rumah Sakit RIPAS dan sudah 3 hari ini pula saya dan Titiek bergantian menunggu di sana.

Dokter sudah memastikan bahwa Sofia dan Sarah bukan terjangkit demam berdarah. Namun hanya menduga ada virus yang belum dikenal. Panas keduanya sudah tidak separah ketika masuk rumah sakit yang mencapai hampir 41 derajat. Kadang-kadang panasnya turun normal mencapai 37 derajat namun kalau malam hari kembali naik bisa mencapai 39 sampai 40 derajat. Dokter menyarankan keduanya tetap dirawat hingga panasnya stabil dan diketahui apa penyakit sebenarnya.

Sore itu saya pulang ke rumah dan beristirahat di teras sambil menikmati angin sepoi-sepoi. Kampong Burong Pingai di Berakas ini termasuk Kampong yang tidak terlalu padat, Hanya ada sekitar 70 rumah saja dan konon mulai dihuni pada sekitar 1956.

Menurut cerita orang-orang tua, dulunya mereka tinggal di Kampong Burong Pingai di atas air, sebagaimana kebanyakan penduduk asli di Brunei. Nah baru pada 1956 mereka dipindahkan dan diberi lahan di kawasan Berakas ini. Namun uniknya Kampong Buring Pingai yang asli di Kawasan Kampong Ayer juga hingga kini masih ada, Jadi di BSB ada dua Kampong Burong Pingai. Satu di darat yaitu di Berakas dan satu lagi di air yaitu di Bandar.

“Assalamualaikum”, Selagi saya duduk santai, Haji Rosli, tetangga saya datang dan menegur.

“Mana istri dan anak-anak, Sudah dua tiga hari tidak melihat mereka?” Tanya Haji Rosli.

“Sofia dan Sarah sedang sakit dan dirawat di hospital”, jawab saya.

“Sakit apa?”

“Badan mereka panas dan sudah tiga hari tidak turun-turun, dokter bilang kena virus, Tapi belum tahu virus apa”.

Haji Rosli adalah lelaki tua yang usianya sudah sekitar 70 tahun. Walaupun begitu badannya masih sehat dan tegap. Beliau merupakan salah satu perintis yang pertama kali tinggal di kampung Burong Pingai Berakas ini. Saya sendiri sudah menganggap beliau sebagai pengganti orang tua di Brunei. Dia hanya tinggal berdua dengan istrinya karena keempat anaknya sudah menikah dan tinggal di tempat lain. Bahkan ada yang tinggal di luar negeri seperti London dan Singapura. Yang rutin menjenguk Rosli dan istri adalah anak perempuan yang bungsu dan suaminya yang tinggal di Kampung Kiulap.

“Nak Giri, Saya merasa ada yang aura negatif yang jahat di rumah ini. Jangan-jangan ada yang berbuat jahat sehingga kedua anakmu sakit?, Apa Kamu punya musuh?”, Tiba-tiba saja Pak Haji Rosli berkata dengan pandangan mata menyelidik.

“Saya rasa tidak, Selama ini saya baik-baik saja”, jawab saya.

“Baiklah, Tapi Nak Giri harus hati-hati dan waspada”

Haji Rosli pamit dan saya duduk sendiri lagi di teras rumah . Di senja hari. Di Kampong Buring Pingai.

Saya bersama keluarga sedang berjalan-jalan di kawasan Water Front di Bandar. Ketika tiba di dermaga, Sofia merengek minta naik perahu, Dan tiba-tiba saja kami sekeluarga sudah ada di perahu yang melaju kencang di Sungai Brunei.

Tidak lama berlayar, tiba-tiba saja ada perahu lain yang menabrak perahu kami sehingga oleng dan Sofia serta Sarah terlepas dari pangkuan saya dan Titiek. Kedua anak itu jatuh ke dalam sungai dan berteriak minta tolong.

Saya mencoba melompat dan berenang untuk menolong , namun tiba-tiba saja Sofia dan Sarah sudah ada dalam perahu lain bersama seorang lelaki tua. Sekilas lelaki itu mirip dengan Haji Rosli, tetangga saya di Kampong Burong Pingai. mencoba mengejar , namun tiba-tiba saja bunyi lagu Terasana , Nada dering dangdut dari hape membangunkan saya dari mimpi.

Titiek, istri saya menelepon, minta saya ke rumah sakit untuk giliran menjaga Sofia dan Sarah.

Bersambung