Now Loading

Awal Pertarungan

Prabangkara sudah membawa peralatan lengkap. Ia sudah siap untuk berangkat, namun tiba - tiba Esti Pinilih memaksa ikut. Entah mengapa gadis itu sangat antusias meskipun ia tahu resikonya.

“Mas Praba, aku tahu tempat untuk masuk ke tempat itu. Jadi sebaiknya aku ikut agar kita lebih tahu jalan masuk dan keluarnya.”

“Tapi, dik Esti korban. Apa tidak tambah berbahaya bila kamu ikut.”

“Tidak, aku tidak akan merepotkan kalian.”

“Kita harus hati - hati sebab jika lengah para pengawal dan premannya akan mengamuk. Itu membahayakan kamu, Dik Esti.”

“Kali ini aku harus ikut mas, Esti ingin memastikan ingin melihat siapa sih dalang dibalik Upacara Tumbal Darah Perawan.”

“Sekali lagi aku ingatkan Dik misi ini terlalu berbahaya untuk Dik Esti.”

“Tidak, aku tetap ikut.”

“Oke… kalau tekad Dik Esti sudah bulat…. Bagaimana Mbah Sambung… Dik Esti memaksa ikut.”

“Ya, sudah…sebetulnya berat mengijinkanmu nak tapi… karena memaksa ikut… Mbah bisa apa, yang penting harus waspada karena musuh ada di mana - mana. Yang terlihat maupun yang tidak terlihat.”

“Baiklah, satu jam dari sekarang kita akan berangkat. Segala peralatan dicek kembali, namun sebelum berangkat sebaiknya kita berdoa dulu mohon pertolongan Tuhan untuk keselamatan bersama. Semoga lekas terkuak siapa dalang di balik ritual keji tersebut.”

Prabangkara, Esti Pinilih dan Mbah Sambung. Bersembahyang di Langgar yang ada di dekat rumah. Setelah bersembahyang mereka mengemas barang perbekalan. Sekedar senjata untuk membela diri. Ini adalah misi yang boleh dikatakan cukup berbahaya. Mereka hanya bertiga sedangkan ada puluhan orang yang ada di tempat itu.

Kalau tidak waspada mereka menjadi korban.

Meskipun demikian kepada telik sandi Prabangkara sudah mengirimkan sandi untuk mengamati dari jauh perjalanan mereka. Sewaktu butuh bantuan mereka akan dikirimkan isyarat yang hanya ia dan para telik sandi yang tahu.

Prabangkara bersiul dan perjalanan dari rumahpun dimulai. Bagi Prabangkara pekerjaan seperti ini sudah cukup sering dilakukan. Namun bagi Esti Pinilih pastilah pengalaman pertama, meskipun sebelumnya ia masih cukup ingat ketika ia diculik oleh gerombolan itu, Mereka harus memastikan bahwa pergerakan mereka tidak dalam amatan telik sandi mereka. Maka mereka menghindari tempat - tempat umum, melainkan melalui jalan kecil dan pategalan, seperti yang dilakukan oleh Prabangkara sebelumnya.

Perjalanan berkelok- kelok, melewati tangga tebing, menerabas pategalan dan mulai masuk ke sasaran. Mereka mulai melihat meskipun hanya bayang – bayang kibaran pohon pisang menari - nari. Dari jarak yang semakin dekat mereka mulai hati - hati sebab bisa saja ada yang melihat meskipun keadaannya gelap. Mereka menghindari membawa oncor, Sebab dengan membawa penerangan berarti memberi petunjuk mereka bahwa ada orang yang berusaha mendekat ke arahnya. Esti pinilih tidak terbiasa melangkah dalam gelap. Maka dengan spontan Prabangkara menggandengnya. Perasaan Esti tampaknya campur baur. Antara cemas, deg- degan karena merasa shock digandeng pemuda pujaannya, sekaligus bahagia mendapat dirinya digandeng oleh tangan kokoh kekar tersebut.

Ia tidak berusaha melepaskan gandengan itu, ia malah menikmatinya dan kadang ketika sempat terperosok, ia spontan merangkul Prabangkara. Kehangatan mengalir ia rasakan. Betapa hangatnya ketika tidak sengaja merangkul pria gagah itu. Kalau mau ia tidak mau melepaskan rangkulan itu, tapi saat ini bukan waktunya berpikir tentang cinta. Ini pertaruhan hidup mati dan kalau lengah bisa saja mereka menjadi korban.

Sudah sampai di bibir pereng di mana di atasnya kebun pisang terhampar luas. Dengan cepat Prabangkara melompat, mendaki pereng yang cukup curam tersebut, gerakan Prabangkara ringan sehingga seperti terbang saat akhirnya ia sampai di atas. Setelah itu ia mencari pohon yang cukup pisang yang cukup kuat, lalu mengikatkan tali dan ia melempar tali yang telah diikat untuk direntangkan ke bawah.

Esti giliran yang pertama memegang tali itu dan mendaki dengan bantuan tali, kemudian di susul Mbah Sambung. Setelah sampai ke atas, tali itu kemudian digulung kembali, lalu disembunyikan dibawah klaras pohon pisang. Prabangkara ada di paling depan di susul Esti Pinilih dan Mbah Sambung.

Mereka menyibak pelepah pohon pisang, menyingkirkan duri – duri dari ranting pohon andra dan mencari petunjuk jalan yang sebelumnya telah mereka tandai. Esti Pinilih ingat bahwa ia memang pernah melarikan diri lewat kebun ini. Ia mencari ancar- ancar dengan menandai batang pisang dengan tanda tertentu yang hanya diketahui oleh Esti. Tentu saja cukup kesulitan juga menemukan tanda itu sebab suasana gelap.

Lagi pula antara gerumbul satu dengan yang lainnya amat mirip susah dibedakan. Esti memang memiliki ingatan tajam, tapi ia perlu cukup waktu menemukan petunjuk, di mana tempat - tempat yang sudah ditandai itu.

“Sudah menemukan petunjuk belum?”

“Sebentar, saya harus memastikan langkah - langkah dulu untuk memperkirakan ke mana petunjuk itu muncul. Menurut perhitungan saya masih maju lagi kurang lebih 15 langkah.”

“Kamu yakin?”

“Insya Allah.” Prabangkara dan Mbah Sambung percaya saja pada Esti. Biasanya pemikiran perempuan lebih detail dari laki - laki, Cuma nanti harus hati - hati saat sampai di tempat ritual itu. Jangan sampai emosi Esti meluap dan akhirnya apa yang direncanakan menjadi kacau.”

“Nah, aku dapat petunjuk.”Esti kelepasan dan melompat girang.

“Sssstttth” jangan gaduh, sekecil apapun suara bisa saja terdengar oleh mereka. Kita mesti waspada.

Dari arah cukup jauh muncul semacam suara - suara gemerincing, juga kadang jeritan tangis yang tiba - tiba pecah.

“Kita tidak boleh terkecoh dengan arah suara itu, ikuti petunjuk yang sesuai instruksi Esti.”

Mereka mulai mengikuti Esti dari belakang. Dengan pelan namun pasti mereka menemukan petunjuk sampai disebuah gerbang yang disamarkan. Gerbang itu bukan dari pagar tinggi itu melainkan masuk ke lorong tanah, seperti jalan tikus. Tapi lorong itu memang cukup tinggi sehingga orang bisa lari cukup cepat dari situ.

Esti mencoba mengingat apakah lantas mereka menimbun jalan rahasianya atau mereka membiarkannya. Ternyata pikiran mereka tidak cukup lantip. Jalan itu masih utuh. Namun sebelum masuk Prabangkara memastikan jalan yang dilaluinya sudah aman, tidak lagi dipagari semacam tenung ataupun jebakan dari orang pintar yang tidak ingin daerahnya diketahui orang umum.

Rupanya perhitungan para pengawal tempat itu tidak cukup cermat. Bertiga akhirnya bisa masuk dan menyusur jalan rahasia itu. Setelah sampai ke gerbang masuk berikutnya, mereka memastikan dahulu tidak ada orang yang melihat mereka menyelinap masuk ke daerah tersebut.

Yang pertama kali keluar Prabangkara. Setelah memberi kode aman dengan kode suara burung, Mbah Sambung dan Esti Pinilah keluar dari lorong itu. Mereka bergeser ke tempat yang aman. Prabangkara memastikan bahwa mereka tidak terjebak dengan tempat - tempat yang sudah dipagari ilmu. Dari suasana gelap itu Mbah Sambung mulai merasakan aroma makhluk astral yang tampak berseliweran di dekatnya.

Ia mulai melihat perempuan - perempuan dengan muka pucat berlinangan air mata darah. Wajah mereka sendu seperti tertekan. Prabangkara terus melangkah maju diikuti oleh Esti Pinilih yang tampak tegang melihat suasana tempat itu yang hampir saja melenyapkan nyawanya.

Suara burung hantu sesekali terdengar, namun dari jarak kurang lebih 100 langkah terdengar bunyi tetabuhan semacam kendang dengan irama ritmis terus dibunyikan. Suara - suara itu seperti mengiring ritual sesaji pada iblis untuk mempersembahkan perawan ting- ting yang akan menjadi sesajinya.

Prabangkara, memberi isyarat dengan jari ke mulutnya. Sebab Esti mulai cukup panik melihat suara - suara yang menggema itu.

“Kamu di sini, jangan maju dulu, kalau sudah aku beri kode begini baru bergerak maju. Mengerti?” Prabangkara membisiki Esti yang tampak gelagapan ketika Prabangkara benar – benar dekat dengan dirinya.”

Dengan terbata- bata Esti menjawab.”Ya”

 

Prabangkara maju. Dengan kewaspadaan tinggi ia melangkah ke depan.Ia berhenti sejenak ketika ada suara langkah kaki berat mendekat ke arahnya. Dengan cekatan ia bersembunyi dibalik pepohonan. Orang - orang itu semakin dekat. Dengan mengecoh dan memecah konsentrasi orang - orang itu, Prabangkara melempar ranting ke kecil ke arah kiri dari tempatnya bersembunyi.

Orang – orang itu lantas bergerak kea rah ranting yang jatuh itu.

“ Ssst.. Kamu. Gaprul tetap di sini. Aku Sama Rompal mau ke depan. Sepertinya ada bau - bau manusia luar yang menyelinap ke sini. “

Gaprul yang diam di dekat persembunyiannya langsung diserang menggunakan tulup atau semancam senjata sumpit Kalimantan. Prabangkara membuat senjata tulup itu dengan batang bambu kecil. Batang kayu itu lantas diisi dengan besi - besi kecil yang dibubuhkan racun ular kobra. Prabangkara mengarahkan ke titik tertentu di dekat leher orang – orang yang disebut Gaprul. Dalam hitungan tubuh Gaprul roboh kena serangan Prabangkara yang tepat ke totokan yang membuat ia langsung kaku, susah bergerak.

Prabangkara segera menangkap tubuh gaprul yang gendut dengan perut membucit. Ia memastikan suara gaprul waktu jatuh tidak terdengar. Lalu ia menyeret Gaprul ke balik semak - semak.

Beberapa orang itu lantas balik lagi dan melihat Gaprul tidak ditempat.

“Gaprul, kamu ke mana. Jangan bercanda, main sembunyi- sembunyi segala.”

“Satu orang yang ada di belakang tiba - tiba roboh.”

“Heeh Satru, kenapa kamu?”

Satru yang roboh tiba - tiba membuat sisa teman mereka yang berjumlah 4 waspada luar biasa. Mereka lantas pasang kuda – kuda dan matanya jelalatan ke kanan dan ke kiri.

Sementara dari tempat persembunyiannya Prabangkara menahan diri sebentar.Namun ia tidak ingin mereka memberi kode memanggil bala bantuan, maka dengan cepat ia menyerang dua orang yang ada di belakang.

Hampir tidak ada orang yang menyangka ada serangan tiba - tiba tanpa suara. Maka dua orang segera roboh dan dengan cepat Prabangkara melompat dan menyerang dua orang lain dengan serangan cepat. Dengan satu dua gerakan orang - orang itu sudah bisa dilumpuhkan.

Tapi ternyata ada satu orang yang sempat mengirimkan sandi pada temannya sehingga muncul suara gaduh menuju ke tempat mereka dirobohkan oleh serangan cepat seseorang dari balik persembunyian.

Mengetahui bahwa ada bahaya mengancam Prabangkara mendekat ke arah Esti dan Mbah Sambung. Mereka kemudian menyingkir ke balik pohon. Sebelumnya Prabangkara berhasil melucuti baju dua orang yang sudah ia lumpuhkan. Rencananya ia akan memakainya dengan menyelusup ke orang - orang yang ramai ramai mendekat ke arah mereka.

Prabangkara mengganti bajunya dengan baju para preman penjaga.

“Jangan keluar dulu.”

Kerumunan orang itu datang. Mereka mendapati teman - temannya sudah roboh. Lalu mereka berpencar untuk mencari teman lainnya yang lenyap. Dalam kerumunan itu tanpa diketahui Prabangkara sudah menyelusup diantara mereka. Prabangkara berlagak seperti mereka yang mencari temannya.Setelah lama tidak ketemu mereka lantas membawa temannya yang sudah terkena tulup itu. Sementara ada sekitar 4 orang berjaga di tempat itu. Prabangkara mengikuti mereka yang kembali ke depan.

Bagaimana, apakah Prabangkara mampu menghentikan upacara itu…

Bersambung.