Now Loading

Sofia dan Sarah

Sehabis mengantar Zai kembali ke hotel, Saya langsung mengendarai Land Cruiser hitam saya secepat kilat pulang ke rumah di Kampong Burong Pingai di Kawasan Berakas.  Sudah hampir pukul 10 malam dan jalan-jalan di BSB sudah sepi. Dalam waktu sekitar 10 menit saya sudah tiba di rumah.

“MasGiri, ayo cepat ke hospital, suhu Sofia makin panas dan dia mulai meracau”, Titiek, istriku menyambut di depan pintu. Dia sendiri sudah siap berangkat sambil juga menggendong Sarah, putri kedua yang baru berusia 1 tahun dua bulan sementara  Sofia sendiri masih tertidur di kamar sambil terus meracau.

Saya hanya sebentar mampir ke kamar mandi untuk mencuci muka dan tangan. Lalu ke kamar Sofia, sejenak saya memegang dahinya dan terkejut karena panasnya tinggi sekali. Saya segera menggendongnya dan membawanya ke mobil. Titiek ikut dengan membawa Sarah. Apa boleh buat, Mbok Minah, asisten rumah tangga yang kami bawa dari kampung  di Jawa sedang pulang kampung selama dua minggu ini.

Dengan cepat saya kembali memacu kendaraan langsung menuju Hospital RIPAS alias Rumah sakit Raja Istri Pengiran Anak Saleha, yang merupakan nama istri Sultan Bolkiah. Jalan yang sepi membuat perjalanan hanya kurang dari 10 menit. Saya menghentikan kendaraan saya di depan Instalasi Gawat Darurat dan dengan cepat Sofia sudah ditangani perawat dan dokter.

“Kami belum bisa menentukan penyebab sakit anak bapak” demikian kata dokter. Dokter juga menjelaskan bahwa masih  ada beberapa tes laboratorium untuk menentukan penyakitnya. Namun karena panas badannya sangat tinggi dan dikhawatirkan demam Dengue maka Sofia akhirnya dirawat di rumah sakit. Istri sudah siap dengan pakaian dan baju untuk ikut menginap sementara Sarah dan saya harus pulang ke rumah.

Sekitar  pukul 12 malam, baru saya dan Sarah tiba di rumah. Sarah sendiri sudah tertidur pulas dan saya meletakkan putri mungil itu di kamarnya. Saya segera kembali ke kamar, merebahkan tubuh saya yang lelah dan akhirnya tidak lama kemudian saya pun tertidur.

Hari masih pagi sekitar pukul 6 ketika saya mendengar tangis Sarah dari kamarnya. Mungkin dia lapar atau pipis dan saya pun siap untuk memandikan anak usia 14 bulan itu. Putri yang belum lama baru bisa berjalan dan sedang belajar bicara.

Alangkah terkejutnya saya ketika memegang tubuh Sarah, ternyata badan dan terutama dahi nya juga sangat panas mirip dengan apa yang terjadi pada Sofia kemarin malam. Saya tidak punya pilihan lain. Segera mengirim pesan singkat ke  bos minta cuti mendadak untuk beberapa hari ke depan ini. Setelah itu, Saya langsung melesat kembali ke Hospital untuk membawa Sarah ke dokter dan sekaligus menjenguk Sofia.

Titiek sangat terpukul ketika mengetahui si mungil Sarah juga ikut sakit. Dan anehnya diagnosa dokter juga mirip, panas tinggi dan harus dirawat dengan dugaan sementara deman Dengue.

Titek akhirnya minta izin pulang sebentar ke rumah untuk mengambil pakaian Sarah dan juga Sofia serta membawa pakaian yang sudah kotor. Dia berjanji untuk nanti siang kembali ke rumah sakit. Akhirnya kami suami istri bergantian menjaga dua putri kecil yang sedang sakit.

Siangnya saya mendapat kabar dari dokter bahwa Sofia tidak terkena demam Dengue dan diduga terkena virus yang belum diketahui. Panasnya juga sudah sedikit menurun, namun sesekali naik tinggi. Sementara masih menunggu beberapa jam lagi untuk hasil laboratorium untuk Sarah.

Yang jelas karena sakitnya kedua putri saya, urusan Bang Zai dan penyelidikan Muallif serta rencana-rencana yang sudah disusun di dalam benak menjadi luluh lantak semua.

Bersambung